Wednesday, December 29, 2010
I do love walking!
Mungkin memang sudah bawaan dari orok, saya lebih suka yang namanya jalan daripada berlari, bahkan berdiri. Kalau saya disuruh upacara, saya memohon-mohon untuk bisa pingsan, tapi tetap tidak bisa pingsan juga. Dari pada disuruh berdiri, saya lebih suka di suruh jalan keliling alun-alun atau Malioboro. Tapi, asalkan tidak lari, ngos-ngosan je!
Saya bukan orang anti naik kendaraan cepat. Tentu saja di saat tertentu, naik kendaraan lebih saya prioritaskan ketimbang jalan kaki. Tetapi di saat tertentu pula saya butuh jalan kaki saat jalan-jalan. Sebab selain bisa ngirit ongkos kendaraan, saya juga jadi lebih melihat banyak hal yang menarik menurut saya.
Misalnya ketika di Bangkok, saya bela-belain jalan kaki dari Kao San Road ke Wat Arun. Saya pikir tidak terlalu jauh mengingat dengan jalan kaki pula saya ke Wat Pho dan Wat Phra Kaeo. Lagi pula banyak yang bilang Wat Arun sudah nampak dari Sungai Chao Praya. Iya sih, kalau naik boat lebih dekat tinggal menyeberang saja. Tapi kalau jalan kaki? Dari Kao San Road masih melewati pasar, menyeberang jembatan, berputar menyusuri jembatan, setelah itu berbalik arah, maka baru sampai di Wat Arun. Nah! Sekitar 1,5 jam kemudian saya baru sampai di Wat Arun.
Tapi saya menemukan banyak hal yang menarik di jalan-jalan ini, salah satunya adalah restaurant seafood muslim yang dengan menunya yang bikin lidah minta lagi. Harganya? Soooo murah. Saya juga menemukan sebuah masjid, dan langsung bertaubat di sana, he he he… Dan memang lebih asoy ketika bisa menemukan Tuhan di mana pun saya berada.
Di Wat Arun, saya menemukan kejutan lagi. Selama saya di Bangkok beberapa hari, saya tidak bertemu dengan orang sebangsa. Herannya saya malah bertemu di sini. Wah senangnya, ketemu Mbak Ari, Mas Yudi, dan Mbak Yulia! Entah mengapa, baru bertemu dengan mereka, rasanya sudah seperti kawan lama saja. Sampai sekarang kami masih keep in contact dan menantikan petualangan selanjutnya.
Di Singapura, ketika saya tersesat di entah jalan apa, saya bertemu dengan cewek Thailand. Kalau yang ini ampun deh, bukan apa-apa, saya memang gemar jalan kaki dan get lost in somewhere, tapi kalau jalan cepat. I will say no! Kapok saya jalan kaki sama dia. Saya harus mengimbangi jalannya yang super cepat itu dan esok harinya, kaki saya sama sekali tidak bisa digerakkan. Rugi sehari deh di Singapura…
Baru-baru ini, saya jalan kaki di kota saya sendiri bersama seorang kawan, Eka. Tidak jauh sih, dari Tugu sampai kantor saya di daerah Kuncen. Sebenarnya ini adalah kebodohan saya mengapa saya harus jalan kaki, tapi karena saya lama tidak jalan-jalan, saya pun memutuskan untuk jalan.
Dan, saya menemukan kegembiraan. Rupanya saya rindu jalan kaki. Saya rindu berhenti menikmati kalimat yang lucu di sebuah spanduk, saya rindu bertemu dengan mbok-mbok jamu dan minum jamu, saya rindu jalan kaki. Namun sayang, di Jogja tidak banyak disediakan tempat untuk pejalan kaki, karena sudah direbut para pedagang juga untuk parkir kendaraan. Kalau pun tampak bersih, pasti ada bau-bau pesing yang mengganggu penciuman.
Untuk tempat jalan kaki paling bersahabat, saya masih memilih Singapura; nyaman, bersih, dan kotanya yang kecil sehingga tempat tujuan terasa lebih dekat (selain itu didukung oleh transportasi yang baik), jadi sangat nikmat untuk jalan kaki. Kalau kamu?
Read more...
Wednesday, December 15, 2010
Lautan Abu-abu yang Menyentuh Rasa Kemanusiaan
Pangukrejo, 15 Desember 2010
Jika seseorang pergi ke tanah suci untuk tersentuh hatinya agar lebih dekat dengan Tuhan. Maka jika pergi ke daerah bencana jangan hanya melihat-lihat saja. Sebab di sebuah tempat bencana, kita akan lebih menggali rasa kemanusiaan untuk lebih dekat dengan manusia lain.
