<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959</id><updated>2012-02-17T00:35:58.611+07:00</updated><category term='Vietnam'/><category term='Samarinda'/><category term='Jawa Barat'/><category term='sand dune'/><category term='Kalimantan Tengah'/><category term='Macau'/><category term='mountain'/><category term='beach'/><category term='culture'/><category term='Orangutan'/><category term='Simeulue'/><category term='river'/><category term='bicycling'/><category term='museum'/><category term='relax'/><category term='palace'/><category term='Jawa Tengah'/><category term='Forest'/><category term='experiences'/><category term='fauna'/><category term='culinary'/><category term='movie'/><category term='conservancy'/><category term='Mui Ne'/><category term='Belitung'/><category term='Singapore'/><category term='Jawa Timur'/><category term='hobby'/><category term='tunnel'/><category term='waterfall'/><category term='Aceh'/><category term='thought'/><category term='Bangkok'/><category term='Jogja'/><category term='human'/><title type='text'>safari bumi</title><subtitle type='html'>a journey with my orange backpack</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>42</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-2363236838337469184</id><published>2011-10-27T19:41:00.004+07:00</published><updated>2011-10-27T19:52:56.241+07:00</updated><title type='text'>Keluarga Besar (di Kebun Binatang)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ini adalah sebuah tulisan yang merobek hati saya sebagai orang yang bekerja di kebun binatang. Tulisan ini ditulis oleh seorang kawan bernama Paulinus Kristianto. Dia juga sempat bekerja di beberapa kebun binatang. Jika Anda penyayang satwa, suka ke kebun binatang, bekerja untuk satwa, atau bahkan membenci satwa, saya persilakan dengan rendah hati untuk membaca tulisan ini...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-tT_GQN5wuTI/TqlTdBNjyyI/AAAAAAAAASQ/4puAUXTn7xw/s1600/_DSC0034.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-tT_GQN5wuTI/TqlTdBNjyyI/AAAAAAAAASQ/4puAUXTn7xw/s400/_DSC0034.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5668153364029098786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia seorang bayi yang terlahir dengan mimpi dan harapan yang masih panjang, namun ia harus mengubur semua mimpinya ke dalam mimpi yang baru bersama dengan mimpi ratusan anak yang lain di luar sana. Untung begitulah kami memanggilnya, ia seorang bayi yang berumur satu setengah tahun  yang harus tinggal dalam sebuah penjara yang kecil menanggung apa yang tak pernah ia tahu, namun setidaknya ia bisa mengobati rasa rinduku pada anakku Luna yang hilang. Harus ku akui aku tak pernah bisa menahan air mataku, di saat aku memeluknya, karena pada saat itu ia seakan berkata kepadaku tak pernah mau tinggal di kandang itu, namun aku tak pernah tahu jawaban terbaik untuk itu yang bisa membuatnya jauh-jauh lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah menyenangkan melihat anak atau keluargamu di dalam sebuah penjara, setidaknya begitulah yang ku rasakan ketika berada di Kebun Raya Samarinda, semuanya seperti merobek pikiranku. Tangisan Uci di malam hari seperti satu mimpi yang masih panjang dari rasa kebahagian, terkadang aku berfikir mungkin satu botol susu bisa membuatnya tertidur kembali pada saat itu tapi bagaimana malam-malam selanjutnya, apa dia hanya bangun karena sebotol susu, apakah kita tahu bahwa ia bermimpi buruk? Atau, pakah kita tahu ia merindukan ibunya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Kebun Raya Samarinda seperti sebuah penjara kecil untuk Memo, Untung dan Pingpong. Tak pernah ada yang tahu nasib mereka di masa yang akan datang apa lagi Untung dan Memo yang harus menghadapi kehidupan yang jauh lebih sulit. Hepatitis B membuat semuanya berbeda. Setidaknya kembali mengubur harapan mereka jauh lebih dalam untuk bisa kembali ke hutan. Sebuah kandang kecil bekas kandang burung menjadi tempat peristirahatan Untung, berlantaikan semen dengan kayu-kayu penyangga di dalamnya, semakin memperlihatkan kecilnya kandang itu. Taburan kacang, dan plastik mengotori kandang tersebut bukan karena tidak di bersihkan namun orang-orang tidak bisa membaca tulisan di depan kandang, melemparkan makanan agar orangutan tampak menjadi pengemis dan bodoh di dalam kandang. Sore hari seperti waktu yang sangat di tunggu oleh Untung dan Memo karena setiap sore mereka bisa keluar, setidaknya itu bisa mengobati rasa rindu mereka pada kebebasan dan hutan serta terbebas dari lemparan botol plastik serta suara-suara gaduh, namun semua itu tak pernah bisa lama mereka rasakan. Ini yang selalu membuat aku berkata di dalam hati, "Paulinus kamu orang yang bodoh." Karena pada saat itu aku sadar, aku  belum bisa mencari cara untuk membuatnya merasa sedikit lebih baik bahkan sampai hari terakhir aku berada di sana. Hanya enrichment yang sedikit menjadi kesenangan tersendiri untuknya, sama seperti seorang anak kecil yang diberi permen ketika permen itu habis ia akan kembali mengingat ibunya yang pergi ke pasar. Memo mungkin satu dari contoh yang pernah kulihat dari semua orangutan yang harus tinggal sendiri. Kandang yang besar bukan sebuah jaminan ia akan bahagia, aku tak pernah bisa memberi hutan di dalam kandang Memo atau meletakkan pohon yang besar ke dalam kandangnya. Karena itu mustahil namun menjadi seorang teman dan keluarga untuk ia jauh lebih bermakna dari pada melemparkan botol kosong dan batu ke dalam kandangnya.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Penderitaan bersama biasanya membuat orang saling akrab satu sama lain, hal ini juga terjadi di dalam sebuah enclosure di Kebun Raya Samarinda. Hercules, Antak, Oky dan Nigle semua dari latar belakang yang berbeda namun satu kesamaan, kehilangn seorang ibu yang mereka sayangi serta hilangnya rumah mereka yang kini berganti perkebunan dan tambang. Mereka semua seperti satu kelurga besar, saling melindungi dan menyayangi. Hercules mungkin akan mengigitmu ketika kau mencoba datang kepada kelompok mereka tapi ketahuilah itu semua baik, ia hanya mencoba bertanggung jawab atas teman-temannya, ia tak pernah akan membiarkan ada satu orang pun yang datang dan menyakiti teman-temannya. Suatu keajaiban dalam sebuah kebun binatang ada sekolah hutan, setidaknya ini sedikit memberi mereka harapan bahwa hutan yang mereka pernah rasakan masih ada dan mereka bisa membangun pondasi rumah yang baru. Aku percaya mereka masih memiliki rasa trauma dan takut yang yang begitu dalam. Setidaknya Nigel memperlihatkan kepada ku rasa takut itu, ia tak pernah mau berlama-lama di sekolah hutan, kembali ke kandang dan enclosure sepertinya jauh lebih aman atau ketika ia harus di pindahkan ke kandang angkut karena diare yang parah, namun Nigel merusak kandang itu dan kembali ke dalam keluarganya. Sekali lagi ia memperlihatkan kepada ku bahwa kebersaman mereka jauh jauh lebih baik dari obat yang kami berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orangutan ada yang gay,..?" Begitulah teriakan seorang mahasiswa kedokteran ia tertawa begitu keras seperti sesuatu mendengar suatu lelucon yang sangat lucu. Namun aku hanya bisa diam aku tahu itu bukan sebuah lelucon itu adalah sebuah kebodohan dan kegagalan besar. Ambon dan Debby mereka adalah sepasang orangutan yang tinggal dalam sebuah kurungan yang tidak terlalu besar. Mereka tidak jauh lebih baik dari seorang pengemis yang duduk di tepi jalan. Terkadang aku berfikir mereka merasa lapar namun sekali pun mereka sudah mendapatkan makanan terkadang  tetap saja mereka mengulurkan tangan mereka dan meminta kepada pengunjung, hal ini semakin  memperlihatkan bahwa mental dan hati mereka sudah begitu rusak oleh manusia. Aku percaya itu bukan yang mereka mau tetapi keadaan dan hanya itu satu-satunya yang bisa mereka pelajari dari kandang dan masa kecil mereka. bahkan membuat sebuah sarang pun mereka tak pernah bisa melakukannya, lantai semen yang dingin seakan sudah sangat baik untuk mereka tidur dan merasakan dingin malam. Ambon pernah menarik ku dan menghimpitkan aku ke dinding namun tak sedikit pun ia mengigitku. Namun matanya seakan mengatakan padaku, bahwa ia sudah muak dengan botol-botol plastik itu, ia sudah muak dengan semua tawa yang menjadikannya seakan seorang penjahat dalam kurungan. Namun sekali lagi aku harus diam dan hanya memegang kepalanya meminta untuk tetap bersabar, dan aku tak bisa menjanjikan kepadanya sebuah pohon yang besar untuk rumahnya, namun aku hanya bisa menjanjikan semuanya akan jauh lebih baik suatu saat nanti.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Kebun binatang tetaplah kebun binatang begitulah yang ku pikirkan, namun setidaknya kita bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih baik untuk mereka, sekali pun kata-kata untuk kesempatan ke dua terlalu sulit di wujutkan. Aku sangat membenci kebun binatang karena itu seperti sebuah penjara bagi banyak satwa, mereka tak pernah tahu yang terjadi sebenarnya namun diseret ke pengadilan dan dijatuhi hukuman penjara selamanya. Kebun Raya Samarinda sepertinya menjadikan sebuah harapan bagi mereka yang yatim piatu. Setidaknya ada beberapa orang yang disebut animal keepper akan ada untuk menjaga mereka. Namun aku lebih suka menyebut mereka keluarga para satwa  di sana. Sebut saja pak Dayat, seorang sosok yang besar sebesar harapanya untuk para satwa di sana. Suatu sore aku melihat ia mengelus kepala seekor macaca sama seperti seorang ayah yang mencintai anaknya. Sebuah pemandangan yang hampir tak pernah aku lihat di kebun binatang mana pun. Tidak ada sebuah besi, kayu atau pun tali yang di pukulkan seperti di kebun binatang lain agar para hewan mau menuruti apa yang mereka mau. Semua hewan seperti sudah tahu itu adalah ayah mereka dan  harus menuruti apa yang ayah mereka mau. Aku melihat mereka seperti sebuah keluarga yang besar, mempunyai harapan yang sama untuk masa depan jauh lebih baik.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Mungkin bukan hanya aku namun semua orang selalu berharap apa yang seharusnya liar harus tetap liar, walau sangat sulit untuk diwujudkan. Memberi mereka kesempatan kehidupan yang sedikit lebih baik di kandang dan encloser dalam sebuah kebun binatang mungkin akan sedikit mengurangi penderitaan mereka.   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-2363236838337469184?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/2363236838337469184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/10/keluarga-besar-di-kebun-binatang.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/2363236838337469184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/2363236838337469184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/10/keluarga-besar-di-kebun-binatang.html' title='Keluarga Besar (di Kebun Binatang)'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-tT_GQN5wuTI/TqlTdBNjyyI/AAAAAAAAASQ/4puAUXTn7xw/s72-c/_DSC0034.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-5032679069742289314</id><published>2011-08-14T14:00:00.005+07:00</published><updated>2011-08-19T21:18:03.925+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Samarinda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orangutan'/><title type='text'>Sentuhan Pertama</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-OrR9ryAuCHQ/Tkd0xC3EHuI/AAAAAAAAAPY/biqqkZWoR-Y/s1600/IMG_0306.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-OrR9ryAuCHQ/Tkd0xC3EHuI/AAAAAAAAAPY/biqqkZWoR-Y/s400/IMG_0306.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5640605444235075298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Michele terasa dingin ketika saya menyentuhnya pertama kali. Tangan kecil itu menjulur meminta digendong. Ketika saya menggendongnya pertama kali, ia mencengkeram erat baju saya, seolah tak mau melepaskan. Seolah takut untuk ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya bayi manusia, bayi orangutan pun membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Seharusnya, sejak lahir hingga berusia 6-7 tahun, bayi orangutan terus bersama ibunya dan tidak pernah lepas dari keberadaan sang ibu. Michele adalah bayi orangutan betina berusia sekitar 5 bulan yang ada di Kebun Raya Universitas Mulawarman Samarinda (KRUS). Di usianya yang masih sangat belia itu, Michele harus terpisah dari ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Michele diserahkan oleh salah seorang warga desa Tanah Merah, Lempake, Samarinda ke KRUS pada 23 Juli 2011. Ia ditemukan di sebuah ladang milik warga tersebut. Sejak saat itu, Michele harus berjuang hidup seorang diri tanpa ibunya. Pada awal kehidupan barunya di KRUS, ia sempat demam. Namun berangsur-angsur membaik karena dirawat oleh banyak orang; para sukarelawan dan para perawat satwa KRUS. Michele pun tidak sendirian lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, ibu asuh Michele bertambah satu lagi sejak saya berada di KRUS. Menyentuh Michele pertama kali, langsung membuat saya jatuh cinta. Tangan dingin Michele saya genggam supaya hangat. Ia pun tersenyum seolah berada di tempat yang aman dan nyaman. Ketika ia mulai mengantuk, saya taruh di tempat tidurnya, maka ia akan menangis histeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak bahwa bayi sekecil itu sangat takut ditinggalkan. Dan Michele, tidak seharusnya mengalami ketakutan seperti itu jika ia berada dalam pelukan ibunya. Melihatnya menangis meraung-raung untuk dipeluk, saya tidak tega. Saya pun menggendongnya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dek Icel, Dek Icel, jangan nangis, ada Mommy di sini,” kata saya sambil menatap matanya. Michele pun langsung terdiam dan tersenyum ketika berada dalam gendongan saya. Ia tahu, bahwa ia sudah aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;===&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;First Contact with Michele&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When I embraced Michele’s hands for the first time, her hands were cold. She opened her tiny arms widely, asking to be carried. Then I was carrying her for my first time, and she grabbed my shirt tightly, as if she did not want me to let go. As if, she was afraid to be abandoned.