Istana Presiden RI Jogjakarta atau Gedung Agung adalah salah satu favorit saya, meskipun saya sendiri belum pernah berkunjung ke Istana Presiden RI lain. Tetapi dibandingkan dengan beberapa istana presiden negara lain yang pernah saya kunjungi, istana ini yang menurut saya, bisa berakulturasi dengan budaya urban.
Well, ketika tulisan ini dibuat, saya baru dua kali menginjakkan kaki di Gedung Agung, ngobok-ngobok dalam istananya. Yang pertama tahun 2009, kemudian yang kedua tahun 2010.
Tahun 2009, Gedung Agung mungkin hampir sama dengan istana presiden lain, sebagai tempat presiden dengan beragam ubo rampe yang tentu saja hanya bisa dinikmati oleh presiden dan kolega-koleganya.
Namun saya mendengar kabar baik dari teman sekaligus narasumber saya, mas Mikke Susanto, bahwa Gedung Agung akan dibuat museum yang di dalamnya memamerkan benda-benda koleksi istana dari enam istana kepresidenan yang tercatat, Istana Negara, Istana Merdeka di Jakarta, Istana Bogor di Bogor, Istana Cipanas di Cipanas, Istana Tampaksiring di Bali dan Istana Gedung Agung di Jogja sendiri.
Maka saya pun tak sabar untuk segera masuk ke dalam Museum Istana Jogja (nama museum di dalam Gedung Agung). Barulah satu tahun kemudian, saya berkesempatan untuk berkunjung ke Gedung Agung lagi. Maklum, saya orang biasa dan tidak bisa sembarangan keluar masuk Istana Negara.
Saya memang belum pernah mengunjungi Istana Presiden RI lain, tapi saya yakin, hanya Istana Presiden di Jogja saja yang ada muralnya! Jogja memang dikenal sebagai kota seni, tak heran jika mural ada di tembok-tembok bangunan di Jogja. Namun, siapa sangka kalau mural itu bisa tervisualisasikan di tembok istana? Ya hanya di Jogja! Jogja memang istimewa!
Mural ini terletak di Museum Istana Jogjakarta Ruang Pamer I. Tepatnya di tembok tangga naik menuju lantai atas Ruang Pamer I. Ruang pamer di Museum Istana Jogjakarta sendiri ada dua tempat, yaitu Ruang Pamer I dan Ruang Pamer Utama. Selain mural, di Ruang Pamer I ini, terdapat lukisan-lukisan lama dari maestro lukis Indonesia, seperti Affandi dengan Adu Ayam, Soerono dengan Dr. Cipto Mangun Kusumo, juga ada lukisan Raden Saleh berjudul Berburu Banteng.
Mas Mikke dan M Yusuf merupakan konseptor mural ini, dipoles melalui tangan-tangan seniman Jogja seperti M Yusuf, Dodi Irwandi, Kadar dan Sabar Parjio. Mural ini hadir dengan gambar yang diadaptasi dari karya pelukis S. Sudjojono berjudul Maka Lahirlah Angkatan ’66 dan potongan lukisan yang ada di Istana Presiden, misalnya lukisan karya Itji Tarmidji.
Maka Lahirlah Angkatan ’66 merupakan karya Sudjojono yang bergambar laki-laki berbaju merah putih dengan lengan disingsingkan sambil memegang kuas. Laki-laki tersebut menyiratkan semangat pemuda era 60-an, yang bersahaja, dewasa dan progresif dalam bersikap. Mural di antara dua lantai ini juga menandakan untuk menyambung sekaligus memisahkan ide irisan sejarah, nasionalisme masa revolusi di lantai bawah dan nasionalisme masa pembangunan di lantai atas.
Yang pasti, mural ini paling mencolok di antara benda-benda yang lain. Apalagi pakaian yang dipakai berwarna merah. Wah! Tembok pun jadi cerah dan membuat siapapun bersemangat pantang menyerah usai melihatnya.
Sedang di Ruang Pamer Utama, para pengunjung bisa melihat-lihat lukisan karya Abay B Subarna Bapak Ir Soekarno, lukisan Presiden Soeharto dan Ibu Tien dalam karya Basoeki Abdullah, Rudolf Bonnet Penggembala Kambing di Italia, Willem Andrian Naik Kuda, dan masih banyak benda lain yang bisa dinikmati.
Saya mengharapkan bisa berlama-lama berada di museum, namun sayang jam berkunjung masih terbatas sehingga tidak bisa leluasa mengamati benda-benda di dalamnya. Masalahnya, di larang memotret di dalam sini. Jadi harus disimpan di dalam ingatan benda-benda di sini, apalagi muralnya!