Menyaksikan suasana lereng Gunung Merapi saat ini, terutama di Desa Umbulharjo, Kepuharjo, dan Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, tidak menyangka jika tempat tersebut pernah menjadi saksi bisu hilangnya ratusan nyawa akibat awan panas di penghujung Oktober dan awal November 2010 lalu. Pasalnya, tempat ini sekarang jadi dikunjungi banyak orang yang penasaran dengan kondisi wilayah yang terkena awan panas.
Jika sempat menyaksikan di televisi, di tempat itu pernah ada tangisan dan raut wajah ketakutan. Ada yang kehilangan keluarga, rumah, sapi, dan tentu saja kehidupan dan penghidupan mereka.
Sekarang suasana sudah lain. Tak ada lagi jerit pilu atau ketakutan, malahan raut wajah takjub dan decak kecil yang terdengar dari pengunjung yang datang mengunjungi Kecamatan Cangkringan. Mereka takjub menyaksikan dusun-dusun yang telah menjadi lautan abu-abu dengan puing-puing rumah dan batang pohon yang terbakar. Sementara Gunung Merapi menjadi latar belakang pemandangan tersebut. Gagah. Dan masih menyimpan misteri.
Di tahun 2006, wisata "Lava Tour" pernah menggeliat. Di tahun tersebut Merapi pernah meletus dan membuat kawasan Kaliadem di Kepuharjo, menjadi tak jauh berbeda dengan erupsi 2010. Seiring dengan membaiknya perekonomian masyarakat dan ekosistem di sekitar Merapi, kegiatan ini seolah terhenti. Namun, berangkat dari kebutuhan pemenuhan hidup akibat erupsi Merapi di 2010, wisata ini dihidupkan kembali dengan nama baru, Wisata Alam Erupsi Merapi 2010.
Jika hari cerah, Gunung Merapi tampak gagah sejak pengunjung mendekati dengan kawasan ini. Awan putih perlahan keluar dari puncaknya yang merekah. Sampai di Dusun Pangukrejo, sudah ada loket tiket untuk masuk ke Wisata Alam Erupsi Merapi 2010. Di sini, pengunjung harus membayar karcis retribusi sebesar Rp. 5000,- per orang, belum lagi yang membawa kendaraan, akan berbeda tarifnya. Dalam sehari minimal 1000 lembar tiket habis terjual.

Setelah melewati portal yang tepat berada di tugu dusun, maka sudah terhampar lautan debu dan pasir vulkanik lengkap dengan puing batang pohon dan rumah-rumah. Namun pengunjung tidak perlu susah untuk melihat yang mana rumah Mbah Marijan, atau penduduk lain. Sebab sudah ada pemandu yang siap sedia mengantarkan pengunjung berkeliling sampai puas.
Heri Haryanto misalnya, pemandu berusia 26 tahun ini adalah waga dusun Pangukrejo yang rumahnya tinggal fondasi saja. Sejak Merapi diturunkan statusnya menjadi siaga, ia pun siap sedia menjadi pemandu di kawasan ini. Dialah yang kemudian menunjukkan jalan ke rumah Mbah Marijan di Kinahrejo, juga rumahnya yang ia sendiri tidak tega meniliknya.
Heri tak sendiri, masih ada pemuda-pemudi tiga desa lainnya yang turut memanajemen Wisata Alam Erupsi Merapi 2010 ini. Mereka kemudian menempatkan diri pada tugas masing-masing. Ada yang menarik karcis retribusi, ada yang menjadi petugas parkir, dan ada yang menjadi seperti Heri, pemandu wisata.
Di tangan para pemuda ini, dalam sehari mereka memandu 4-5 kelompok dengan tarif Rp. 20.000,- untuk sekali tur. Misal ada orang ingin tur dengan fasilitas sepeda motor, maka tarifnya ditambah lagi menjadi Rp. 20.000,-, sekedar mengganti bensin.
“Banyak yang minta diantar ke rumah Mbah Marijan,” ungkap Heri sambil menunjuk rumah Mbah Marijan di dusun teratas, Kinahrejo, satu kilometer dari tempatnya berdiri.
Jika para pemuda mengelola tempat wisata tersebut, maka para ibu dan bapak kemudian menggelar dagangan untuk memenuhi kebutuhan para pengunjung. Sukasmi misalnya, ibu 45 tahun ini berdagang makanan dan minuman ringan di kawasan ini. Oleh seseorang dia diberi modal berjualan, dan mau tidak mau dia terima juga.
“Biasanya saya mencari rumput untuk makan sapi, sekarang rumah sudah habis, sapi juga sudah mati semua. Dengan jualan ada pemasukan sedikit-sedikit,” katanya sambil menawarkan minuman botol.