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Like a human baby, orangutan baby needs its mother’s love. Supposedly, young orangutans are nourished from their mothers at about 6-7 years of age, and orangutan baby never be separated from the mother. Michele is five month-old female orangutan which lives in the Botanical Garden of Mulawarman University Samarinda (KRUS). But, at her very young age, Michele must be separated from her mother.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A villager of Tanah Merah, Lempake, Samarinda, East Kalimantan, had given Michele into KRUS’ care on 23 July 2011. She was found in a field belonging to the villager. Since then, Michele had to live alone without her mother. In her new beginning life at KRUS, she had a fever. But she recovered from her fever quickly because she was taken care by many people at KRUS; the volunteers and the animal keepers. And Michele is not alone anymore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When I arrived at KRUS, Michele has one other mother, that is me. I fell in love with Michele when I touched her at my first time. I embraced her warmly. She was smiling at me as if she was in a secure and comfortable place. When she was getting sleepy, I put her on her basket that used as bed, then she would cry hysterically.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I could see that the tiny baby was afraid to be abandoned. And Michele, should not have such fear expression if she was in her mother’s arms. I felt pity on her, when I saw her began to bawl to be cuddled. Then, I carried her in my arms.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Please don’t cry baby Icel, Mommy is here,” I said to her and looked into her eyes. Then Michele stopped to cry. She was smiling. Now, she knows that she is safe.&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-5032679069742289314?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/5032679069742289314/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/08/sentuhan-pertama.html#comment-form' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/5032679069742289314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/5032679069742289314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/08/sentuhan-pertama.html' title='Sentuhan Pertama'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-OrR9ryAuCHQ/Tkd0xC3EHuI/AAAAAAAAAPY/biqqkZWoR-Y/s72-c/IMG_0306.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-772092868528635739</id><published>2011-05-02T22:15:00.004+07:00</published><updated>2011-05-02T23:17:45.429+07:00</updated><title type='text'>My Inspirational Award</title><content type='html'>Halo para safari,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru saja mendapat sebuah award! An 'Inspiration Award'. Do you think that I am inspirational enough? I hope so. Narsis dikit lah :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thank you so much &lt;a href="http://kuwacikecil.blogspot.com/2011/05/sofa-baru-kado-kacamata-oranye-dua.html"&gt;Ria Papermoon&lt;/a&gt;, an inspirational friend who gave me this award :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here it is:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-4k2AAASQjHc/Tb7R9KDNBKI/AAAAAAAAAMQ/wctElAiGUbA/s1600/Inspriation_award.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 262px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-4k2AAASQjHc/Tb7R9KDNBKI/AAAAAAAAAMQ/wctElAiGUbA/s400/Inspriation_award.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602145835095491746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And the rules for this award are:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Thank and link back to the person that awarded this to you.&lt;br /&gt;2.Give the award to 10 blogs which are all inspiring in their own ways. ie. fashion, religious, random, islam/religion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Again, thank you &lt;a href="http://kuwacikecil.blogspot.com/2011/05/sofa-baru-kado-kacamata-oranye-dua.html"&gt;Ria&lt;/a&gt;! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. And this award goes to... jreng jreng jreeeeeeeng: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://kurakurakikuk.blogspot.com/"&gt;Vani&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://kuwacikecil.blogspot.com/"&gt;Ria&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://bikeyeah.org/"&gt;Bike Yeaaah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://jurnalisis.wordpress.com/"&gt;Lisis&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://sigidmaneh.blogspot.com/"&gt;Sigid&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://sitasarit.blogspot.com/"&gt;Sita&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://www.kakigatel.com/"&gt;Kaki Gatel&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://elieffendi.blogspot.com/"&gt;Eli Effendi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://www.matatita.com/"&gt;Matatita&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://pejalanjauh.com/"&gt;pejalan jauh&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yes, they all are inspirational, and they deserve to get this award! Who are your inspiration, my dear safari? Lets do this award!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cheers,&lt;br /&gt;Fian&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-772092868528635739?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/772092868528635739/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/05/my-inspirational-award.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/772092868528635739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/772092868528635739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/05/my-inspirational-award.html' title='My Inspirational Award'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-4k2AAASQjHc/Tb7R9KDNBKI/AAAAAAAAAMQ/wctElAiGUbA/s72-c/Inspriation_award.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-2857886367930469185</id><published>2011-04-03T17:07:00.007+07:00</published><updated>2011-04-03T17:49:53.942+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='waterfall'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Simeulue'/><title type='text'>Telaga Berundak Putra Jaya</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-4etdCGLxQxc/TZhLc33uPcI/AAAAAAAAALw/P3gBDPWbquU/s1600/IMG_5852.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-4etdCGLxQxc/TZhLc33uPcI/AAAAAAAAALw/P3gBDPWbquU/s400/IMG_5852.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5591301896786558402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak rugi menjadi orang Indonesia. Ke mana pun kaki saya melangkah, pasti disuguhi pemandangan luar biasa indah. Jangan sampai, tempat-tempat indah ini tidak diusik oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela perjalanan dari Sinabang ke Kampung Aie (November 2010), berhentilah saya dan kawan-kawan di sebuah air terjun. Putra Jaya namanya. Tempatnya menyempil tertutup oleh pepohonan di pinggir jalan raya. Sepeda motor saja hanya bisa diparkir di luar area sungai saking sempitnya jalan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun berjalan mengikuti langkah kawan-kawan sambil menikmati suara air terjun dari kejauhan. Begitu sampai di lokasi, Fira salah seorang kawan saya nyeletuk, “Wah, kok jadi kayak gini ya? Dulu nggak kayak gini, ini pasti kerjaannya tukang gali pasir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sih tidak tahu bentuk air terjun ini sebelumnya. Yang pasti ketika kawan saya bilang seperti itu dan melihat air terjunnya ketika itu, bagus-bagus saja. Bagian pinggir sungai memang tidak rapi, mungkin bekas galian. Namun bagian telaga tepat di bawah air terjunnya baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-JU2w24cJ0Pc/TZhLc-xVQ0I/AAAAAAAAAL4/oB2HbjG1t1U/s1600/IMG_5870.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-JU2w24cJ0Pc/TZhLc-xVQ0I/AAAAAAAAAL4/oB2HbjG1t1U/s400/IMG_5870.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5591301898638803778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;naik-naik ke Putra Jaya...&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita naik saja,” ajak Fira. Naik? Batin saya. Rupanya bentuk air terjun di Putra Jaya ini berundak, entah berapa tingkat. Dengan berpegangan akar pohon dan kaki menginjak batu yang tertutup air terjun, saya pun naik ke atas. Di sana ada telaga lagi dengan air yang lebih jernih dari pada di dasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Naik ke atas lagi saja, di sana ada pondokan,” kata Fira lagi. Saya pun menuruti. Di sini, saya sedikit mengulang petualangan masa kecil di Simeulue. Masuk ke dalam hutan, naik ke bukit mencari kupu-kupu, atau lari ketakutan karena suara babi hutan. Di Putra Jaya, saya semakin penasaran dengan telaga-telaga yang berada di bagian atas. Lebih atas pasti lebih bagus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-pax9zxkbTBg/TZhLdKa7evI/AAAAAAAAAMA/taIIokoICT0/s1600/IMG_5917.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-pax9zxkbTBg/TZhLdKa7evI/AAAAAAAAAMA/taIIokoICT0/s400/IMG_5917.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5591301901766064882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;singgasana saya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, setelah beberapa kali memanjat bebatuan yang licin, saya pun menemukan telaga yang akan saya gunakan untuk berendam. Saya langsung ganti baju, kemudian menyeburkan diri ke dalam telaga itu. Segar! Apalagi di berada di bawah air terjunnya, seperti dipijit-pijit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, benarkah sungai ini sering dijadikan tempat galian? Kalau iya, entah bagaimana bentuknya jika saya kelak ke Simeulue lagi. Semoga Pemerintah Simeulue sadar dan segera melarang penggalian pasir di Putra Jaya. Sebab Putra Jaya adalah salah satu aset Pulau Simeulue di antara aset-aset indah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-4yP25gEknfU/TZhLdU2V86I/AAAAAAAAAMI/teLsoAqY9jA/s1600/IMG_5950.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-4yP25gEknfU/TZhLdU2V86I/AAAAAAAAAMI/teLsoAqY9jA/s400/IMG_5950.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5591301904565400482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;asiknya mandi-mandi di Putra Jaya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-2857886367930469185?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/2857886367930469185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/04/telaga-berundak-putra-jaya_03.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/2857886367930469185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/2857886367930469185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/04/telaga-berundak-putra-jaya_03.html' title='Telaga Berundak Putra Jaya'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-4etdCGLxQxc/TZhLc33uPcI/AAAAAAAAALw/P3gBDPWbquU/s72-c/IMG_5852.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-1848605805298578222</id><published>2011-03-05T15:34:00.008+07:00</published><updated>2011-03-06T17:24:00.746+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='conservancy'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belitung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='beach'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='thought'/><title type='text'>Ingin Menikmati Laut tanpa Sampah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-AQk8k9LmE7k/TXH359nGVcI/AAAAAAAAALA/3TtyL5QbKvM/s1600/IMG_7820.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 237px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-AQk8k9LmE7k/TXH359nGVcI/AAAAAAAAALA/3TtyL5QbKvM/s400/IMG_7820.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5580513988451915202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;sampah di tanjung pendam, belitung&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Too bad&lt;/span&gt;. Begitulah ketika saya meyaksikan pemandangan Tanjung Pendam di Pulau Belitung yang saya kunjungi tahun 2010 lalu. Sangat berbeda dengan 15 tahun yang lalu ketika saya masih bisa menemukan kulit kerang yang beraneka ragam dengan mudah. Sekarang, saya bisa menemukan sampah dengan mudah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana nasibnya 15 tahun mendatang? Jangan-jangan Tanjung Pendam berubah nama menjadi TPA alias tempat pembuangan akhir. &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Oh no! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pantai ini, sebenarnya dengan mudah kita bisa melihat matahari terbenam, sangat cantik di sore hari dengan awan berwarna oranye. Tak heran jika banyak orang menikmati keindahannya. Namun, sangat disayangkan jika pada akhirnya tempat ini sudah tidak indah lagi karena banyak sampah. Juga bau sampah, bukan lagi bau laut dan kerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah akan lebih indah jika pantai itu bersih seperti ini? :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-F71YAvZs8vc/TXH5k5c1YuI/AAAAAAAAALI/EI7fwpO7Ack/s1600/IMG_7847.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 186px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-F71YAvZs8vc/TXH5k5c1YuI/AAAAAAAAALI/EI7fwpO7Ack/s400/IMG_7847.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5580515825581122274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bisa sendiri. Saya butuh para safari untuk menjaga alam agar tidak tercemar oleh sampah. Maka kita akan sama-sama bisa melihat laut yang bersih dan indah. Sederhana bukan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-1848605805298578222?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/1848605805298578222/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/03/keinginan-sederhana-menikmati-laut.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/1848605805298578222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/1848605805298578222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/03/keinginan-sederhana-menikmati-laut.html' title='Ingin Menikmati Laut tanpa Sampah'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-AQk8k9LmE7k/TXH359nGVcI/AAAAAAAAALA/3TtyL5QbKvM/s72-c/IMG_7820.