Saturday, December 1, 2012
Mengintip Satwa Liar di Taman Nasional Kaeng Krachan
Wednesday, March 28, 2012
Kebebasan Burung di Pulau Rambut
Jakarta? Membayangkannya saja sudah malas, dan saya harus sering bolak-balik ke Jakarta akhir-akhir ini. Tapi saya harus ke Jakarta (lagi-Maret 2012)! Tapi kali ini berbeda, karena kota Jakarta hanya tempat mampir saja untuk menuju pulau di utara Jakarta.
Senyum lebar. Siapkan binoculars, kamera, kacamata hitam, celana pendek, sandal jepit, dan hati yang damai. Yak! Karena saya akan menuju Pulau Rambut yang merupakan satu gugusan pulau di Kepulauan Seribu.
Betapa tidak sulit untuk menemukan satwa liar di pulau ini. Di sinilah surganya cangak abu (Ardea cinerea), pecuk ular (Anhinga melanogaster), bluwok (Mycteria cinerea), kowak malam (Nycticorax nicticorax), cangak merah (Ardea purpurea), kuntul besar (Egretta alba), kuntul kecil (Egretta garzetta), kuntul sedang (Egretta intermedia), kuntul karang (Egretta sacra), kuntul kerbau (Bubulcus ibis), roko-roko (Plegadis falcinellus), dan pelatuk besi (Threskiornis melanocephalus). Sehingga pulau ini pun disebut sebagai ‘birds sanctuary’.
Segerombolan burung-burung melintas di depan kapal kami yang menuju ke pulau tersebut. Dan sesampainya di dermaga, suara burung bersatu dengan deburan ombak di pantai. Karena pulau ini merupakan kawasan konservasi, sehingga penjagaan cukup ketat. Dibatasi hanya maksimal 50 pengunjung setiap hari ke pulau ini.
Sampai di dermaga Pulau Rambut, rombongan saya segera memperlihatkan SIMAKSI, yaitu surat izin masuk kawasan konservasi. Pulau Rambut ditetapkan sebagai suaka margasatwa melalui keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 275/Kpts-II/1999 tertanggal 7 Mei 1999 dengan luas 90 ha yang terdiri dari 45 ha daratan dan 45 ha perairan.
Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menunjukkan track untuk melihat lebih dekat dengan burung-burung tersebut. Sebelum itu, melintas biawak yang juga merupakan salah satu penghuni Pulau Rambut. Biawak malu mendengar langkah kaki rombongan saya dan memilih pergi.
Semakin jauh ke dalam track, suara kepakkan sayap burung semakin dekat terdengar. Karena populasi burung di sini sangat banyak, maka burung-burung berada di kanan kiri kita melintas dan kembali ke sarangnya.
Jangan heran jika memasuki kawasan ini, Anda akan mencium aroma seperti di pasar burung. Karena luas area yang tidak seimbang dengan jumlah burung, tak heran kotoran burung ada di mana-mana, sehingga masuk ke dalam pulau ini akan mencium aroma kotoran burung. Dan jangan marah jika sewaktu-waktu Anda ketiban kotoran burung. Ya karena Anda pasti berjalan tepat di atasnya.
Tapi lihatlah. Di puncak menara yang disediakan. Saya menyaksikan burung yang melintas bebas tanpa takut diburu. Ada yang membawakan makanan untuk pasangannya, ada yang sedang mengerami telur, ada pula yang sedang bercengkerama. Sungguh mengasyikkan melihat hal seperti ini tidak di kebun binatang!
Sayangnya, sampah Jakarta sampai ke pulau ini. Di pinggiran pantai, banyak sampah sandal, gabus, lampu, baju, dan entah sampah apalagi. Dan saya bertemu seekor burung di tumpukan sampah!
Tapi, burung-burung di Pulau Rambut lebih bebas dari pada di kebun binatang atau di rumah saya. Ah, rasanya saya ingin melepaskan burung yang dipelihara ayah saya di pulau ini.(Fian)
Cara ke Pulau Rambut:
Untuk menuju Pulau Rambut, Anda dapat menggunakan speedboat dari Marina Ancol dengan waktu tempuh sekitar 30 menit, dari Muara Angke dengan perahu motor (sekitar 90 menit), dari Pelabuhan Kamal dengan perahu motor (sekitar 60 menit), dan dari Tanjung Pasir, Tangerang, dengan perahu motor (sekitar 30 menit).