Jumlah pengunjung pun melonjak. Dalam satu hari, "Lava Tour" ini bisa menghabiskan 1000 lembar tiket. Hasilnya, sebagian disetor ke Pemerintah Provinsi DIY, sementara sisanya dikumpulkan untuk kemudian dibagi rata pada seluruh warga terdampak langsung dan terdampak tidak langsung di Umbulharjo.
Ini memang sebuah ironi yang harus dihadapi oleh Heri dan Sukasmi. Masih banyak Heri dan Sukasmi lain yang mencari penghidupan seperti ini tanpa harus meminta. Meskipun di antara keterpaksaan mengandalkan tempat yang meninggalkan trauma dengan penghidupan yang merupakan mata pencaharian mereka yang telah hilang.(*)
*terima kasih atas atensi untuk tulisan ini :) Read more...
Thursday, October 7, 2010
Mural Sudjojono di Tembok Gedung Agung
Istana Presiden RI Jogjakarta atau Gedung Agung adalah salah satu favorit saya, meskipun saya sendiri belum pernah berkunjung ke Istana Presiden RI lain. Tetapi dibandingkan dengan beberapa istana presiden negara lain yang pernah saya kunjungi, istana ini yang menurut saya, bisa berakulturasi dengan budaya urban.
Well, ketika tulisan ini dibuat, saya baru dua kali menginjakkan kaki di Gedung Agung, ngobok-ngobok dalam istananya. Yang pertama tahun 2009, kemudian yang kedua tahun 2010.
Tahun 2009, Gedung Agung mungkin hampir sama dengan istana presiden lain, sebagai tempat presiden dengan beragam ubo rampe yang tentu saja hanya bisa dinikmati oleh presiden dan kolega-koleganya.
Namun saya mendengar kabar baik dari teman sekaligus narasumber saya, mas Mikke Susanto, bahwa Gedung Agung akan dibuat museum yang di dalamnya memamerkan benda-benda koleksi istana dari enam istana kepresidenan yang tercatat, Istana Negara, Istana Merdeka di Jakarta, Istana Bogor di Bogor, Istana Cipanas di Cipanas, Istana Tampaksiring di Bali dan Istana Gedung Agung di Jogja sendiri.
Maka saya pun tak sabar untuk segera masuk ke dalam Museum Istana Jogja (nama museum di dalam Gedung Agung). Barulah satu tahun kemudian, saya berkesempatan untuk berkunjung ke Gedung Agung lagi. Maklum, saya orang biasa dan tidak bisa sembarangan keluar masuk Istana Negara.
Saya memang belum pernah mengunjungi Istana Presiden RI lain, tapi saya yakin, hanya Istana Presiden di Jogja saja yang ada muralnya! Jogja memang dikenal sebagai kota seni, tak heran jika mural ada di tembok-tembok bangunan di Jogja. Namun, siapa sangka kalau mural itu bisa tervisualisasikan di tembok istana? Ya hanya di Jogja! Jogja memang istimewa!
Mural ini terletak di Museum Istana Jogjakarta Ruang Pamer I. Tepatnya di tembok tangga naik menuju lantai atas Ruang Pamer I. Ruang pamer di Museum Istana Jogjakarta sendiri ada dua tempat, yaitu Ruang Pamer I dan Ruang Pamer Utama. Selain mural, di Ruang Pamer I ini, terdapat lukisan-lukisan lama dari maestro lukis Indonesia, seperti Affandi dengan Adu Ayam, Soerono dengan Dr. Cipto Mangun Kusumo, juga ada lukisan Raden Saleh berjudul Berburu Banteng.
Mas Mikke dan M Yusuf merupakan konseptor mural ini, dipoles melalui tangan-tangan seniman Jogja seperti M Yusuf, Dodi Irwandi, Kadar dan Sabar Parjio. Mural ini hadir dengan gambar yang diadaptasi dari karya pelukis S. Sudjojono berjudul Maka Lahirlah Angkatan ’66 dan potongan lukisan yang ada di Istana Presiden, misalnya lukisan karya Itji Tarmidji.
Maka Lahirlah Angkatan ’66 merupakan karya Sudjojono yang bergambar laki-laki berbaju merah putih dengan lengan disingsingkan sambil memegang kuas. Laki-laki tersebut menyiratkan semangat pemuda era 60-an, yang bersahaja, dewasa dan progresif dalam bersikap. Mural di antara dua lantai ini juga menandakan untuk menyambung sekaligus memisahkan ide irisan sejarah, nasionalisme masa revolusi di lantai bawah dan nasionalisme masa pembangunan di lantai atas.