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-2064464163924200252</id><published>2011-03-03T00:01:00.006+07:00</published><updated>2011-04-01T16:05:57.191+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='conservancy'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalimantan Tengah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Forest'/><title type='text'>Mencicipi Hutan Kalimantan</title><content type='html'>&lt;div id="PictoBrowser110303002513"&gt;Get the flash player here: http://www.adobe.com/flashplayer&lt;/div&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://www.db798.com/pictobrowser/swfobject.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;var so = new SWFObject("http://www.db798.com/pictobrowser.swf", "PictoBrowser", "500", "500", "8", "#DDDDDD"); so.addParam("quality", "low"); so.addParam("scale", "noscale"); so.addParam("align", "mid"); so.addVariable("ids", "72157626182083150"); so.addVariable("names", "Taman Nasional Sebangau"); so.addVariable("userName", "Fian Khairunnisa"); so.addVariable("userId", "52925540@N04"); so.addVariable("source", "sets"); so.write("PictoBrowser110303002513"); &lt;/script&gt;&lt;br /&gt;Memandang Kalimantan adalah memandang hutan. Begitulah yang ada dalam benak saya ketika akan melakukan perjalanan ke Kalimantan, Palangkaraya tepatnya (Feb, 2011). Namun, mengingat banyaknya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;illegal logging&lt;/span&gt; ditambah kebakaran hutan membuat saya sempat pesimis. Apakah saya masih bisa menemukan hutan di Kalimantan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum, ini adalah pertama kalinya saya ke Kalimantan, dan sudah lama tidak masuk hutan. Maka ketika di Palangkaraya yang saya cari adalah hutan, dan tentu saja penghuninya yang paling terkenal, yaitu orangutan Borneo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, saya menemukan iklan hutan di Palangkaraya: Taman Nasional Sebangau. Saya sedikit asing dengan taman nasional satu ini, dan merasa penasaran ketika melihat outreach TN Sebangau yang menggambarkan hutan, juga flora dan fauna yang ada di dalamnya. Saya membatin: ini akan menjadi tujuan utama saya di Palangkaraya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah menemukan beberapa informasi soal Sebangau di Resort Sebangau Hulu, Desa Kereng Bangkirai, saya pun dengan mantap dan mewajibkan diri untuk segera masuk ke dalamnya meskipun kocek yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Setelah itu ditentukan hari 'H' untuk menjelajahi secuil TN Sebangau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung rombongan saya pada waktu itu dipandu langsung oleh Kepala Resort Sebangau Hulu, Mbak Suli. Sehingga anggaran biaya kami tidak dibebankan untuk pemandu. Juga tentu saja informasi yang didapat lebih akurat dan mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari Senin yang menawan bersama hujan, speedboat yang akan membawa kami menjelajah TN Sebangau sudah siap di dermaga. Langit masih berwarna gelap, menambah nuansa mistis yang memantul di air 'coca-cola', sebutan air rawa gambut di Kalimnatan Tengah. Warna ini muncul akibat dari proses pelapukan bahan organik di lahan gambut; seperti akar, batang pohon dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan rasau (sejenis pandan) yang hanya tampak dari dermaga, kini tampak wujud aslinya, bergerigi pada pinggirnya. Mata saya tak lepas memandangi kiri kanan sambil mendengarkan penjelasan Mbak Suli soal kebakaran hutan dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;illegal logging&lt;/span&gt; yang terjadi beberapa tahun silam. Ngeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh menit kemudian, kami pun sampai di lokasi menjelajah hutan, yaitu Blok Kerja Sungai Koran, Resort Sebangau Hulu (salah satu dari 8 Resort TN Sebangau), SPTN (Seksi Pengelolaan Taman Nasional) wilayah 1 Palangkaraya, TN Sebangau. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Well&lt;/span&gt;, hutannya memang asli, bekas illegal logging, dan yang paling mengesankan adalah tanah gambutnya yang membuat kaki saya berkali-kali terbenam di dalamnya. Dan yang paling mengasyikkan, di hutan di TN Sebangau ini bebas dari yang namanya lintah. Hore! Maklum, saya phobia dengan hewan berlendir satu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hutan kita bisa belajar macam-macam flora, seperti pohon-pohon, termasuk jenis pohon yang sering ditebang, misal belangeran dan ramin. Juga fauna, yaitu burung rangkong dan juga yang paling terkenal adalah orangutan. Sayang kedatangan saya tidak seberuntung itu, di perjalanan ini, saya tidak bisa melihat orangutan liar dari dekat. Entah karena memang musim penghujan, entah memang karena mereka sedikit takut dengan suara speedboat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, orangutan sangat mudah dilihat di &lt;a href="http://safaribumi.blogspot.com/2011/02/oragutan-bahagia-di-hutan.html"&gt;Pulau Palas di Nyaru Menteng&lt;/a&gt;, sehingga saya tidak menyesal tidak bisa melihat orangutan di habitat aslinya. Sebaliknya, banyak hal yang bisa saya nikmati dan kagumi dari perjalanan ini. Saya sadar bahwa Indonesia sangat luas dan indah. Betapa menjelajahi hutan sepanjang 1,5 kilometer butuh waktu 3,5 jam karena saking luas dan indahnya pemandangan di kanan kiri. Dan waktu 12 jam itu, saya hanya menempuh 1,5 km hutan, 45 menit susur Sungai Koran, sisanya menikmati hutan dan penghuninya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan betapa tidak cukup hanya 12 jam, bahkan butuh waktu berbulan-bulan untuk menjelajahi hutan di Kalimantan. Apalagi hingga bertemu dengan penghuninya. Dan perjalanan ini hanya secuil saja. Entah kapan saya bisa menjelajah seluruh Kalimantan dan menemui penghuni lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa, jika alam itu terjaga, maka saya tidak akan takut tidak bisa melihat hutan beserta penghuninya. Saya salut dengan usaha TN Sebangau yang telah melestarikan hutan rawa gambut, juga melakukan reboisasi di daerah bekas terbakar dan tebangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Betapa, saya semakin cinta Indonesia!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Sebenarnya ada banyak pintu gerbang menuju TN Sebangau, salah satunya adalah Desa Kereng Bangkirai. Untuk ke Desa Kereng Bangkirai dari Palangkaraya, bisa menyewa kendaraan bermotor, seperti sepeda motor atau mobil. Jika ingin murah naik angkot atau ojek sepeda motor. Untuk berkeliling TN Sebangau, bisa menyewa speedboat atau kelotok dari warga setempat, berkisar 150 ribu (belum termasuk BBM, driver dan pemandu). Biasanya dipatok harga untuk driver 75ribu, pemandu lokal 75ribu, pemandu balai 185ribu, dan BBM 50ribu. Untuk informasi bisa langsung menghubungi Balai TN Sebangau, Jl. Mahir Mahar km 1,2, telepon: (0536) 3327093.&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-2064464163924200252?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/2064464163924200252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/03/mencicipi-hutan-kalimantan.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/2064464163924200252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/2064464163924200252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/03/mencicipi-hutan-kalimantan.html' title='Mencicipi Hutan Kalimantan'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-3300623795756040413</id><published>2011-02-14T02:01:00.016+07:00</published><updated>2011-04-01T16:00:24.230+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='conservancy'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalimantan Tengah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fauna'/><title type='text'>Orangutan Bahagia Di Hutan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-B6dgfMhvcQ4/TVgtj0dtbTI/AAAAAAAAAKI/m2HXJPvDcYY/s1600/IMG_0544%2Bcopy.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-B6dgfMhvcQ4/TVgtj0dtbTI/AAAAAAAAAKI/m2HXJPvDcYY/s400/IMG_0544%2Bcopy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5573254632272915762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hutanku, rumahku :)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jangan bayangkan Anda bisa memeluk dan berjabat tangan dengan orang utan jika Anda berada di kawasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah. Sebab, orangutan yang berada di kawasan ini bukan sebagai tontonan layaknya di kebun binatang, yang jinak terhadap manusia. Justru di sini, orangutan sengaja diliarkan kembali, agar bisa hidup kembali di habitatnya, jauh dari jangkauan manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor orangutan sedang melamun di pinggir Pulau Palas yang berhadapan dengan Sungai Rungan, Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah. Ia segera beranjak dari lamunannya ketika perahu kami berhenti di ‘dermaga’ sederhana, sebuat tempat meletakkan makanan orangutan yang tinggal di Pulau Palas. Orangutan itu bergerak perlahan menuju arah perahu kami yang hanya boleh mencapai dermaga. Ia mencoba meraih perahu, namun tak bisa karena dihalangi air sungai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia jelas tidak bisa berenang dan merasa geram karena tidak bisa melintasi sungai. Ia pun melempar batang kayu kecil, juga kulit pisang ke arah perahu kami. Kadang ia nyengir melihat kami memanggilnya dengan gerakan tangan menyuruhnya mendekat. Ia pun merentangkan tangannya lebar-lebar, meminta dipeluk. Yang saya tahu, orangutan itu belum lulus dari karantinanya di Pulau Palas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari Palangkaraya, Nyaru Menteng hanya berjarak 30-an kilometer. Sedang untuk ke Pulau Palas, wisatawan membutuhkan kendaraan air yang mudah didapat di dermaga Danau Tahai yang tak jauh dari BOSF, tempat kelotok dan speedboat bersandar. Tak sampai 30 menit jarak dari Danau Tahai ke Pulau Palas. Di perjalanan, akan disuguhi pemandangan pepohonan yang memantulkan wujudnya di air Sungai Rungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Palas merupakan tempat pra-rilis orangutan milik BOSF. Itu adalah sebuah pulau kecil di Sungai Rungan yang masih satu aliran dengan Danau Tahai. Badan sungai mengikuti tumbuhan di sekitarnya, sehingga ada yang sempit, dan kadang menemui badan sungai yang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pulau Palas kita memang bisa dengan mudah menemukan orangutan daripada bagian lain di Kalimantan Tengah. Bahkan, jika datang ke puast karantinanya di BOSF, orangutan hanya bisa dilihat dari balik kaca pusat informasi BOSF, yang ditempatkan di dalam sebuah kandang besar. Itu pun hanya dibuka hari Minggu saja, atau hari libur nasional lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sifatnya yang masih pra-rilis, maka orangutan di Pulau Palas ini masih tertinggal sifat jinak. Maklum saja, kebanyakan orangutan yang ada di BOSF merupakan tangkapan dari pemilik yang memelihara orangutan secara ilegal. Sehingga peraturan bagi wisatawan yang ingin melihat orangutan di pulau tidak boleh turun. Hanya boleh melihat mereka dari atas kelotok. Maklum, mereka memang sedang dijauhkan dari manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika telah ‘lulus’, maka mereka akan dirilis di hutan-hutan yang jauh dari jangkauan manusia. Ada sekitar 35 orangutan ketika saya berkunjung ke Pulau Palas pada Februari 2011 lalu. Orangutan yang ada di pulau tersebut telah berusia remaja (di atas 7 tahun). Sedang orangutan yang masih berusia anak-anak ‘disekolahkan’ di Nyaru Menteng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sini ada 619 orangutan yang dikarantina untuk diliarkan,” ujar Hermansyah, salah satu staf komunikasi di Pusat Informasi BOSF. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia menjelaskan proses meliarkan orangutan yang dimulai dari karantina, sosialisasi dengan kelompoknya, kemudian prarilis (Pulau Palas), dan terakhir adalah merilis orangutan di hutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah proses yang panjang, bisa memakan satu sampau dua tahun. Biasanya, orangutan-orangutan ini adalah orangutan yang diambil dari manusia yang memelihara secara ilegal,” lanjut Hermansyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa orangutan harus diselamatkan? Begini Hermansyah menjelaskan; hutan membutuhkan orangutan untuk tetap hidup. Sebab orangutan adalah penghuni hutan yang menyebar biji dan juga sebagai si pemelihara hutan. Jika tidak ada orangutan, maka regenerasi pohon di Kalimantan tidak maksimal. Hutan pun akan lebih cepat habis ditebang ketimbang rimbun penuh pohon. Yang lebih buruk, hewan lain penghuni hutan pun akan kehilangan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apakah Anda masih ingin memeluk orangutan? Saya yakin, Anda lebih ingin membebaskan orangutan setelah Anda mampir ke Pulau Palas. Saya sadar, mereka bukanlah hewan peliharaan, bukan untuk dipeluk maupun dicium. Saya lebih suka melihat mereka bergelantungan di atas pohon di hutan dan menikmati buah-buahan di sarang mereka. Sesekali, cobalah Anda tengok mereka di sini, mereka tampak bahagia ketimbang di kebun binatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-0mtZkp0OSrw/TVgtsc5yB3I/AAAAAAAAAKQ/7_wYlbHN2gM/s1600/IMG_0495%2Bcopy.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-0mtZkp0OSrw/TVgtsc5yB3I/AAAAAAAAAKQ/7_wYlbHN2gM/s400/IMG_0495%2Bcopy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5573254780567029618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;see their happy face :)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) BOSF di Nyaru Menteng hanya dibuka untuk umum pada hari Minggu atau hari libur. Namun jangan harap bisa memeluk orangutan di sini. Sebab kita hanya bisa melihat orangutan dari balik kaca, yaitu orangutan yang sedang dikarantina. Di sini adalah sarana edukasi bagi masyarakat untuk menyosialisasikan bahwa orangutan itu bukan hewan peliharaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Arfiana Khairunnisa, Kedaulatan Rakyat 27 Maret 2011&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-3300623795756040413?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/3300623795756040413/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/02/oragutan-bahagia-di-hutan.