Read more...
Saturday, March 5, 2011
Ingin Menikmati Laut tanpa Sampah
Bagaimana nasibnya 15 tahun mendatang? Jangan-jangan Tanjung Pendam berubah nama menjadi TPA alias tempat pembuangan akhir. Oh no!
Di pantai ini, sebenarnya dengan mudah kita bisa melihat matahari terbenam, sangat cantik di sore hari dengan awan berwarna oranye. Tak heran jika banyak orang menikmati keindahannya. Namun, sangat disayangkan jika pada akhirnya tempat ini sudah tidak indah lagi karena banyak sampah. Juga bau sampah, bukan lagi bau laut dan kerang.
Bukankah akan lebih indah jika pantai itu bersih seperti ini? :)
Saya tidak bisa sendiri. Saya butuh para safari untuk menjaga alam agar tidak tercemar oleh sampah. Maka kita akan sama-sama bisa melihat laut yang bersih dan indah. Sederhana bukan? Read more...
Thursday, March 3, 2011
Mencicipi Hutan Kalimantan
Memandang Kalimantan adalah memandang hutan. Begitulah yang ada dalam benak saya ketika akan melakukan perjalanan ke Kalimantan, Palangkaraya tepatnya (Feb, 2011). Namun, mengingat banyaknya illegal logging ditambah kebakaran hutan membuat saya sempat pesimis. Apakah saya masih bisa menemukan hutan di Kalimantan?
Maklum, ini adalah pertama kalinya saya ke Kalimantan, dan sudah lama tidak masuk hutan. Maka ketika di Palangkaraya yang saya cari adalah hutan, dan tentu saja penghuninya yang paling terkenal, yaitu orangutan Borneo.
Sampai di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, saya menemukan iklan hutan di Palangkaraya: Taman Nasional Sebangau. Saya sedikit asing dengan taman nasional satu ini, dan merasa penasaran ketika melihat outreach TN Sebangau yang menggambarkan hutan, juga flora dan fauna yang ada di dalamnya. Saya membatin: ini akan menjadi tujuan utama saya di Palangkaraya.
Setelah menemukan beberapa informasi soal Sebangau di Resort Sebangau Hulu, Desa Kereng Bangkirai, saya pun dengan mantap dan mewajibkan diri untuk segera masuk ke dalamnya meskipun kocek yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Setelah itu ditentukan hari 'H' untuk menjelajahi secuil TN Sebangau.
Beruntung rombongan saya pada waktu itu dipandu langsung oleh Kepala Resort Sebangau Hulu, Mbak Suli. Sehingga anggaran biaya kami tidak dibebankan untuk pemandu. Juga tentu saja informasi yang didapat lebih akurat dan mantap.
Di hari Senin yang menawan bersama hujan, speedboat yang akan membawa kami menjelajah TN Sebangau sudah siap di dermaga. Langit masih berwarna gelap, menambah nuansa mistis yang memantul di air 'coca-cola', sebutan air rawa gambut di Kalimnatan Tengah. Warna ini muncul akibat dari proses pelapukan bahan organik di lahan gambut; seperti akar, batang pohon dan lain sebagainya.
Hutan rasau (sejenis pandan) yang hanya tampak dari dermaga, kini tampak wujud aslinya, bergerigi pada pinggirnya. Mata saya tak lepas memandangi kiri kanan sambil mendengarkan penjelasan Mbak Suli soal kebakaran hutan dan illegal logging yang terjadi beberapa tahun silam. Ngeri.
Tiga puluh menit kemudian, kami pun sampai di lokasi menjelajah hutan, yaitu Blok Kerja Sungai Koran, Resort Sebangau Hulu (salah satu dari 8 Resort TN Sebangau), SPTN (Seksi Pengelolaan Taman Nasional) wilayah 1 Palangkaraya, TN Sebangau. Well, hutannya memang asli, bekas illegal logging, dan yang paling mengesankan adalah tanah gambutnya yang membuat kaki saya berkali-kali terbenam di dalamnya. Dan yang paling mengasyikkan, di hutan di TN Sebangau ini bebas dari yang namanya lintah. Hore! Maklum, saya phobia dengan hewan berlendir satu itu.