Yang pasti, mural ini paling mencolok di antara benda-benda yang lain. Apalagi pakaian yang dipakai berwarna merah. Wah! Tembok pun jadi cerah dan membuat siapapun bersemangat pantang menyerah usai melihatnya.
Sedang di Ruang Pamer Utama, para pengunjung bisa melihat-lihat lukisan karya Abay B Subarna Bapak Ir Soekarno, lukisan Presiden Soeharto dan Ibu Tien dalam karya Basoeki Abdullah, Rudolf Bonnet Penggembala Kambing di Italia, Willem Andrian Naik Kuda, dan masih banyak benda lain yang bisa dinikmati.
Saya mengharapkan bisa berlama-lama berada di museum, namun sayang jam berkunjung masih terbatas sehingga tidak bisa leluasa mengamati benda-benda di dalamnya. Masalahnya, di larang memotret di dalam sini. Jadi harus disimpan di dalam ingatan benda-benda di sini, apalagi muralnya!
Museum ini juga belum secara resmi diresmikan oleh Presiden, dan belum pasti juga apakah nantinya museum ini akan terbuka untuk umum, atau hanya pada saat-saat tertentu saja. Ah, ya, yang penting rasa penasaran saya sudah terpenuhi. By the way, saya jadi penasaran, Pak SBY sudah lihat belum ya mural lukisan Sudjojono itu?
Ps. Karena dilarang memotret (kalaupun memotret tidak boleh diterbitkan untuk umum), jadi maaf kalau hanya foto saya yang narsis di depan Gedung Agung.
Read more...
Tuesday, October 5, 2010
Mengunjungi Rusa di Halaman Kantor B2P3KS
Halaman B2P3KS yang terletak di Jl. Kesejahteraan Sosial, Nitipuran, Jogjakarta, penuh dengan rusa. Saya baru tahu dari Facebook salah seorang teman, bahwa di kantor ini banyak rusa. Padahal letak kantor ini tidak jauh dari rumah saya. Dan mereka berada di sana sejak tahun 1994 (saya sendiri baru menempati rumah sekarang sejak 2006 dan berada di Jogja sejak 1999, dan saya tidak tahu bahwa ada rusa di sana).
Rusa-rusa ini memang sengaja dipelihara oleh badan ini agar taman tampak lebih indah dan membuat suasana kondusif di kantor ini. Begitulah cerita Drs. Pranowo, Kepala Bidang Standarisasi dan Sosialisasi Sistem Pelayanan Kesejahteraan Sosial pada B2P3KS Jogja, yang sempat saya temui karena saya penasaran dengan keberadaan rusa-rusa ini.
Untuk memelihara rusa ini memang bukan perkara gampang. Banyak syarat yang harus dipenuhi agar disetujui oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA). Halaman seluas 3,9 hektar dirasa cukup untuk memelihara rusa. Akhirnya sepasang rusa yang diambil dari Kebun Binatang Gembiraloka pun diijinkan untuk tinggal di kantor ini.
Persyaratan lain adalah memiliki lahan yang cukup, minimal 20x20 meter, lahan tersebut juga harus sudah dipagari minimal 2 meter agar rusa tidak bisa melompat. Ada sumber air dan makanan yang cukup, juga kesungguhan untuk konservasi, bukan untuk jadi hewan ternak. Untuk itulah Balai KSDA akan meninjau rusa yang dipelihara secara pribadi setiap tiga bulan sekali, buat berjaga-jaga rusa tersebut tidak masuk ke dalam perut.
Maka Alberto dan Bella, begitu Pranowo menamai sepasang rusa tersebut, sekarang sudah berjumlah 24 ekor. Sepasang rusa jenis Afrika tersebut memang sudah dalam pembibitan terlebih dahulu di Kebun Binatang Gembiraloka. Sehingga seminggu setelah dipelihara di B2P3KS, lahirlah anak Alberto dan Bella.
Rusa-rusa ini hidup secara alami di halaman B2P3KS, juga berkembang alami. Mereka memang sengaja dibiarkan liar, namun tetap bersahabat. Pihak B2P3KS tidak secara khusus mengamati rusa-rusa tersebut, sebab makanan sudah tersedia, misalnya rerumputan, daun angsana dan daun mandingan yang paling diminati rusa. Kadang-kadang mereka diberi umbi-umbian untuk vitamin mereka, misalnya wortel dan ketela.
Lucunya, keberadaan rusa yang semula ingin membuat variasi taman, namun taman pun jadi tidak berkembang sebab daunnya dimakan rusa.