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/3300623795756040413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/3300623795756040413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/02/oragutan-bahagia-di-hutan.html' title='Orangutan Bahagia Di Hutan'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-B6dgfMhvcQ4/TVgtj0dtbTI/AAAAAAAAAKI/m2HXJPvDcYY/s72-c/IMG_0544%2Bcopy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-926751278690861976</id><published>2011-02-03T11:55:00.005+07:00</published><updated>2011-02-03T23:04:36.929+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='experiences'/><title type='text'>Antisipasi, Kroscek dan Update!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TUrR4vek0-I/AAAAAAAAAKA/IV5t90hg-04/s1600/httpfarm3.static.flickr.com23342511799073_a50c9c5292_z.jpgzz%253D1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 284px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TUrR4vek0-I/AAAAAAAAAKA/IV5t90hg-04/s320/httpfarm3.static.flickr.com23342511799073_a50c9c5292_z.jpgzz%253D1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5569494661944628194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Februari 2011,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pengalaman ini pernah juga dialami oleh para safari. Namun ada baiknya saya share di sini sehingga bisa juga mengingatkan saya untuk selalu mengantisipasi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;update&lt;/span&gt;, dan kroscek kembali jadwal bepergian. Sehingga semua berjalan sesuai harapan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tiket pesawat sudah di tangan, tempat wisata ketika tiba di tujuan sudah terjadwal dengan baik, barang bawaan sudah lengkap alias tidak ada yang ketinggalan. Sedang asyik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;check in&lt;/span&gt;, tiba-tiba petugasnya bilang: "Mbak, pesawatnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cancel&lt;/span&gt;, sudah terbang dua jam sebelumnya," katanya dengan senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Semua langsung buyar! Langsung saya cek ke maskapai penerbangan yang saya pesan. Memang benar jika pesawat yang seharusnya saya tumpangi diajukan dua jam dari jadwal semula. Dan itu adalah pesawat terakhir pada hari itu. Terpaksa jadwal berganti jadi keesokan harinya. Meskipun jadi berangkat, namun tetap saja sudah setengah hati menjalaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiket pesawat itu ibu saya yang memesan, sehingga nomor kontak jika jadwal terbang pesawat berubah ibu saya yang seharusnya tahu. Petugas maskapai mengatakan jika ibu saya sudah dihubungi soal perubahan jadwal 3 hari berturut-turut, namun ibu saya tidak mengangkat telepon tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengalaman saya terbang dengan maskapai ini, jika tidak ada jawaban, petugas biasanya mengirim SMS. Tetapi entah mengapa hari itu mungkin memang sialnya kami, ibu saya tidak menerima sms perubahan jadwal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan saatnya saling menyalahkan. Antisipasi, selalu kroscek dan ikuti perkembangan terkini adalah kunci penting ketika sedang menyusun sebuah perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun pernah hampir tidak jadi berangkat ke Simeulue karena jadwal yang berubah-ubah sebab Gunung Merapi tidak bisa diprediksi. Untungnya saya sudah mengantisipasi dengan memesan penerbangan H-4 sebelum ke tempat tujuan. Saya langsung mengubah jadwal terbang ketika mendapat SMS pesawat tidak bisa terbang dari Jogja. Jadi saya masih bisa mencapai tempat tujuan saya dengan cara lain, ketimbang seluruh tiket hangus semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika semua sudah mengikuti perkembangan keadaan alam, maskapai penerbangan sudah berusaha memberi tahu, dan masih ketinggalan pesawat? Ada baiknya kelak jika saya bepergian lagi, saya akan selalu pantau maskapai yang saya pesan. Paling tidak 3 hari berturut-turut sebelum hari H. Paling tidak kejadian yang saya alami, juga para calon penumpang sebuah penerbangan yang tiba-tiba gulung tikar, bisa diantisipasi. Yaitu dengan selalu mengkroscek dan update info dari maskapai penerbangan yang telah dipesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain kali saya harus kroscek sendiri. Masa bodoh kalau dibilang cerewet, daripada jadwal berantakan semua, dan sayang hari cuti yang telah diambil. Untungnya saya masih di Jogja. Saya tidak membayangkan ketika saya berada di kota lain, sendirian, dan ketinggalan pesawat. Wah!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-926751278690861976?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/926751278690861976/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/02/antisipasi-kroscek-dan-update.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/926751278690861976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/926751278690861976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/02/antisipasi-kroscek-dan-update.html' title='Antisipasi, Kroscek dan Update!'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TUrR4vek0-I/AAAAAAAAAKA/IV5t90hg-04/s72-c/httpfarm3.static.flickr.com23342511799073_a50c9c5292_z.jpgzz%253D1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-124650770505479200</id><published>2011-01-10T00:08:00.003+07:00</published><updated>2011-01-10T00:13:54.823+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hobby'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bicycling'/><title type='text'>Kalap Belanja Nyepeda di Bandung</title><content type='html'>"Yuk bersepeda di Bandung," kata teman saya (2008). Tawaran yang menarik ketika saya sedang hangat-hangat (tai ayam) bersepeda. Jadi tawaran itu saya iyakan. Bandung kan kota hujan, jadi akan teduh jika bersepeda. Begitu pikiran saya sebelum sampai di kota kembang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jogja, kami sudah akan mempersiapkan sepeda. Namun setelah tanya kanan kiri dan kontak teman-teman di Bike to Work Bandung, akhirnya kami berhasil meminjam dua buah sepeda sekaligus (thanks to Mas Tiyo B2W Bandung). Kami pun bisa menghemat uang bagasi untuk sepeda di kereta api, dan tidak repot membawa sepeda lipatan ke sana ke sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Stasiun Bandung, kami langsung naik angkot menuju tempat pengambilan sepeda (lupa namanya). Berbinarlah mata saya setelah melihat sepeda yang akan saya pinjam: Giant Iguana frame 14" yang sangat cocok dengan tinggi badan saya yang sedang-sedang saja, kemudian sepeda lipat Polygon, yang sangat pas pula dengan teman saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermodal sepeda pinjaman itulah kami langsung (tanpa pemanasan) gowes ke arah Dago, Jl. Ir H Juanda, untuk mencari penginapan. Melewati Jalan Layang Pasopati, kebun binatang, dan jalan yang naik turun tak terasa saking happynya kami mendapat sepeda yang nyaman dan bagi saya sendiri, ini adalah pengalaman pertama ke kota Bandung. Sampailah kami di Dago yang banyak factory outletnya. Dasarnya doyan belanja, malah lupa cari penginapan. Yang tadinya mau cari penginapan, kami memuaskan hasrat belanja kami terlebih dahulu. Beli ini, beli itu, enggak terasa sudah sampai di perempatan yang ada tulisan D.A.G.O besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TSnr085CpZI/AAAAAAAAAJM/MR8tutg8lnY/s1600/n1559267655_20396_5773.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TSnr085CpZI/AAAAAAAAAJM/MR8tutg8lnY/s400/n1559267655_20396_5773.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5560234509896689042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jalan menurun di sepanjang Dago, sebelum kapok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Wah! Penginapan belum dapat (meski sudah dapat baju banyak), kami gowes lagi (kali ini benar-benar cari penginapan). Setelah dari perempatan D.A.G.O, kami gowes (menanjak ke Jl. Ir. H Juanda) untuk cari penginapan yang lebih murah. Logikanya, semakin naik, semakin murah, karena semakin jauh dari pusat keramaian. Kalau kami lupa kalau kami naik sepeda, mungkin saya bisa pingsan tuh cari penginapan murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hampir pingsan karena menanjak lebih lama, sampailah kami di sebuah hotel. Tidak terlalu mahal, kamar dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;two beds&lt;/span&gt; yang di dalamnya ada kamar mandi dengan pintu transparan. Dari hasil setengah mengintip, di kamar yang lain tempat tidur dipasangi kelambu. Dan banyak pasangan berseliweran di lorong kamar kami. Usut punya usut setelah bercerita tentang penginapan kami dengan teman-teman di Bandung, rupanya hotel ini memang hotel favorit pasangan yang mencari cinta. Wah! pantas saja di tempat tidur, kami menemukan sehelai rambut yang kami kira dari bentuknya adalah rambut kemaluan, he he he...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi ke kisah bersepeda di kota Bandung, setelah dapat hotel kami kembali &lt;strike&gt;belanja&lt;/strike&gt; nyepeda. Untungnya hotel kami berada di atas, dan kami pun tinggal meluncur ke bawah. Lewat Gedung Sate, lewat kantor teman, dan kemudian berkumpul dengan teman-teman B2W di perempatan D.A.G.O yang kebetulan mengadakan night ride. Betul-betul sambutan hangat yang menyenangkan. Trims temans!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sambung malam bersepeda dengan teman-teman, masih tak terasa capeknya. Namun setelah hampir tengah malam, udara Bandung yang dingin ditambah dengan menanjaknya (jauhnya) penginapan kami, akhirnya kami menyerah bersepeda. Rupanya kami keenakan bersepeda di jalanan menurun sehingga tak terasa, sudah jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berat hati dan karena sudah berat kaki, sepeda kami tinggalkan di kantor seorang teman. Lalu kami meminjam sepeda motor dan berteriak 'alhamdulillah' tidak pulang bersepeda. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Well&lt;/span&gt;, Bandung memang banyak pohon (dan angkot), tapi jalannya yang naik turun, hanya orang-orang yang tabah yang bisa menjalaninya. Ampuuuuuun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Dan beberapa hari kemudian di Bandung, kami masih menyita motor teman kami untuk berkeliling kota Bandung.  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-124650770505479200?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/124650770505479200/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/01/yuk-bersepeda-di-bandung-kata-teman.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/124650770505479200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/124650770505479200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/01/yuk-bersepeda-di-bandung-kata-teman.html' title='Kalap &lt;strike&gt;Belanja&lt;/strike&gt; Nyepeda di Bandung'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TSnr085CpZI/AAAAAAAAAJM/MR8tutg8lnY/s72-c/n1559267655_20396_5773.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-2275056259653369232</id><published>2011-01-01T17:49:00.007+07:00</published><updated>2011-01-10T00:16:47.765+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='waterfall'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Tengah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='relax'/><title type='text'>Ngiler Pijat Belerang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TR8H8HjgYtI/AAAAAAAAAIs/5GMGYV4-axc/s1600/IMG_7904%2Bcopy.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 251px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TR8H8HjgYtI/AAAAAAAAAIs/5GMGYV4-axc/s400/IMG_7904%2Bcopy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5557169194599998162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Ngiler. Begitulah ketika pertama kali saya sampai di Pancuran Pitu atau Pancuran Tujuh (2010), di kawasan wisata Baturaden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Bagaimana saya enggak ngiler? Sampai di sana, selain disuguhi pemandangan bagus, segerombolan bapak-bapak sedang dipijat dan kaki berendam di air hangat (tepatnya panas) dari pancuran  yang bersumber di Gunung Slamet itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja saya langsung jadi kepingin. Maklum sudah lama tidak pijat, ditambah pekerjaan yang tak kunjung selesai, badan pun pegal. Pijat adalah salah satu alternatif saya untuk membuat otot badan rileks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya sana, tanya sini, rupanya tidak ada pijat khusus perempuan. Wah! Saya kan kepingin pijat seluruh badan. Padahal para jasa pemijat di sini laki-laki semua. Dan mereka tetap memaksa saya untuk mau dipijat. Enggak sembarang saya menerima tawaran pijat Rp. 20.000 mereka. Saya tetap pilih-pilih dong, he he he.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Akhirnya saya mengurungkan niat sejenak, sambil memilih tukang pijat dan menikmati suasana di Pancuran Pitu ini. Saya pun mencoba mencuci muka saya yang kebetulan sedang berjerawat. Katanya kalau kena air di pancuran ini, segala penyakit kulit bisa sembuh. Nyosss, begitu ketika air Pancuran Pitu mengenai wajah saya. Super panas! Bagaimana tidak panas, suhunya 70 – 90 derajat Celcius dan ada kandungan belerangnya. Namun begitu tujuh pancuran kecil di pancuran ini saya lalui juga, demi jerawat mengering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai mencuci wajah di pancuran, saya dan kawan bereksplorasi di kawasan ini. Saya menyusuri jalan setapak menuju Goa Selirang yang masih satu kawasan dengan tempat wisata ini. Lumayan melelahkan, bahkan hawa sejuk pun kalah dengan keringat yang mengucur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba mata saya berbinar melihat air terjun yang masih menyambung dari Pancuran Pitu, dan airnya tidak sepanas di sumbernya, malahan hangat, pas untuk mandi. Saya pun langsung menyerbu ke bawah air terjun itu. Benar-benar hangat dan nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TR8H8kjbo0I/AAAAAAAAAI0/qmSIupTTbXQ/s1600/IMG_7974%2Bcopy.