Di dalam hutan kita bisa belajar macam-macam flora, seperti pohon-pohon, termasuk jenis pohon yang sering ditebang, misal belangeran dan ramin. Juga fauna, yaitu burung rangkong dan juga yang paling terkenal adalah orangutan. Sayang kedatangan saya tidak seberuntung itu, di perjalanan ini, saya tidak bisa melihat orangutan liar dari dekat. Entah karena memang musim penghujan, entah memang karena mereka sedikit takut dengan suara speedboat.
Sebenarnya, orangutan sangat mudah dilihat di Pulau Palas di Nyaru Menteng, sehingga saya tidak menyesal tidak bisa melihat orangutan di habitat aslinya. Sebaliknya, banyak hal yang bisa saya nikmati dan kagumi dari perjalanan ini. Saya sadar bahwa Indonesia sangat luas dan indah. Betapa menjelajahi hutan sepanjang 1,5 kilometer butuh waktu 3,5 jam karena saking luas dan indahnya pemandangan di kanan kiri. Dan waktu 12 jam itu, saya hanya menempuh 1,5 km hutan, 45 menit susur Sungai Koran, sisanya menikmati hutan dan penghuninya!
Dan betapa tidak cukup hanya 12 jam, bahkan butuh waktu berbulan-bulan untuk menjelajahi hutan di Kalimantan. Apalagi hingga bertemu dengan penghuninya. Dan perjalanan ini hanya secuil saja. Entah kapan saya bisa menjelajah seluruh Kalimantan dan menemui penghuni lainnya.
Betapa, jika alam itu terjaga, maka saya tidak akan takut tidak bisa melihat hutan beserta penghuninya. Saya salut dengan usaha TN Sebangau yang telah melestarikan hutan rawa gambut, juga melakukan reboisasi di daerah bekas terbakar dan tebangan.
Betapa, saya semakin cinta Indonesia!
*Sebenarnya ada banyak pintu gerbang menuju TN Sebangau, salah satunya adalah Desa Kereng Bangkirai. Untuk ke Desa Kereng Bangkirai dari Palangkaraya, bisa menyewa kendaraan bermotor, seperti sepeda motor atau mobil. Jika ingin murah naik angkot atau ojek sepeda motor. Untuk berkeliling TN Sebangau, bisa menyewa speedboat atau kelotok dari warga setempat, berkisar 150 ribu (belum termasuk BBM, driver dan pemandu). Biasanya dipatok harga untuk driver 75ribu, pemandu lokal 75ribu, pemandu balai 185ribu, dan BBM 50ribu. Untuk informasi bisa langsung menghubungi Balai TN Sebangau, Jl. Mahir Mahar km 1,2, telepon: (0536) 3327093.
Read more...
Monday, February 14, 2011
Orangutan Bahagia Di Hutan
Seekor orangutan sedang melamun di pinggir Pulau Palas yang berhadapan dengan Sungai Rungan, Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah. Ia segera beranjak dari lamunannya ketika perahu kami berhenti di ‘dermaga’ sederhana, sebuat tempat meletakkan makanan orangutan yang tinggal di Pulau Palas. Orangutan itu bergerak perlahan menuju arah perahu kami yang hanya boleh mencapai dermaga. Ia mencoba meraih perahu, namun tak bisa karena dihalangi air sungai.
Ia jelas tidak bisa berenang dan merasa geram karena tidak bisa melintasi sungai. Ia pun melempar batang kayu kecil, juga kulit pisang ke arah perahu kami. Kadang ia nyengir melihat kami memanggilnya dengan gerakan tangan menyuruhnya mendekat. Ia pun merentangkan tangannya lebar-lebar, meminta dipeluk. Yang saya tahu, orangutan itu belum lulus dari karantinanya di Pulau Palas.
Dari Palangkaraya, Nyaru Menteng hanya berjarak 30-an kilometer. Sedang untuk ke Pulau Palas, wisatawan membutuhkan kendaraan air yang mudah didapat di dermaga Danau Tahai yang tak jauh dari BOSF, tempat kelotok dan speedboat bersandar. Tak sampai 30 menit jarak dari Danau Tahai ke Pulau Palas. Di perjalanan, akan disuguhi pemandangan pepohonan yang memantulkan wujudnya di air Sungai Rungan.