“Ya itu konsekuensi memelihara rusa. Kalau ada tanaman yang pendek-pendek dan rusa doyan, pasti dimakan. Jadi kalau mau bikin taman tidak berkembang. Begitu juga pohon, sebab rusa jantan suka mengasah tanduknya di batang pohon, sehingga kadang banyak pohon yang luka dan tumbang. Tapi pohon jati aman di sini, mungkin karena batangnya yang lebih kuat dari pada pohon lain,” tambah Subandio, selaku staff umum di B2P3KS yang juga turut memperhatikan pemeliharaan rusa-rusa ini.
Tentu saja keberadaan rusa-rusa ini menarik masyarakat sekitar Nitipuran. Apalagi para orang tua sering mengajak anak-anaknya untuk sekedar melihat rusa sambil menyuapi, atau hanya untuk berfoto bersama rusa saja.
“Masyarakat boleh melihat rusa di sini. Biasanya paling ramai jam pulang kantor antara jam 3 hingga jam 5. Biasanya ibu-ibu yang sedang mengasuh anaknya datang ke sini. Biasanya mereka juga membawakan rusa-rusa tersebut makanan,” ujar Bandi, sapaan akrab Subandio.
Pada akhirnya B2P3KS secara tidak langsung juga memberikan pelayanan pembelajaran bagi masyarakat selain sebagai tempat konservasi. Sebagai tempat konservasi, induk rusa yang bernama Bella sudah berada di Purworejo dan ditangani oleh Balai KSDA Jawa Tengah. Ah, seandainya banyak tempat publik yang digunakan untuk hal-hal bermanfaat, alangkah indahnya kota Jogja ini.
ps. Tak sulit untuk melihat rusa di kantor ini, hanya datang saja, lapor satpam, dan jangan lupa membawa umbi-umbian untuk vitamin si rusa :)
*artikel ini dimuat di Radar Jogja, 5 Oktober 2010, diedit sesuai dengan blog ini
Read more...
Sunday, September 12, 2010
Gerbong Khusus Wanita

Ketika gerbong khusus perempuan kereta pada KA komuter Prambanan Ekspres (Prameks) rute Jogja-Solo diluncurkan pada 4 September 2010 lalu, banyak perempuan-perempuan yang senang. Tak akan ada lagi berdesak-desakan dengan penumpang laki-laki, sehingga tanpa sengaja tersentuh bagian-bagian yang sensitif.
Saya pun tanpa sengaja naik gerbong ini pada Lebaran ke dua 2010. Maklum saya bukan orang Jogja yang ke Solo setiap hari, hanya jika ada kunjungan keluarga saja saya ke Solo. Oleh petugas kereta ini, saya langsung dipersilakan masuk ke gerbong pertama, gerbong khusus perempuan.
Tidak ada yang berbeda dengan gerbong lain, hanya saja dalam gerbong ini terdapat tanda “Gerbong Khusus Wanita” dengan simbol perempuan menggunakan rok. Perempuan membawa anak-anak baik itu anak laki-laki maupun perempuan diperbolehkan di gerbong ini. Perempuan dan laki-laki dewasa tidak diperbolehkan. Apalagi laki-laki dewasa, langsung dipersilakan untuk duduk di gerbong lain.
Namun ketika saya berada dalam gerbong tersebut, masih ada saja laki-laki yang duduk di gerbong ini. Mungkin dia tidak bisa membaca tanda, atau mungkin karena melihat banyak perempuan dan ingin menggoda beberapa di antaranya.
Yang jelas, kehadiran laki-laki di dalam gerbong ini seperti alien. Karena yang lain, tentu saja perempuan. Beberapa di antaranya kurang nyaman dengan kehadiran laki-laki di gerbong itu, tapi entah mengapa tidak ada yang menegurnya. Mungkin sudah kebacut, terlanjur, karena kereta penuh. Ah! Selalu saja peraturan itu dilanggar (saya sendiri lebih memilih memperhatikan kegiatan penumpang dan belajar memotret, alias cuek).
Saya sendiri merasa lebih nyaman di dalam gerbong ini karena tidak harus berdesak-desakan dengan laki-laki. Apalagi kereta Prameks Jogja-Solo maupun sebaliknya pasti penuh. Saya menyambut senang kehadiran gerbong khusus perempuan ini. Apalagi perempuan yang sering bepergian bolak balik Jogja-Solo seorang diri, gerbong ini cukup membantu perempuan merasa nyaman dan aman. Mungkin akan menyusul gerbong ini di kereta lain.
Seandainya (Duduk di Gerbong Khusus Perempuan)
Read more...