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 254px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TR8H8kjbo0I/AAAAAAAAAI0/qmSIupTTbXQ/s400/IMG_7974%2Bcopy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5557169202384315202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Inilah air terjunnya, pemandangan saat pijat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Rupanya ada pemijat juga di sini. Saya langsung bertanya berapa biaya pijatnya. Dia jawab Rp. 15.000,-. Langsung tambah berbinarlah saya! Apalagi tidak banyak bapak-bapak di sini, hanya saya dan beberapa kawan yang berada di sini. Jadi saya pun langsung minta pijat. Tangan dan kaki. Plus lulur belerang tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang tidak salah pilih, pijatan Pak Warsono asal Desa Kalipagu ini memang mantap. Kaki tangan saya yang semula pegal langsung hilang seketika. Tambah Rp. 5000,- saya pun minta dipijat punggung. Tambah mantap! Selama lebih dari satu jam saya keenakan dipijat Pak Warsono. Eits jangan membayangkan yang bukan-bukan ya. Ini pijat di alam terbuka sambil menikmati suara air mengalir plus bebatuan nan indah di hadapan saya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;I really, really enjoy my life when I got massage!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, pijatan tersebut hanya bertahan beberapa menit saja. Lha wong habis pijat langsung naik tangga sampai parkiran! Seandainya saya punya yang seperti ini di rumah; jasa pijat dan pemandangan cantik Pancuran Pitu. Tentunya habis pijat tidak perlu naik banyak anak tangga yang bikin otot yang sudah tersusun rapi buyar semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Esok harinya, jerawat saya sudah kering! Belerangnya memang mantap mengobati jerawat. Dan paling tidak, kulit saya jadi sedikit halus berkat pijat belerang Pak Warsono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TR8H-ymwHPI/AAAAAAAAAI8/Be3-MFOXN2E/s1600/IMG_7997%2Bcopy.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TR8H-ymwHPI/AAAAAAAAAI8/Be3-MFOXN2E/s400/IMG_7997%2Bcopy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5557169240516074738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pijatnya mantap, bo'!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-2275056259653369232?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/2275056259653369232/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/01/ngiler-pijat-belerang.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/2275056259653369232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/2275056259653369232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2011/01/ngiler-pijat-belerang.html' title='Ngiler Pijat Belerang'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TR8H8HjgYtI/AAAAAAAAAIs/5GMGYV4-axc/s72-c/IMG_7904%2Bcopy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-30499725549390910</id><published>2010-12-31T01:06:00.006+07:00</published><updated>2010-12-31T12:47:50.594+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culinary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vietnam'/><title type='text'>Pork Bites</title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TRzLPbefanI/AAAAAAAAAIc/4kzsm7VMJec/s1600/IMG_8602.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 267px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556539506202471026" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TRzLPbefanI/AAAAAAAAAIc/4kzsm7VMJec/s400/IMG_8602.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Sepiring steak babi panggang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Maaf kalau ada yang heran dengan tulisan ini. Sebab ini adalah pengalaman pertama saya makan daging babi. Maklum, keluarga saya muslim totok, kebetulan dilarang makan babi, dan tidak pernah disuguhi daging babi. Tinggal di sebuah tempat pun yang muslim semua alias tidak ada yang menjual, bahkan memelihara babi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tidak berusaha untuk coba-coba makan daging babi. Bukan sok suci bahwa daging babi haram buat saya (kalau saya memakannya), melainkan memang tidak terbiasa saja dan tidak pernah membayangkan apa rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah di sebuah tempat makan di Bangkok, sepertinya saya salah pesan. Maklum waktu itu tulisannya pakai bahasa Thailand, jadi tidak bisa ‘baca’ dan sudah kelaparan tak sempat lihat kamus. Saya terlanjur suspect kalau yang saya makan itu adalah daging babi, namun karena dimasak tidak enak, saya tidak tuntas memakannya. Tapi saya tidak yakin sih, bisa saja itu daging sapi atau kambing atau daging lain, hanya saja masakannya tidak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah saya menjudge bahwa daging babi itu tidak enak. Kata orang-orang sih daging babi itu manis rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nah, suatu ketika di sebuah pulau di Sungai Mekong tepatnya di restoran Diem Phuong, akhirnya saya bertemu dengan daging babi. Saya yakin itu daging babi sebab pelayannya sendiri yang bilang, juga diiyakan oleh kawan ketemu di jalan. Tidak ada pilihan. Itu adalah menu yang disediakan oleh jasa tur yang kali itu saya gunakan untuk susur Sungai Mekong. Lagi pula suguhan ham dalam piring kali itu begitu menggoda, &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;grilled pork steak&lt;/span&gt;. Hmmm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saya jadi terbayang pork suspect tempo dulu, yang tidak enak itu. Rasanya deg-degan mau makan, takut tidak enak. Tapi begitu kawan di hadapan saya menyantapnya dan bilang enak, tanpa pikir panjang saya pun langsung menyantapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jreng, jreng, jreng, hmm, &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;not bad for the (real) first time to enjoy the pork&lt;/span&gt;. Manis memang, mungkin kebanyakan kecap atau memang manis? Bagaimana saudara-saudara penggemar pork? &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;How is the real taste?&lt;/span&gt; Sebab setelah itu saya belum mencicipi daging babi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TRzLPqZQM-I/AAAAAAAAAIk/JRVObWfIuSs/s1600/IMG_9146%2Bcopy.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 267px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556539510207034338" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TRzLPqZQM-I/AAAAAAAAAIk/JRVObWfIuSs/s400/IMG_9146%2Bcopy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Warung pho di pinggir jalan kota Mui Ne&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya di Vietnam, saya lebih banyak bereksplorasi makan mie, entah mengapa saya tergila-gila dengan mie Vietnam, pho. Entah itu dicampur ayam, ikan, atau mungkin babi, semua saya embat. Lezat sih!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-30499725549390910?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/30499725549390910/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/12/pork-bites.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/30499725549390910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/30499725549390910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/12/pork-bites.html' title='Pork Bites'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TRzLPbefanI/AAAAAAAAAIc/4kzsm7VMJec/s72-c/IMG_8602.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-8630315080288280108</id><published>2010-12-29T16:26:00.007+07:00</published><updated>2010-12-31T12:48:20.400+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jogja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hobby'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Singapore'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bangkok'/><title type='text'>I do love walking!</title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="FONT-STYLE: italic; FONT-WEIGHT: bold" href="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TRsHo55GiKI/AAAAAAAAAH8/ZTJmtGPJrAw/s1600/4336_1118299848571_1559267655_270802_1708366_n.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 300px; DISPLAY: block; HEIGHT: 400px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556042964608125090" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TRsHo55GiKI/AAAAAAAAAH8/ZTJmtGPJrAw/s400/4336_1118299848571_1559267655_270802_1708366_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Nun jauh di sana ada masjid &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mungkin memang sudah bawaan dari orok, saya lebih suka yang namanya jalan daripada berlari, bahkan berdiri. Kalau saya disuruh upacara, saya memohon-mohon untuk bisa pingsan, tapi tetap tidak bisa pingsan juga. Dari pada disuruh berdiri, saya lebih suka di suruh jalan keliling alun-alun atau Malioboro. Tapi, asalkan tidak lari, ngos-ngosan je!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan orang anti naik kendaraan cepat. Tentu saja di saat tertentu, naik kendaraan lebih saya prioritaskan ketimbang jalan kaki. Tetapi di saat tertentu pula saya butuh jalan kaki saat jalan-jalan. Sebab selain bisa ngirit ongkos kendaraan, saya juga jadi lebih melihat banyak hal yang menarik menurut saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya ketika di Bangkok, saya bela-belain jalan kaki dari Kao San Road ke Wat Arun. Saya pikir tidak terlalu jauh mengingat dengan jalan kaki pula saya ke Wat Pho dan Wat Phra Kaeo. Lagi pula banyak yang bilang Wat Arun sudah nampak dari Sungai Chao Praya. Iya sih, kalau naik boat lebih dekat tinggal menyeberang saja. Tapi kalau jalan kaki? Dari Kao San Road masih melewati pasar, menyeberang jembatan, berputar menyusuri jembatan, setelah itu berbalik arah, maka baru sampai di Wat Arun. Nah! Sekitar 1,5 jam kemudian saya baru sampai di Wat Arun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya menemukan banyak hal yang menarik di jalan-jalan ini, salah satunya adalah restaurant seafood muslim yang dengan menunya yang bikin lidah minta lagi. Harganya? Soooo murah. Saya juga menemukan sebuah masjid, dan langsung bertaubat di sana, he he he… Dan memang lebih asoy ketika bisa menemukan Tuhan di mana pun saya berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TRsH1hBdtwI/AAAAAAAAAIE/n4Lk-ja5ghI/s1600/4336_1118299728568_1559267655_270799_7693596_n.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 300px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556043181270611714" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TRsH1hBdtwI/AAAAAAAAAIE/n4Lk-ja5ghI/s400/4336_1118299728568_1559267655_270799_7693596_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Salah satu sudut Bangkok&lt;/span&gt;, great!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di Wat Arun, saya menemukan kejutan lagi. Selama saya di Bangkok beberapa hari, saya tidak bertemu dengan orang sebangsa. Herannya saya malah bertemu di sini. Wah senangnya, ketemu Mbak Ari, Mas Yudi, dan Mbak Yulia! Entah mengapa, baru bertemu dengan mereka, rasanya sudah seperti kawan lama saja. Sampai sekarang kami masih keep in contact dan menantikan petualangan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Singapura, ketika saya tersesat di entah jalan apa, saya bertemu dengan cewek Thailand. Kalau yang ini ampun deh, bukan apa-apa, saya memang gemar jalan kaki dan get lost in somewhere, tapi kalau jalan cepat. I will say no! Kapok saya jalan kaki sama dia. Saya harus mengimbangi jalannya yang super cepat itu dan esok harinya, kaki saya sama sekali tidak bisa digerakkan. Rugi sehari deh di Singapura…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini, saya jalan kaki di kota saya sendiri bersama seorang kawan, Eka. Tidak jauh sih, dari Tugu sampai kantor saya di daerah Kuncen. Sebenarnya ini adalah kebodohan saya mengapa saya harus jalan kaki, tapi karena saya lama tidak jalan-jalan, saya pun memutuskan untuk jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, saya menemukan kegembiraan. Rupanya saya rindu jalan kaki. Saya rindu berhenti menikmati kalimat yang lucu di sebuah spanduk, saya rindu bertemu dengan mbok-mbok jamu dan minum jamu, saya rindu jalan kaki. Namun sayang, di Jogja tidak banyak disediakan tempat untuk pejalan kaki, karena sudah direbut para pedagang juga untuk parkir kendaraan. Kalau pun tampak bersih, pasti ada bau-bau pesing yang mengganggu penciuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tempat jalan kaki paling bersahabat, saya masih memilih Singapura; nyaman, bersih, dan kotanya yang kecil sehingga tempat tujuan terasa lebih dekat (selain itu didukung oleh transportasi yang baik), jadi sangat nikmat untuk jalan kaki. Kalau kamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TRsIsf8WPOI/AAAAAAAAAIM/zwOYCSzVigg/s1600/IMG_8995-e.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 267px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556044125873519842" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TRsIsf8WPOI/AAAAAAAAAIM/zwOYCSzVigg/s400/IMG_8995-e.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Tulis&lt;/span&gt;a&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;n yang membuat saya dan Eka terkagum-kagum&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-8630315080288280108?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/8630315080288280108/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/12/i-do-love-walking.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/8630315080288280108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/8630315080288280108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/12/i-do-love-walking.html' title='I do love walking!'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TRsHo55GiKI/AAAAAAAAAH8/ZTJmtGPJrAw/s72-c/4336_1118299848571_1559267655_270802_1708366_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-2853517112240352218</id><published>2010-12-15T22:04:00.010+07:00</published><updated>2011-01-30T09:26:50.838+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mountain'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jogja'/><title type='text'>Lautan Abu-abu yang Menyentuh Rasa Kemanusiaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TQjZ_SOkvWI/AAAAAAAAAHc/YNglmsArprQ/s1600/IMG_8520%2Bcopy.