Pulau Palas merupakan tempat pra-rilis orangutan milik BOSF. Itu adalah sebuah pulau kecil di Sungai Rungan yang masih satu aliran dengan Danau Tahai. Badan sungai mengikuti tumbuhan di sekitarnya, sehingga ada yang sempit, dan kadang menemui badan sungai yang lebar.
Di Pulau Palas kita memang bisa dengan mudah menemukan orangutan daripada bagian lain di Kalimantan Tengah. Bahkan, jika datang ke puast karantinanya di BOSF, orangutan hanya bisa dilihat dari balik kaca pusat informasi BOSF, yang ditempatkan di dalam sebuah kandang besar. Itu pun hanya dibuka hari Minggu saja, atau hari libur nasional lain.
Karena sifatnya yang masih pra-rilis, maka orangutan di Pulau Palas ini masih tertinggal sifat jinak. Maklum saja, kebanyakan orangutan yang ada di BOSF merupakan tangkapan dari pemilik yang memelihara orangutan secara ilegal. Sehingga peraturan bagi wisatawan yang ingin melihat orangutan di pulau tidak boleh turun. Hanya boleh melihat mereka dari atas kelotok. Maklum, mereka memang sedang dijauhkan dari manusia.
Jika telah ‘lulus’, maka mereka akan dirilis di hutan-hutan yang jauh dari jangkauan manusia. Ada sekitar 35 orangutan ketika saya berkunjung ke Pulau Palas pada Februari 2011 lalu. Orangutan yang ada di pulau tersebut telah berusia remaja (di atas 7 tahun). Sedang orangutan yang masih berusia anak-anak ‘disekolahkan’ di Nyaru Menteng.
“Di sini ada 619 orangutan yang dikarantina untuk diliarkan,” ujar Hermansyah, salah satu staf komunikasi di Pusat Informasi BOSF.
Dia menjelaskan proses meliarkan orangutan yang dimulai dari karantina, sosialisasi dengan kelompoknya, kemudian prarilis (Pulau Palas), dan terakhir adalah merilis orangutan di hutan.
“Ini adalah proses yang panjang, bisa memakan satu sampau dua tahun. Biasanya, orangutan-orangutan ini adalah orangutan yang diambil dari manusia yang memelihara secara ilegal,” lanjut Hermansyah.
Mengapa orangutan harus diselamatkan? Begini Hermansyah menjelaskan; hutan membutuhkan orangutan untuk tetap hidup. Sebab orangutan adalah penghuni hutan yang menyebar biji dan juga sebagai si pemelihara hutan. Jika tidak ada orangutan, maka regenerasi pohon di Kalimantan tidak maksimal. Hutan pun akan lebih cepat habis ditebang ketimbang rimbun penuh pohon. Yang lebih buruk, hewan lain penghuni hutan pun akan kehilangan rumah.
Lalu apakah Anda masih ingin memeluk orangutan? Saya yakin, Anda lebih ingin membebaskan orangutan setelah Anda mampir ke Pulau Palas. Saya sadar, mereka bukanlah hewan peliharaan, bukan untuk dipeluk maupun dicium. Saya lebih suka melihat mereka bergelantungan di atas pohon di hutan dan menikmati buah-buahan di sarang mereka. Sesekali, cobalah Anda tengok mereka di sini, mereka tampak bahagia ketimbang di kebun binatang.
*) BOSF di Nyaru Menteng hanya dibuka untuk umum pada hari Minggu atau hari libur. Namun jangan harap bisa memeluk orangutan di sini. Sebab kita hanya bisa melihat orangutan dari balik kaca, yaitu orangutan yang sedang dikarantina. Di sini adalah sarana edukasi bagi masyarakat untuk menyosialisasikan bahwa orangutan itu bukan hewan peliharaan.
Arfiana Khairunnisa, Kedaulatan Rakyat 27 Maret 2011 Read more...
Tuesday, October 5, 2010
Mengunjungi Rusa di Halaman Kantor B2P3KS
Halaman B2P3KS yang terletak di Jl. Kesejahteraan Sosial, Nitipuran, Jogjakarta, penuh dengan rusa. Saya baru tahu dari Facebook salah seorang teman, bahwa di kantor ini banyak rusa. Padahal letak kantor ini tidak jauh dari rumah saya. Dan mereka berada di sana sejak tahun 1994 (saya sendiri baru menempati rumah sekarang sejak 2006 dan berada di Jogja sejak 1999, dan saya tidak tahu bahwa ada rusa di sana).