Tuesday, August 3, 2010
Upin & Ipin, Budak-Budak Banda Yatim Piatu karena Deadline

Jika mendengar Upin dan Ipin, terbayang sosok bocah kembar asal Malaysia. Kemudian kata ‘betul’ yang diucapkan berulang kali pun menjadikan kedua sosok bocah itu lebih terkenal. Animasinya cukup digemari di Indonesia, bahkan merchandise-nya telah banyak di pasaran.
Saya pun membayangkan siapakah dia yang menciptakan animasi Upin dan Ipin itu. Saya membayangkan sosok yang pendek dan botak, seperti pula Upin dan Ipin.
Ketika ada sebuah workshop internasional di Jogja, saya pun berkesempatan menginterview dengan salah seorang creator bocah-bocah itu. Namanya Muhammad Usamah Zaid selaku Creative Director Upin dan Ipin yang bernaung di bawah studio Les' Copaque. Sosoknya? Jauh dari bayangan saya sebelumnya. Bukan laki-laki pendek dan botak, tapi laki-laki dengan tinggi rata-rata dan berambut banyak, juga bergigi putih. Usianya juga masih relatif muda, kelahiran akhir 1983. Ramah dan senang bercerita.
Zaid(panggilan akrabnya)kemudian bercerita tentang awal mula bagaimana ia dan kedua temannya, Mohd Nizam Abdul Razak dan Mohd Safwan Abdul Karim menciptakan Upin dan Ipin. Mungkin saya tidak perlu lagi menuliskan bagaimana Upin dan Ipin itu menjadi animasi yang paling ditunggu saat ini, sebab sudah banyak yang menuliskan sejarahnya di media cetak, online maupun televisi. Tinggal search saja.
Tapi rupanya banyak yang belum saya ketahui dari media-media tersebut. Misalnya saja ketika Zaid bercerita bahwa Upin dan Ipin mulanya bukanlah karakter utama dalam animasi itu. Dia bilang kalau dia dan teman-temannya hanya ingin membuat cerita tentang ‘budak-budak banda’ (bahasa Malaysia), yang kemudian saya artikan sebagai anak-anak kampung. Maaf kalau saya salah mengartikan.
“Mulanya Upin dan Ipin adalah karakter sampingan, bukan karakter utama. Waktu mau buat mini seri belum tahu karakteristiknya bagaimana. Tapi kami ingin membuat cerita tentang budak-budak banda yang ada di Kampung Durian Runtuh. Kenakalan mereka dan lain sebagainya,” begitu cerita Zaid.
Setelah ide tentang budak-budak banda tersebut, Zaid dan teman-temannya pun segera menggarap cerita Upin dan Ipin, yang nama mereka muncul begitu saja di benaknya. Deadline pun semakin dekat, Upin dan Ipin harus segera selesai. Namun, Upin dan Ipin belum selesai, mereka tidak memiliki ayah dan ibu! Sehingga Zaid dan teman-temannya memutuskan agar mereka ini adalah anak yatim piatu yang tinggal bersama Opah dan Kak Ros.
Jadi, itulah sebabanya mengapa Upin dan Ipin yatim piatu, karena Zaid dan teman-temannya sudah keburu deadline. Tapi si Zaid ini tidak kehabisan akal, sebab karena keadaan Upin dan Ipin yang yatim piatu, maka ini memberikan alasan bagi Zaid agar penonton turut prihatin dengan keadaan mereka yang tidak berayah, tidak beribu.
Aih! Memang orang kalau sedang kepepet, muncul saja ide-ide kreatifnya. Seperti juga saya yang baru bisa menulis jika deadline sudah dekat, he he he…
By the way, Zaid, thank you for the interview. Sukses selalu untukmu, juga Upin dan Ipin semakin dicintai penonton. Mudah-mudahan selalu ada ide kreatif yang bermanfaat untuk seluruh masyarakat. Betul, betul, betul?
Read more...
Saturday, July 31, 2010
Kali Oya, Miniatur Sungai Kuning
+copy.jpg)
Gunungkidul identik dengan kawasan kering. Namun, jika melihat Sungai Oya yang alirannya melewati Desa Wisata Bleberan, citra kering tersebut sama sekali tidak tampak. Persawahan nan hijau dengan hutan yang cukup rapat, ditambah dengan suara air terjun Sri Gethuk, menambah kemewahan yang telah disediakan oleh alam.
Saya sangat senang ketika sampai di tempat ini. Sebab sudah sejak lama saya mencari air terjun, dan ternyata saya menemukannya di Gunungkidul! Ini pertama kalinya saya melihat air terjun, meski tingginya hanya 50 meter. Berlebihan jika saya katakan inilah pertama kalinya? Tidak juga, ini memang pertama kalinya, maklum, sepuluh tahun lebih saya tinggal di pesisiran jadi jarang menjumpai air terjun.