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 212px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5550926221982088546" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TQjZ_SOkvWI/AAAAAAAAAHc/YNglmsArprQ/s400/IMG_8520%2Bcopy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;seorang ibu yang berjualan di kawasan terdampak Merapi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Pangukrejo&lt;/b&gt;, 15 Desember 2010&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang pergi ke tanah suci untuk tersentuh hatinya agar lebih dekat dengan Tuhan. Maka jika pergi ke daerah bencana jangan hanya melihat-lihat saja. Sebab di sebuah tempat bencana, kita akan lebih menggali rasa kemanusiaan untuk lebih dekat dengan manusia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menyaksikan suasana lereng Gunung Merapi saat ini, terutama di Desa Umbulharjo, Kepuharjo, dan Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, tidak menyangka jika tempat tersebut pernah menjadi saksi bisu hilangnya ratusan nyawa akibat awan panas di penghujung Oktober dan awal November 2010 lalu. Pasalnya, tempat ini sekarang jadi dikunjungi banyak orang yang penasaran dengan kondisi wilayah yang terkena awan panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sempat menyaksikan di televisi, di tempat itu pernah ada tangisan dan raut wajah ketakutan. Ada yang kehilangan keluarga, rumah, sapi, dan tentu saja kehidupan dan penghidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang suasana sudah lain. Tak ada lagi jerit pilu atau ketakutan, malahan raut wajah takjub dan decak kecil yang terdengar dari pengunjung yang datang mengunjungi Kecamatan Cangkringan. Mereka takjub menyaksikan dusun-dusun yang telah menjadi lautan abu-abu dengan puing-puing rumah dan batang pohon yang terbakar. Sementara Gunung Merapi menjadi latar belakang pemandangan tersebut. Gagah. Dan masih menyimpan misteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 2006, wisata "Lava Tour" pernah menggeliat. Di tahun tersebut Merapi pernah meletus dan membuat kawasan Kaliadem di Kepuharjo, menjadi tak jauh berbeda dengan erupsi 2010. Seiring dengan membaiknya perekonomian masyarakat dan ekosistem di sekitar Merapi, kegiatan ini seolah terhenti. Namun, berangkat dari kebutuhan pemenuhan hidup akibat erupsi Merapi di 2010, wisata ini dihidupkan kembali dengan nama baru, Wisata Alam Erupsi Merapi 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hari cerah, Gunung Merapi tampak gagah sejak pengunjung mendekati dengan kawasan ini. Awan putih perlahan keluar dari puncaknya yang merekah. Sampai di Dusun Pangukrejo, sudah ada loket tiket untuk masuk ke Wisata Alam Erupsi Merapi 2010. Di sini, pengunjung harus membayar karcis retribusi sebesar Rp. 5000,- per orang, belum lagi yang membawa kendaraan, akan berbeda tarifnya. Dalam sehari minimal 1000 lembar tiket habis terjual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TQjajvLlWzI/AAAAAAAAAHk/iXgULNiYTR4/s1600/IMG_8548%2B-%2BCopy%2Bcopy.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 261px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5550926848229464882" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TQjajvLlWzI/AAAAAAAAAHk/iXgULNiYTR4/s400/IMG_8548%2B-%2BCopy%2Bcopy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati portal yang tepat berada di tugu dusun, maka sudah terhampar lautan debu dan pasir vulkanik lengkap dengan puing batang pohon dan rumah-rumah. Namun pengunjung tidak perlu susah untuk melihat yang mana rumah Mbah Marijan, atau penduduk lain. Sebab sudah ada pemandu yang siap sedia mengantarkan pengunjung berkeliling sampai puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heri Haryanto misalnya, pemandu berusia 26 tahun ini adalah waga dusun Pangukrejo yang rumahnya tinggal fondasi saja. Sejak Merapi diturunkan statusnya menjadi siaga, ia pun siap sedia menjadi pemandu di kawasan ini. Dialah yang kemudian menunjukkan jalan ke rumah Mbah Marijan di Kinahrejo, juga rumahnya yang ia sendiri tidak tega meniliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heri tak sendiri, masih ada pemuda-pemudi tiga desa lainnya yang turut memanajemen Wisata Alam Erupsi Merapi 2010 ini. Mereka kemudian menempatkan diri pada tugas masing-masing. Ada yang menarik karcis retribusi, ada yang menjadi petugas parkir, dan ada yang menjadi seperti Heri, pemandu wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tangan para pemuda ini, dalam sehari mereka memandu 4-5 kelompok dengan tarif Rp. 20.000,- untuk sekali tur. Misal ada orang ingin tur dengan fasilitas sepeda motor, maka tarifnya ditambah lagi menjadi Rp. 20.000,-, sekedar mengganti bensin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak yang minta diantar ke rumah Mbah Marijan,” ungkap Heri sambil menunjuk rumah Mbah Marijan di dusun teratas, Kinahrejo, satu kilometer dari tempatnya berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika para pemuda mengelola tempat wisata tersebut, maka para ibu dan bapak kemudian menggelar dagangan untuk memenuhi kebutuhan para pengunjung. Sukasmi misalnya, ibu 45 tahun ini berdagang makanan dan minuman ringan di kawasan ini. Oleh seseorang dia diberi modal berjualan, dan mau tidak mau dia terima juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya saya mencari rumput untuk makan sapi, sekarang rumah sudah habis, sapi juga sudah mati semua. Dengan jualan ada pemasukan sedikit-sedikit,” katanya sambil menawarkan minuman botol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah pengunjung pun melonjak. Dalam satu hari, "Lava Tour" ini bisa menghabiskan 1000 lembar tiket. Hasilnya, sebagian disetor ke Pemerintah Provinsi DIY, sementara sisanya dikumpulkan untuk kemudian dibagi rata pada seluruh warga terdampak langsung dan terdampak tidak langsung di Umbulharjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memang sebuah ironi yang harus dihadapi oleh Heri dan Sukasmi. Masih banyak Heri dan Sukasmi lain yang mencari penghidupan seperti ini tanpa harus meminta. Meskipun di antara keterpaksaan mengandalkan tempat yang meninggalkan trauma dengan penghidupan yang merupakan mata pencaharian mereka yang telah hilang.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*terima kasih atas atensi untuk tulisan ini :)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-2853517112240352218?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/2853517112240352218/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/12/geliat-pariwisata-merapi.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/2853517112240352218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/2853517112240352218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/12/geliat-pariwisata-merapi.html' title='Lautan Abu-abu yang Menyentuh Rasa Kemanusiaan'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TQjZ_SOkvWI/AAAAAAAAAHc/YNglmsArprQ/s72-c/IMG_8520%2Bcopy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-2474979615156877222</id><published>2010-12-11T18:52:00.009+07:00</published><updated>2011-01-03T22:51:41.698+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='river'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vietnam'/><title type='text'>Penasaran dengan Sungai Mekong</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TQNn9qFdLMI/AAAAAAAAAHE/bSpneChqoQY/s1600/IMG_8611.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 267px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549393474817436866" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TQNn9qFdLMI/AAAAAAAAAHE/bSpneChqoQY/s400/IMG_8611.JPG" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Sungai Mekong di Provinsi Ben Tre, Ho Chi Minh City (photo: Fian Khairunnisa)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;JIKA nampak sekilas, Sungai Mekong tak jauh beda dengan sungai-sungai di Indonesia, berair kuning. Pulau-pulau di Sungai Mekong juga memiliki vegetasi yang hampir serupa dengan vegetasi di Indonesia, misalnya pohon kelapa, ketela, jambu, klengkeng, rambutan, dan lain sebagainya. Lalu apa yang menarik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berada di Ho Chi Minh City (HCMC), Vietnam, Sungai Mekong adalah salah satu tujuan wisata yang sayang untuk dilewatkan. Meskipun nyaris hampir sama dengan visual sungai di Indonesia, namun sungai ini tetap saja bikin saya penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekong adalah salah satu sungai utama di dunia. Merupakan sungai terpanjang ke-12 di dunia, dan ke-10 terbesar dalam volume (melepas 475km³ air setiap tahunnya), dia mengisi wilayah seluas 795.000 km² dari Tibet dia mengalir melalui Cina provinsi Yunnan, kemudian Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja dan Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Vietnam sendiri, beberapa provinsi dilewati oleh Sungai Mekong dan tempat-tempatnya menarik untuk dikunjungi. Jika malas untuk memilih mau ke Sungai Mekong di provinsi mana, berangkat saja dengan jasa tur. Biar tur yang memberikan pilihan paket-paket di Sungai Mekong. Ada banyak paket tur ke Mekong dari HCMC yang mudah ditemukan, mulai dari tur satu hari, dua hari bahkan tiga hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk perjalanan singkat, mencicipi Sungai Mekong dalam sehari sudah lebih dari cukup. Sehingga saya memilih tur Sungai Mekong yang ada di provinsi Ben Tre dan My Tho, sekitar 2 jam dari pusat kota HCMC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggunakan jasa tur adalah pilihan yang tepat ketimbang memilih jalan sendiri ke Sungai Mekong. Salah satu teman yang saya temui dalam perjalanan memiliki pengalaman, ketika ia akan ke Ben Tre, ia terlebih dahulu mendatangi propinsi Can Tho. Namun ia sempat kesulitan ketika ia menuju Can Tho menggunakan bus umum. Yang kemudian dilakukannya adalah kembali ke HCMC untuk mengambil bis menuju Ben Tre.  Maka untuk mempermudah perjalanan agar tidak kesulitan mencari bis, ya dengan menggunakan jasa tur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Biasanya saya jarang menggunakan bus umum, saya lebih memilih open-tour bus, bus untuk turis yang biasa berhenti di kota-kota. Tetapi ketika saya berada di Can Tho dan akan melanjutkan perjalanan ke My Tho dan Ben Tre, saya kesulitan menemukan bus lokal, hanya ada satu bus itu pun dini hari. Maka lebih baik kembali ke HCMC,” ujar teman saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih tur ke Mekong berarti mengunjungi pulau yang satu ke pulau yang lain di Sungai Mekong. Setiap pulau memiliki keunikan sendiri, setidaknya begitulah yang dikatakan oleh jasa tur. Lalu apa yang menarik dari Sungai Mekong di provinsi My Tho dna Ben Tre ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan 2 jam dari HCMC dilanjutkan menyusuri Sungai Mekong dengan boat di pelabuhan kecil di My Tho. Di kanan kiri banyak bangunan dan rumah-rumah penduduk. Ada pula penduduk yang sedang memperbaiki kapal mereka. Tak lama boat saya tiba di Con Phung, salah satu pulau di My Tho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pulau ini ada kegiatan membuat rice paper, beras yang dibuat tipis seperti kertas. Rice paper merupakan salah satu makanan khas di Vietnam. Biasanya, rice paper dijadikan lapisan untuk menggulung lauk pauk. Di pulau ini makan siang pun sudah menanti. Elephant fish adalah salah satu menu khas di pulau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TQNoKiVzkBI/AAAAAAAAAHM/SBmvp1cKq5Y/s1600/IMG_8578.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 267px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549393696076828690" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TQNoKiVzkBI/AAAAAAAAAHM/SBmvp1cKq5Y/s400/IMG_8578.JPG" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Beginilah cara membuat rice paper (photo: Fian Khairunnisa)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Usai makan, tur saya melanjutkan perjalanan dengan boat lagi, menyusuri pulau-pulau kecil yang terdapat di area ini. Tur membawa kami ke sebuah tempat di provinsi Ben Tre. Selama menuju Ben Tre, view yang indah menghapus rasa bosan selama di dalam boat. Sungainya yang tenang juga memberikan relaksasi tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Ben Tre, kebun buah-buahan, mulai dari papaya, klengkeng, rambutan, jambu, kelapan dan pohon ketela sudah menyambut. Ya, inilah yang saya bilang bahwa vegetasi Sungai Mekong tak jauh beda dengan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tur membawa kami ke sebuah pondok untuk menyantap buah-buahan dari kebun ini. Dan yang menarik, selama menyantap buah-buahan dan teh hangat, sudah dipersiapkan artis lokal untuk menyanyi lagu tradisional. Nah, ini dia yang berbeda dengan di Indonesia.&lt;br /&gt;Setelah puas menikmati buah dan musik tradisional, dengan semacam bendi saya dibawa tur keliling kampung. Di sini saya diajak berkeliling peternakan lebah dan mencicipi madu. Diajak juga ke pabrik coconut candy, dan tentu saja mencicipinya. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TQNoXzPonTI/AAAAAAAAAHU/A3pLfJZIAAM/s1600/IMG_8777.JPG"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 267px; FLOAT: right; HEIGHT: 400px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549393923952647474" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TQNoXzPonTI/AAAAAAAAAHU/A3pLfJZIAAM/s400/IMG_8777.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas di sini, perjalanan dilanjutkan dengan perahu kecil dan susur sungai ini dengan perahu. Rupanya perahu ini untuk mengantarkan tur ke boat semula. Yang unik, pendayung perahu ini hampir semuanya perempuan, terutama ibu-ibu. Mereka sangat terampil mendayung padahal lalu lintas di sungai yang relative kecil ini cukup penuh. Kadang perahu bergesekan dengan pohon di pinggir sungai, tapi tidak bertabrakan dengan perahu lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya tahu dari teman Vietnam saya, di sini ada anggapan, kalau lelaki mendayung perahu di sungai itu terkesan banci. Sebab, lelaki tugasnya bekerja, bertani atau berdagang. Kalaupun berperahu, sekalian di Sungai Mekong yang teramat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini sudah menjadi kebiasaan lama. Urusan belanja dan mengantar anak ke sekolah adalah tugas wanita. Lelaki bekerja di ladang atau berdagang di kota. Mereka menggunakan perahu hanya untuk keperluan bekerja. Maka, sejak lama lebih banyak wanita yang membawa perahu melewati sungai ini,” kata teman saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemasan tur ini sangat menarik menurut saya. Dengan harga VND 180.000/orang (sekitar 90.000 rupiah), tidak ada tambahan biaya lagi untuk naik ini itu, dan semuanya sudah diatur. Saya tidak membayangkan jika saya jalan sendirian tanpa tur, mungkin perjalanan tidak akan seasik ini.