Rusa-rusa ini memang sengaja dipelihara oleh badan ini agar taman tampak lebih indah dan membuat suasana kondusif di kantor ini. Begitulah cerita Drs. Pranowo, Kepala Bidang Standarisasi dan Sosialisasi Sistem Pelayanan Kesejahteraan Sosial pada B2P3KS Jogja, yang sempat saya temui karena saya penasaran dengan keberadaan rusa-rusa ini.
Untuk memelihara rusa ini memang bukan perkara gampang. Banyak syarat yang harus dipenuhi agar disetujui oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA). Halaman seluas 3,9 hektar dirasa cukup untuk memelihara rusa. Akhirnya sepasang rusa yang diambil dari Kebun Binatang Gembiraloka pun diijinkan untuk tinggal di kantor ini.
Persyaratan lain adalah memiliki lahan yang cukup, minimal 20x20 meter, lahan tersebut juga harus sudah dipagari minimal 2 meter agar rusa tidak bisa melompat. Ada sumber air dan makanan yang cukup, juga kesungguhan untuk konservasi, bukan untuk jadi hewan ternak. Untuk itulah Balai KSDA akan meninjau rusa yang dipelihara secara pribadi setiap tiga bulan sekali, buat berjaga-jaga rusa tersebut tidak masuk ke dalam perut.
Maka Alberto dan Bella, begitu Pranowo menamai sepasang rusa tersebut, sekarang sudah berjumlah 24 ekor. Sepasang rusa jenis Afrika tersebut memang sudah dalam pembibitan terlebih dahulu di Kebun Binatang Gembiraloka. Sehingga seminggu setelah dipelihara di B2P3KS, lahirlah anak Alberto dan Bella.
Rusa-rusa ini hidup secara alami di halaman B2P3KS, juga berkembang alami. Mereka memang sengaja dibiarkan liar, namun tetap bersahabat. Pihak B2P3KS tidak secara khusus mengamati rusa-rusa tersebut, sebab makanan sudah tersedia, misalnya rerumputan, daun angsana dan daun mandingan yang paling diminati rusa. Kadang-kadang mereka diberi umbi-umbian untuk vitamin mereka, misalnya wortel dan ketela.
Lucunya, keberadaan rusa yang semula ingin membuat variasi taman, namun taman pun jadi tidak berkembang sebab daunnya dimakan rusa.
“Ya itu konsekuensi memelihara rusa. Kalau ada tanaman yang pendek-pendek dan rusa doyan, pasti dimakan. Jadi kalau mau bikin taman tidak berkembang. Begitu juga pohon, sebab rusa jantan suka mengasah tanduknya di batang pohon, sehingga kadang banyak pohon yang luka dan tumbang. Tapi pohon jati aman di sini, mungkin karena batangnya yang lebih kuat dari pada pohon lain,” tambah Subandio, selaku staff umum di B2P3KS yang juga turut memperhatikan pemeliharaan rusa-rusa ini.
Tentu saja keberadaan rusa-rusa ini menarik masyarakat sekitar Nitipuran. Apalagi para orang tua sering mengajak anak-anaknya untuk sekedar melihat rusa sambil menyuapi, atau hanya untuk berfoto bersama rusa saja.
“Masyarakat boleh melihat rusa di sini. Biasanya paling ramai jam pulang kantor antara jam 3 hingga jam 5. Biasanya ibu-ibu yang sedang mengasuh anaknya datang ke sini. Biasanya mereka juga membawakan rusa-rusa tersebut makanan,” ujar Bandi, sapaan akrab Subandio.
Pada akhirnya B2P3KS secara tidak langsung juga memberikan pelayanan pembelajaran bagi masyarakat selain sebagai tempat konservasi. Sebagai tempat konservasi, induk rusa yang bernama Bella sudah berada di Purworejo dan ditangani oleh Balai KSDA Jawa Tengah. Ah, seandainya banyak tempat publik yang digunakan untuk hal-hal bermanfaat, alangkah indahnya kota Jogja ini.
ps. Tak sulit untuk melihat rusa di kantor ini, hanya datang saja, lapor satpam, dan jangan lupa membawa umbi-umbian untuk vitamin si rusa :)
*artikel ini dimuat di Radar Jogja, 5 Oktober 2010, diedit sesuai dengan blog ini
Read more...