Sungai Oya sudah menanti untuk ditelusuri. Di sungai berwarna air hijau ini, terdapat air terjun Sri Gethuk yang oleh masyarakat lokal diberinama Slempret.
Wilayahnya dikelilingi oleh area persawahan terasering nan hijau. Pepohonan yang cukup rapat sehingga meneduhkan para pejalan kaki. Suara air terjun pun sudah terdengar, memecah setiap keheningan di Bleberan.
Tim SAR Gunungkidul sudah menyambut saya untuk menyusuri Sungai Oya. Dengan ramah mereka meminjamkan saya pelampung keselematan yang berwarna oranye itu dan menyilakan untuk naik ke boat.
Wow! Begitulah, sempat tak percaya disediakan alam seperti ini di Gunungkidul. Beberapa tim SAR berenang dengan tenang di air sungai itu. Rasanya saya ingin menceburkan diri juga ke dalam sungai, namun mengingat tidak ada persiapan berbasah-basahan niat itu saya urungkan. Lalu boat pun menuju ke tempat air terjun Sri Gethuk memancarkan air yang tak ada habis-habisnya.
Sebenarnya air terjun ini bisa juga dituju dengan berjalan kaki sejauh 450 meter dengan jalan naik turun yang melelahkan. Namun menyusuri Sungai Oya menggunakan boat atau gethek, lebih menarik. Bisa melihat sisi kiri kanan, dengan tebing dan juga bebatuan yang tak kalah menarik. Kamera tidak akan pernah lepas untuk memotret pemandangannya.
Sri Gethuk sudah di depan mata, airnya berasal dari mata air di desa Bleberan. Bebatuan di bawah air terjun ini membentuk undak-undakan dengan akhir yang seperti kolam renang para putri raja. Bayangkan jika di atas undak-undakan batu itu, seorang putri raja tengah bermain air. Toh bagaimanapun, tempat ini sudah sangat seksi meski tanpa putri raja.
Menurut cerita, air terjun ini merupakan pusat para jin. Namun jin ini menyukai kesenian, karena pada saat-saat tertentu terdengar suara yang jika didengar dari lokasi padukuhan suaranya berasal dari air terjun ini. Namun jika didekati, suara tersebut akan hilang. Kemudian air terjun ini dinamai Slempret oleh penduduk lokal, sebab suara yang terdengar seperti suara slompret, salah satu alat musik tiup. Tetapi kadang kala, terdengar pula suara gamelan.
Mistisme air terjun Sri Gethuk tidak akan terasa jika sudah melihat tempat yang membuat siapapun merasa sejuk ini. Tidak berlebihan jika sungai Oya dengan perpaduan air terjun Sri Gethuk yang menghiasinya merupakan sebuah miniatur Sungai Kuning di Cina. Airnya yang kehijauan, dengan tebing di sisinya, juga air terjun kecil yang mengalir di antara bebatuannya, menambah eksotisme di Desa Wisata Bleberan.+copy.jpg)
Catatan:
Air terjun ini terletak di Desa Wisata Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Jogjakarta. Berjarak 10 kilometer dari ibukota Gunungkidul, Wonosari. Dari Jogja, waktu tempuhnya bisa mencapai 2 jam. Bisa menggunakan mobil atau motor untuk bisa sampai di desa ini. Retribusi: Rp. 3000 (Belum termasuk ongkos parkir)
Read more...
Tuesday, July 20, 2010
the sacrifice(r)

Ratu Boko nampak seksi dengan mendung yang bergelayut di atasnya. Saya pertama kalinya menginjakkan kaki di keraton yang menjadi benteng pertahanan Rakai Walaing saat melawan Rakai Pikatan, sang pendiri Candi Prambanan. Saya tidak akan berkisah tentang masa lalu keraton ini, karena memang bukan porsi saya untuk menjelaskannya.
Saya ke Ratu Boko untuk melihat pengorbanan seekor kerbau albino atau kerbau bule, orang Jawa biasa menyebut. Tepat saat saya datang, ia sedang didoakan akan disembelih. Kerbau ini dikorbankan dalam prosesi meruwat negara yang ruwet.
Menurut si empunya acara ritual ini, Dewi Untari, ia harus menyembelih kerbau bule di Ratu Boko. Sudah 50 tahun Dewi menjalankan ruwatan dalam upacara Kejawen ini. Bayangkan saja berarti ia memulainya sejak kepemimpinan Soeharto, ketika negara mulai ruwet, dan hingga sekarang ini. Entah berapa banyak kerbau yang sudah dikorbankannya demi membuat bangsa menjadi lebih baik. Namun, meski sudah diruwat dan didoakan, belum juga ada perubahan.