*** &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-2474979615156877222?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/2474979615156877222/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/12/penasaran-dengan-sungai-mekong.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/2474979615156877222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/2474979615156877222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/12/penasaran-dengan-sungai-mekong.html' title='Penasaran dengan Sungai Mekong'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TQNn9qFdLMI/AAAAAAAAAHE/bSpneChqoQY/s72-c/IMG_8611.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-1313890211514387557</id><published>2010-11-30T23:33:00.005+07:00</published><updated>2011-01-10T00:18:07.387+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Simeulue'/><title type='text'>Bamain ka Simeulue</title><content type='html'>&lt;div id="PictoBrowser101130230416"&gt;Get the flash player here: http://www.adobe.com/flashplayer&lt;/div&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://www.db798.com/pictobrowser/swfobject.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;var so = new SWFObject("http://www.db798.com/pictobrowser.swf", "PictoBrowser", "500", "500", "8", "#DDDDDD"); so.addParam("quality", "low"); so.addParam("scale", "noscale"); so.addParam("align", "mid"); so.addVariable("ids", "72157625500390092"); so.addVariable("names", "Simeulue"); so.addVariable("userName", "Fian Khairunnisa"); so.addVariable("userId", "52925540@N04"); so.addVariable("source", "sets"); so.write("PictoBrowser101130230416"); &lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak menyangka menutup liburan tahun ini (2010) dengan 'pulang kampung' ke salah satu tempat di mana saya dibesarkan. Simeulue, Sinabang tepatnya. Sejak 1995 hingga 1999 saya tinggal, hidup dan bermain di sana. Setelah pindah, banyak yang sayang tinggalkan, teman dan tempat bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jogja lagi, banyak yang bertanya di mana itu Simeulue. Saya jawab, 'kalau kamu lihat peta, lihat saja di atas Pulau Nias, ada Pulau Simeulue, dari sanalah saya'. Barulah mereka paham mana itu Pulau Simeulue, pulau di mana saya pernah dibesarkan dan banyak belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya maklum kalau Simeulue tidak seterkenal Pulau Bali, atau Belitung akhir-akhir ini. Namun setelah smong (tsunami) di penghujung tahun 2004 dan gempa bumi tahun 2005, Simeulue mulai 'dilirik'. Tentu saja karena banyak lembaga baik itu pemerintah maupun non pemerintah, baik itu lokal maupun internasional, berbondong-bondong menyalurkan bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ya, ya. Sebelum saya pindah, setidaknya inilah ingatan masa kecil saya, Simeulue tidak sebagus sekarang ini. Bagus di sini adalah secara infrastruktur dan fasilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dulu tidak ada jalan aspal di depan rumah saya di Suka Karya, bahkan di seluruh pulau Simeulue belum ada. Sekarang jalan aspal sudah sampai di kampung-kampung, bahkan ada jalan lingkar Simeulue, sehingga tak usah lagi kembali melalui jalan yang sama untuk menuju tempat semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu di depan rumah masih ada gunung, ada mata air untuk orang mandi. Sekarang banyak rumah dan tak seseram dulu lagi. Dulu juga belum ada rumah sakit yang megah di Jalan Baru, bahkan jalan itu sepi penduduk, hanya ada beberapa rumah saja. Bahkan mobil pun merupakan pemandangan yang jarang dilihat, kecuali milik pejabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pesatnya pembangunan Pulau Simeulue paska gempa dan smong, setidaknya begitulah yang diutarakan kawan saya di sana. (Wah! Jadi kalau tidak gempa atau smong, Simeulue enggak akan dilirik ya?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian setelah infrastruktur mulai bagus, transportasi pun mulai lancar. Kalau dulu saya harus menunggu kapal feri untuk sampai ke Meulaboh, sekarang tinggal booking tiket Susi Air atau Smac untuk keluar/masuk Pulau Simeulue. Memang dulu sudah ada, tapi tidak sesering saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun tergiur untuk kembali lagi ke sana setelah Nora, sahabat saya di sana, berkunjung ke Jogja. Kebetulan lagi seorang sahabat saya, Fira, menikah. Lengkap sudah alasan saya untuk kembali lagi ke Simeulue. Mengingat yang dulu-dulu dan jalan-jalan di sepanjang pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedikit nekat dan uang pas-pasan, saya pun menjalankan niat saya untuk mengunjungi mereka. Untuk fasilitas transportasi, saya senang sekali sebab tak perlu susah lagi ke Simeulue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat ketika pertama kali ke pulau di sebelah barat Aceh itu, saya harus naik bis selama 3 hari 2 malam dari Palembang ke Medan, barulah dilanjutkan naik pesawat ke Sinabang. Untuk ke Jawa, saya pun harus menggunakan kapal feri menuju Meulaboh selama 8 jam, lanjut pakai travel Meulaboh ke Medan sektar 12 jam, kemudian Belawan, naik kapal ke Tanjung Priok 3 hari 2 malam, lalu kereta api dari Jakarta ke Jogja. Maklum saja, kami sekeluarga harus mengepres pengeluaran untuk travel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersyukur dimudahkan banyaknya pesawat menuju Medan dari Jogja, dengan harga promo tentunya (sekitar 700-800rb). Juga pesawat Medan-Sinabang (sekitar 550-700rb) yang meski cukup mahal, namun frekuensi yang sering membuat mudah juga. Tak perlu berhari-hari di kapal atau bis, dari Jogja ke Sinabang atau sebaliknya. Sinabang saat ini hanya butuh satu hari itu pun karena harus transit dan ganti pesawat. Kalau tidak, mungkin hanya beberapa jam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika sampai di Lasikin (bandar udara di kota Sinabang), Nora, Fira, Mella, dan Lia, beserta anak-anak mereka, sudah menanti saya. Aih, merekalah yang selalu membuat saya ingin kembali lagi ke Simeulue. Juga balado Makwo, ibunda Nora, Mella, dan Lia, tentu saja. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kapan basuo lagi kito? Mudah-mudahan kito bisa basuo, tarui bamain lagi yo&lt;/span&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Smong adalah sebutan penduduk Simeulue untuk tsunami. Sebenarnya kata ini akan dipatenkan dalam bahasa Indonesia, tetapi belum juga terwujud hingga saat ini. Itulah sebabnya saya menggunakan kata 'smong' dalam tulisan ini. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-1313890211514387557?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/1313890211514387557/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/11/bamain-ka-simeulue.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/1313890211514387557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/1313890211514387557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/11/bamain-ka-simeulue.html' title='Bamain ka Simeulue'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-5312216259166719672</id><published>2010-10-14T11:08:00.012+07:00</published><updated>2011-01-29T23:08:50.865+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bangkok'/><title type='text'>Bangkok, Kota Ratusan Kuil</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TLaDU4YKLSI/AAAAAAAAAGc/2RufPgoWwq0/s1600/ARFIANA+KHAIRUNNISA-Bangkok-Kao+San+Road+di+malam+hari.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 300px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527749987398200610" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TLaDU4YKLSI/AAAAAAAAAGc/2RufPgoWwq0/s400/ARFIANA+KHAIRUNNISA-Bangkok-Kao+San+Road+di+malam+hari.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TLaDU4YKLSI/AAAAAAAAAGc/2RufPgoWwq0/s1600/ARFIANA+KHAIRUNNISA-Bangkok-Kao+San+Road+di+malam+hari.JPG"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); -webkit-text-decorations-in-effect: none; "&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TLaDU4YKLSI/AAAAAAAAAGc/2RufPgoWwq0/s1600/ARFIANA+KHAIRUNNISA-Bangkok-Kao+San+Road+di+malam+hari.JPG"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Suasana Khao San Road di Malam Har&lt;/span&gt;i&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bandar Udara Internasional Bangkok Suvarnabhumi, merupakan salah satu pintu gerbang memasuki kota Bangkok. Bandara yang menggantikan Bandar Udara Don Muang ini baru saja dibuka pada 2006 silam. Sentuhan futuristiknya berkolaborasi dengan arca-arca khas Thailand, seperti Ramakien dan Pha Krut, burung garuda yang menjadi lambang negara Thailand. Dari sinilah, kota Bangkok berjarak sekitar 28 km arah timur sudah siap untuk dijelajahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibukota Thailand, Bangkok atau Krung Thep di kalangan lokal, memang salah satu tujuan wisata yang paling diminati sebelum Indonesia. 1001 keinginan akan bisa diwujudkan di sini kota ini, mulai dari wisata religi, wisata budaya, wisata kuliner, wisata alam, pusat belanja, serta hiburan ala kota metropolitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkok, selayaknya Jakarta, sudah penuh dengan gedung bertingkat dan beberapa pusat perbelanjaan, seperti di Pratunam. Jalanan juga tak kalah macet pada jam-jam tertentu. Bis, taksi, mobil pribadi, juga tuk-tuk (kendaraan umum khas Thailand seperti bemo), memenuhi ruas-ruas jalan utama. Namun dari gedung-gedung dan banyak kendaraan tersebut tersembullah atap-atap kuil yang berwarna keemasan. Tentu saja karena ada lebih dari 400 kuil di Bangkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khao San Road adalah tempat pertama yang saya tuju, untuk tinggal beberapa hari di Bangkok. Sepanjang jalan di jalan ini adalah tempat penginapan bagi para turis. Di sini terdapat beragam penginapan mulai dari ala backpacker hingga ala hotel bintang lima. Kawasan ini juga sangat strategis dari tempat-tempat tujuan wisata yang paling sering dikunjungi, misalnya kompleks Grand Palace dan Wat Phra Kaeo, kuil yang menyimpan Emerald Buddha (Buddha tersuci di Thailand).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kesan pertama saya pada kota ini, Bangkok adalah kota yang sangat bersahabat dengan turis. Sehingga tak heran jika para wisatawan betah di Thailand, atau menjadikan Thailand tujuan wisata utama, disusul kemudian Indonesia. Transportasi yang mudah dan peta yang lengkap, membuat jalan-jalan di Bangkok menjadi sangat mudah, meskipun saya seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dengan semua kenyamanan fasilitasnya, tetap harus berhati-hati di Bangkok, apalagi untuk para turis yang bepergian seorang diri. Memilih kendaraan umum apalagi, karena banyak yang tertipu oleh pengemudi tuk-tuk atau taksi. Biasanya mereka menawarkan jasa untuk mengantar ke pusat perbelanjaan, dimana nanti harganya lebih mahal karena si pemilik toko harus memberi tip pada pengemudi tuk-tuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, bus umum adalah pilihan saya. Selain lebih aman dan menjangkau semua tempat, bagi yang bepergian seorang diri, bus umum lebih irit ketimbang harus membayar taksi atau pun tuk-tuk. Hanya beberapa ribu rupiah saja, bahkan jika bisa memilih, ada bus umum gratis milik pemerintah. Yang berbeda dengan bus di Indonesia, kernet bus di Bangkok mayoritas adalah perempuan. Alternatif kendaraan umum lain adalah monorail, namun jangkauannya tidak seluas bus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, untuk mencapai beberapa kuil, cukup dengan berjalan kaki dari Khao San Road. Yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari tempat saya menginap adalah Wat Phra Kaeo yang berada satu kompleks dengan Grand Palace dan yang berseberangan dengannya yaitu Wat Pho. Hanya 10 menit saja berjalan kaki ke dua tempat ini dari Khao San Road.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TLaDzl9w3RI/AAAAAAAAAGs/ir_RnhpUFus/s1600/ARFIANA+KHAIRUNNISA-Bangkok-Wat+Phra+Kaeo.JPG"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 300px; FLOAT: right; HEIGHT: 400px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527750515031596306" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TLaDzl9w3RI/AAAAAAAAAGs/ir_RnhpUFus/s400/ARFIANA+KHAIRUNNISA-Bangkok-Wat+Phra+Kaeo.