Museum ini juga belum secara resmi diresmikan oleh Presiden, dan belum pasti juga apakah nantinya museum ini akan terbuka untuk umum, atau hanya pada saat-saat tertentu saja. Ah, ya, yang penting rasa penasaran saya sudah terpenuhi. By the way, saya jadi penasaran, Pak SBY sudah lihat belum ya mural lukisan Sudjojono itu?
Ps. Karena dilarang memotret (kalaupun memotret tidak boleh diterbitkan untuk umum), jadi maaf kalau hanya foto saya yang narsis di depan Gedung Agung.
Read more...
Thursday, October 7, 2010
Mural Sudjojono di Tembok Gedung Agung
Tuesday, July 20, 2010
Saigon #2: Ke Lorong Religi dan Perjuangan

Saya anti menggunakan jasa tur, tetapi di HCMC ini saya terpaksa menggunakan jasa tour karena tempat yang ingin saya kunjungi jauh dari pusat kota HCMC. Maka saya dan Yusi sepakat untuk mengambil Sinh Tourist yang cukup terpercaya di Vietnam. Letaknya juga tidak jauh dari homestay kami, hanya 5 menit jalan kaki sudah sampai. Saya pun memberanikan diri memilih tur ini. Dalam bayangan saya, menggunakan jasa tour itu mahal dan tidak enak, apalagi jika tidak dapat tour guide yang asik.
Ternyata, banyak orang lokal pun mengambil jasa tur ini. Mereka bilang mengerikan naik motor ke Chu Chi Tunnel karena jauh, maklum tidak banyak orang yang punya mobil pribadi di HCMC. Apalagi, harga tur di sini tidak semahal di tempat lain, cukup fair untuk para turis dan orang lokal.
Saya dan Yusi pun sepakat untuk mengunjungi Chu Chi Tunnel di hari kedua kami di HCMC. Kami pun mengambil paket Chu Chi Tunnel yang satu paket dengan Cao Dai Temple. Selain lebih murah, agar kami bisa menghabiskan satu hari di tempat yang jauh juga. Perjalanan ke Chu Chi Tunnel cukup lama.
Harga tur ini 120.000 VND plus 75.000 VND tiket untuk masuk Chu Chi Tunnel. Untuk menghitung rate mata uang Vietnam dalam Rupiah, mata uang Rupiah dikali dua sehingga menghasilkan VND.
Jadi, dengan Rp. 60.000 kami sudah mendapatkan bis ber-AC yang nyaman, perjalanan ke Chu Chi Tunnel dan Cao Dai Temple tanpa kepanasan karena cuaca di HCMC mencapai 38 derajat!
Sebelum dibawa ke tempat tujuan, bis kami menuju tempat pembuatan kerajinan tangan di daerah Binh Thanh. Semua pekerja di sini adalah orang difabel. Mungkin sejak banyaknya difabel tuna daksa di Vietnam akibat perang dengan Amerika (yang menyebarkan Agent Orange) maka pemerintah Vietnam memberdayakan para difabel ini. Salut!
Lalu bis kami pun menuju Cao Dai Temple yang jauhnya sekitar 2 jam dari HCMC (makanya orang Vietnam malas bawa motor sendiri). Kabarnya di Cao Dai Temple ini tempat sembahyangnya lima agama sekaligus, Buddha, Kong Hu Chu, Hindu, Kristen dan Islam. Nah loh!
Saya tidak begitu banyak mengorek informasi dari tour guide karena dia pun tampaknya kurang faham dengan hal ini.
Tepat jam 12 siang kami sampai di Cao Dai dan bertepatan pula dengan waktu sembahyang mereka, namun pada saat itu hanya tiga agama saja yang sembahyang bersama. Ritual mereka diawali musik khas Vietnam, plus alat musiknya juga. Tidak ada yang aneh dari ritual mereka, hanya saja mereka tampak khusyuk sekali tanpa terganggu para turis (termasuk saya) memotret mereka di dalam rumah ibadah mereka. Hebat! Bahkan rumah ibadah pun jadi tempat wisata.
Puas di Cao Dai, tur kami berhenti untuk makan siang. Setelah makan siang kami pun langsung menuju Chu Chi Tunnel yang jaraknya 1,5 jam, nah saatnya tidur di dalam bis yang nyaman dan dingin.
Chu Chi Tunnel, saya sudah sering lihat di televisi. Tempat ini memang wajib dikunjungi para wisatawan jika mampir ke Vietnam. Betapa orang Vietnam itu tidak mau kalah, dan selalu punya cara untuk menyerang musuh.
Chu Chi Tunnel membuat saya berdecak kagum pada para Vietchong ini. Selama bertahun-tahun mereka berlindung di bawah tanah yang sempit itu. Tak lupa saya pun mencoba menjadi Vietchong, dan uh! Betapa tidak enak berada di dalam tanah yang sempit. Ck ck ck…
Read more...