Selama lima puluh tahun itu, dalam 100 hari ia akan berziarah ke makam-makam pahlawan, seperti RA Kartini, Pangeran Diponegoro dan lain sebagainya. Dan setiap 40 hari ia mengadakan upacara ruwatan pula di Pantai Parangtritis, Jogja. Begitu seterusnya dan dia tidak akan berhenti jika negara ini belum juga pulih dari sakitnya yang lama.
Niat perempuan yang berusia 70 tahun namun masih tetap awet muda ini tentulah mulia. Ia hanya ingin melihat bangsanya tidak ditimpa masalah bertubi-tubi. Namun, jika dilihat sekarang ini, tidak ada perubahan yang berarti dengan kondisi bangsa, malahan tambah ruwet. Sepertinya aji-aji negara lebih ampuh ketimbang dirinya (dan mungkin banyak orang yang berniat meruwat negara).
Terus terang, saya bosan dengan berita semacam ini dan tidak ingin membahasnya lebih lanjut. Sudah ada kok di berita setiap hari. Namun, inilah kita, inilah bangsa kita. Mungkin, beribu kerbau bule yang dikorbankan pun tidak cukup untuk membawa berkah untuk negara ini. Mungkin banyak hewan lain yang perlu dikorbankan. Atau sekali-sekali, mbok yang dikorbankan yang bikin masalah itu loh. Baru mantap! Masa hewan terus…
Read more...
perayaan perempuan yang ke-seratus

Seratus tahun perayaan perempuan internasional tepat pada tanggal 8 Maret 2010 ini. Saya ucapkan selamat pada perempuan-perempuan di dunia, congratulations! Hari ini ada untuk kalian semua (perempuan), bukan untuk para pria.
Di Jogjakarta, hari perempuan internasional ini dirayakan dengan berbagai macam cara. Di sebuah tempat, para seniman, pemusik, penyair, penulis, dan lain sebagainya menggelar sebuah acara pembacaan puisi. Namun di tempat lain, perempuan-perempuan turun ke jalan untuk menggelar aksi, bahwa tuntutan mereka tentang kesetaraan selama 100 tahun terakhir belum dipenuhi. Bahwa banyak peraturan yang merugikan mereka, dsb, dsb.
Saya terlahir sebagai perempuan. Bahkan perempuan jaman sekarang, yang bisa selalu menggunakan celana seperti laki-laki. Mendengar kisah-kisah perempuan masa lalu, misalnya saja R.A Kartini, perempuan terkungkung oleh budaya yang patriarki, budaya yang terlalu meninggikan kaum laki-laki. Lalu apakah perempuan tidak tinggi? Tentu saja saya tidak setuju.
Derajat perempuan tetap setara dengan laki-laki, dan tentu saja pembagian kerja yang perempuan ‘dirumahkan’ itu dianggap bahwa perempuan mampu melakukan pekerjaan rumah. Itu tidak mudah dan itu membutuhkan tenaga ekstra! Tetapi sekarang perempuan menuntut lebih, mereka juga ingin bekerja di publik, tetapi bagaimana pekerjaan mereka di rumah?
Itu yang saya alami sekarang ini. Mungkin saya terlalu sombong untuk melakukan pekerjaan rumah, seperti mengepel, menyapu, cuci piring, mencuci dan lain sebagainya. Justru sebaliknya, saya berusaha mati-matian untuk mencari pekerjaan di publik. Lalu, apakah itu memuaskan?
Kadang saya rindu berada di rumah, mengurus kamar saya yang berantakan. Karena saya sudah tidak punya waktu lagi berada di rumah karena harus turun ke jalan, harus bekerja di publik. Banyak pekerjaan rumah saya yang terbengkalai dan rumah saya jadi acak-acakan (hal ini tidak akan terjadi bagi perempuan sukses dan punya banyak pembantu rumah tangga).
Apakah perempuan sekarang terlalu sombong juga ya untuk bekerja di rumah, sehingga mereka menuntut pekerjaan di luar rumah? (termasuk juga saya).
Saya sendiri masih bingung tentang poin yang akan saya utarakan dalam tulisan saya ini. Terlalu banyak pemintaan, tapi tidak pernah konsekuen (itu juga terjadi dalam diri saya). Misalnya saya masih suka marah-marah ketika saya disuruh memindahkan meja, dan sebaliknya, saya sangat senang jika saya tidak disuruh mengangkat yang berat-berat. Saya kan perempuan!
Akhirnya, selamat seratus tahun hari perempuan internasional. Berteriaklah selagi bisa, tetapi saya pilih melakukan pekerjaan yang saya senangi dan berjuang dengan cara sendiri.
Read more...