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;Wat Phra Kaeo memiliki nama asli Wat Phra Sri Rattana Satsadaram. Ketika saya berada di Bangkok, kuil ini dibuka untuk gratis untuk umum. Biasanya harus membayar 200 Bath untuk masuk kuil ini, namun tiket menjadi satu dengan Grand Palace dan Vimanmek Mansion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengunjung tidak boleh menggunakan pakaian yang tidak sopan masuk kuil ini. Batasan sopan yaitu pengunjung harus menggunakan celana panjang, tidak boleh mengenakan kaus tanpa lengan dan harus bersepatu. Namun jika tidak mengenakan celana panjang, bisa menyewa kain yang banyak ditawarkan di depan kuil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wat Phra Kaeo adalah salah satu kuil yang indah di Bangkok dengan warna keemasan yang menyelimuti dinding-dinding kuil. Bahkan warna emas itu juga sudah tampak dari kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sensasi keemasan pun langsung membuat mata saya tidak bisa berhenti melihat-lihat sekitar. Di sana ada patung Emerald Buddha yang berukuran kecil, namun patung tersebut dianggap paling suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas di Wat Phra Kaeo, tak lengkap rasanya jika tidak mampir ke kuil sebelah, Wat Pho, hanya 900 meter saja dari Wat Phra Kaeo. Kuil ini menyimpan patung Buddha Tidur raksasa (Sang Buddha memasuki Nirvana) sepanjang 46 meter yang tentu saja sangat impresif. Mata dan kakinya terbuat dari kerang mutiara, bertuliskan 108 ciri agung seorang Buddha. Wat Pho juga merupakan pusat pendidikan umum pertama di Thailand, kini menjadi pusat pendidikan pijat ala Thai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang suka berjalan kaki, pilihan selanjutnya ada Wat Arun atau Temple of the Dawn. Sebenarnya bisa juga menyebrang dengan menggunakan boat atau perahu di Sungai Chao Phraya, karena letaknya memang di pinggir sungai tersebut. Namun saya memilih berjalan kaki sambil menikmati suasana kota Bangkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wat Arun lebih baik dikunjungi pada sore hari, sehingga tampak lampu-lampu yang ada di badan kuil bersinar indah. Di siang hari, kuil ini tampak kurang menarik karena pecahan porselennya yang sudah kusam. Namun yang menarik, di kuil yang berdiri pada 1872 ini, kita bisa naik ke puncak dan melihat kota Bangkok yang dikeliling Sungai Chao Phraya. Untuk mencapai bangunan puncak wisatawan harus meniti tangga curam dengan kemiringan hampir 80 derajat. Namun percayalah, pemandangannya tampak apik dari sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak kuil lain yang layak untuk dikunjungi seperti Wat Traimit yang terdapa patung Buddha dari 5,5 ton emas murni setinggi 3m, Wat Saket (Golden Mount) yang menyimpan relik Sang Buddha, Wat Suthat dan Giant Swing, Wat Benchamabopit, Erawan Shrine, dan masih banyak yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar tips, untuk masuk ke beberapa kuil, wisatawan dikenakan biaya masuk rata-rata 50 Baht (kecuali Wat Phra Kaeo). Namun bagi orang Thailand, masuk kuil adalah gratis. Maka seseorang menasehati saya untuk mengatakan salam ala Thailand, “Sawaat dii kha”, karena rupa saya yang mirip dengan orang Thailand. Dan nasehat itu berhasil sempurna! Lumayan mengirit untuk menikmati kuliner yang lezat di Thailand.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TLaEKyYeh7I/AAAAAAAAAG0/m6_nvdyQn6Q/s1600/ARFIANA+KHAIRUNNISA-Bangkok-Wat+Arun+Ratchwararam+di+tepi+Sungai+Chao+Phraya.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 223px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527750913501857714" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TLaEKyYeh7I/AAAAAAAAAG0/m6_nvdyQn6Q/s400/ARFIANA+KHAIRUNNISA-Bangkok-Wat+Arun+Ratchwararam+di+tepi+Sungai+Chao+Phraya.JPG" /&gt;Wat Arun di ambang Sungai Chao Phraya&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;warning!&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para pejalan kaki dari Khao San Road ke Grand Palace, pasti melewati Sanam Luang Park. Hati-hati dengan para pedagang jagung bungkus di sana. Jangan sampai (tanpa sengaja) membawa bungkusan itu, kalau bungkusan jagung itu habis dimakan burung merpati yang ada di sana, satu bungkus kena charge 50-150 Baht! Waspadalah, waspadalah, waspadalah... (Kecuali memang sengaja dan bilang dulu sama pedagangnya, lumayan sih buat foto-foto, he he he)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*tulisan ini dimuat di Radar Jogja, 10 Oktober 2010*&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-5312216259166719672?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/5312216259166719672/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/10/bangkok-kota-ratusan-kuil.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/5312216259166719672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/5312216259166719672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/10/bangkok-kota-ratusan-kuil.html' title='Bangkok, Kota Ratusan Kuil'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TLaDU4YKLSI/AAAAAAAAAGc/2RufPgoWwq0/s72-c/ARFIANA+KHAIRUNNISA-Bangkok-Kao+San+Road+di+malam+hari.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-5676514113881223650</id><published>2010-10-07T23:55:00.010+07:00</published><updated>2010-12-31T13:19:56.356+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='palace'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jogja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='museum'/><title type='text'>Mural Sudjojono di Tembok Gedung Agung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TK398c91m3I/AAAAAAAAAGU/uvBj_sAy4iI/s1600/Istana+Negara+Jogja.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 167px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5525351532863003506" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TK398c91m3I/AAAAAAAAAGU/uvBj_sAy4iI/s400/Istana+Negara+Jogja.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istana Presiden RI Jogjakarta atau Gedung Agung adalah salah satu favorit saya, meskipun saya sendiri belum pernah berkunjung ke Istana Presiden RI lain. Tetapi dibandingkan dengan beberapa istana presiden negara lain yang pernah saya kunjungi, istana ini yang menurut saya, bisa berakulturasi dengan budaya urban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Well&lt;/span&gt;, ketika tulisan ini dibuat, saya baru dua kali menginjakkan kaki di Gedung Agung, ngobok-ngobok dalam istananya. Yang pertama tahun 2009, kemudian yang kedua tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2009, Gedung Agung mungkin hampir sama dengan istana presiden lain, sebagai tempat presiden dengan beragam &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;ubo rampe&lt;/span&gt; yang tentu saja hanya bisa dinikmati oleh presiden dan kolega-koleganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saya mendengar kabar baik dari teman sekaligus narasumber saya, mas Mikke Susanto, bahwa Gedung Agung akan dibuat museum yang di dalamnya memamerkan benda-benda koleksi istana dari enam istana kepresidenan yang tercatat, Istana Negara, Istana Merdeka di Jakarta, Istana Bogor di Bogor, Istana Cipanas di Cipanas, Istana Tampaksiring di Bali dan Istana Gedung Agung di Jogja sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya pun tak sabar untuk segera masuk ke dalam Museum Istana Jogja (nama museum di dalam Gedung Agung). Barulah satu tahun kemudian, saya berkesempatan untuk berkunjung ke Gedung Agung lagi. Maklum, saya orang biasa dan tidak bisa sembarangan keluar masuk Istana Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang belum pernah mengunjungi Istana Presiden RI lain, tapi saya yakin, hanya Istana Presiden di Jogja saja yang ada muralnya! Jogja memang dikenal sebagai kota seni, tak heran jika mural ada di tembok-tembok bangunan di Jogja. Namun, siapa sangka kalau mural itu bisa tervisualisasikan di tembok istana? Ya hanya di Jogja! Jogja memang istimewa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mural ini terletak di Museum Istana Jogjakarta Ruang Pamer I. Tepatnya di tembok tangga naik menuju lantai atas Ruang Pamer I. Ruang pamer di Museum Istana Jogjakarta sendiri ada dua tempat, yaitu Ruang Pamer I dan Ruang Pamer Utama. Selain mural, di Ruang Pamer I ini, terdapat lukisan-lukisan lama dari maestro lukis Indonesia, seperti Affandi dengan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Adu Ayam&lt;/span&gt;, Soerono dengan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Dr. Cipto Mangun Kusumo&lt;/span&gt;, juga ada lukisan Raden Saleh berjudul &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Berburu Banteng&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Mikke dan M Yusuf merupakan konseptor mural ini, dipoles melalui tangan-tangan seniman Jogja seperti M Yusuf, Dodi Irwandi, Kadar dan Sabar Parjio. Mural ini hadir dengan gambar yang diadaptasi dari karya pelukis &lt;a href="http://www.ssudjojono.com/home.html"&gt;S. Sudjojono&lt;/a&gt; berjudul &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Maka Lahirlah Angkatan ’66&lt;/span&gt; dan potongan lukisan yang ada di Istana Presiden, misalnya lukisan karya Itji Tarmidji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Maka Lahirlah Angkatan ’66&lt;/span&gt; merupakan karya Sudjojono yang bergambar laki-laki berbaju merah putih dengan lengan disingsingkan sambil memegang kuas. Laki-laki tersebut menyiratkan semangat pemuda era 60-an, yang bersahaja, dewasa dan progresif dalam bersikap. Mural di antara dua lantai ini juga menandakan untuk menyambung sekaligus memisahkan ide irisan sejarah, nasionalisme masa revolusi di lantai bawah dan nasionalisme masa pembangunan di lantai atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, mural ini paling mencolok di antara benda-benda yang lain. Apalagi pakaian yang dipakai berwarna merah. Wah! Tembok pun jadi cerah dan membuat siapapun bersemangat pantang menyerah usai melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang di Ruang Pamer Utama, para pengunjung bisa melihat-lihat lukisan karya Abay B Subarna &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Bapak Ir Soekarno&lt;/span&gt;, lukisan Presiden Soeharto dan Ibu Tien dalam karya Basoeki Abdullah, Rudolf Bonnet &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Penggembala Kambing di Italia&lt;/span&gt;, Willem Andrian &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Naik Kuda&lt;/span&gt;, dan masih banyak benda lain yang bisa dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengharapkan bisa berlama-lama berada di museum, namun sayang jam berkunjung masih terbatas sehingga tidak bisa leluasa mengamati benda-benda di dalamnya. Masalahnya, di larang memotret di dalam sini. Jadi harus disimpan di dalam ingatan benda-benda di sini, apalagi muralnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum ini juga belum secara resmi diresmikan oleh Presiden, dan belum pasti juga apakah nantinya museum ini akan terbuka untuk umum, atau hanya pada saat-saat tertentu saja. Ah, ya, yang penting rasa penasaran saya sudah terpenuhi. &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;By the way&lt;/span&gt;, saya jadi penasaran, Pak SBY sudah lihat belum ya mural lukisan Sudjojono itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ps. Karena dilarang memotret (kalaupun memotret tidak boleh diterbitkan untuk umum), jadi maaf kalau hanya foto saya yang narsis di depan Gedung Agung. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-5676514113881223650?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/5676514113881223650/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/10/mural-sudjojono-di-tembok-gedung-agung.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/5676514113881223650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/5676514113881223650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/10/mural-sudjojono-di-tembok-gedung-agung.html' title='Mural Sudjojono di Tembok Gedung Agung'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TK398c91m3I/AAAAAAAAAGU/uvBj_sAy4iI/s72-c/Istana+Negara+Jogja.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-839535735011764751</id><published>2010-10-05T17:01:00.012+07:00</published><updated>2011-02-17T00:27:09.156+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='conservancy'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jogja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fauna'/><title type='text'>Mengunjungi Rusa di Halaman Kantor B2P3KS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TKr5o927uCI/AAAAAAAAAGE/oADZPgXpwG8/s1600/ARFIANA+KHAIRUNNISA-Rusa-rusa+di+B2P3KS+(2).JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 266px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5524502375118387234" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TKr5o927uCI/AAAAAAAAAGE/oADZPgXpwG8/s400/ARFIANA+KHAIRUNNISA-Rusa-rusa+di+B2P3KS+(2).JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halaman B2P3KS yang terletak di Jl. Kesejahteraan Sosial, Nitipuran, Jogjakarta, penuh dengan rusa. Saya baru tahu dari Facebook salah seorang teman, bahwa di kantor ini banyak rusa. Padahal letak kantor ini tidak jauh dari rumah saya. Dan mereka berada di sana sejak tahun 1994 (saya sendiri baru menempati rumah sekarang sejak 2006 dan berada di Jogja sejak 1999, dan saya tidak tahu bahwa ada rusa di sana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusa-rusa ini memang sengaja dipelihara oleh badan ini agar taman tampak lebih indah dan membuat suasana kondusif di kantor ini. Begitulah cerita Drs. Pranowo, Kepala Bidang Standarisasi dan Sosialisasi Sistem Pelayanan Kesejahteraan Sosial pada B2P3KS Jogja, yang sempat saya temui karena saya penasaran dengan keberadaan rusa-rusa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memelihara rusa ini memang bukan perkara gampang. Banyak syarat yang harus dipenuhi agar disetujui oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA). Halaman seluas 3,9 hektar dirasa cukup untuk memelihara rusa. Akhirnya sepasang rusa yang diambil dari Kebun Binatang Gembiraloka pun diijinkan untuk tinggal di kantor ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan lain adalah memiliki lahan yang cukup, minimal 20x20 meter, lahan tersebut juga harus sudah dipagari minimal 2 meter agar rusa tidak bisa melompat. Ada sumber air dan makanan yang cukup, juga kesungguhan untuk konservasi, bukan untuk jadi hewan ternak. Untuk itulah Balai KSDA akan meninjau rusa yang dipelihara secara pribadi setiap tiga bulan sekali, buat berjaga-jaga rusa tersebut tidak masuk ke dalam perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Alberto dan Bella, begitu Pranowo menamai sepasang rusa tersebut, sekarang sudah berjumlah 24 ekor. Sepasang rusa jenis Afrika tersebut memang sudah dalam pembibitan terlebih dahulu di Kebun Binatang Gembiraloka. Sehingga seminggu setelah dipelihara di B2P3KS, lahirlah anak Alberto dan Bella.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Rusa-rusa ini hidup secara alami di halaman B2P3KS, juga berkembang alami. Mereka memang sengaja dibiarkan liar, namun tetap bersahabat. Pihak B2P3KS tidak secara khusus mengamati rusa-rusa tersebut, sebab makanan sudah tersedia, misalnya rerumputan, daun angsana dan daun mandingan yang paling diminati rusa. Kadang-kadang mereka diberi umbi-umbian untuk vitamin mereka, misalnya wortel dan ketela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucunya, keberadaan rusa yang semula ingin membuat variasi taman, namun taman pun jadi tidak berkembang sebab daunnya dimakan rusa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya itu konsekuensi memelihara rusa. Kalau ada tanaman yang pendek-pendek dan rusa doyan, pasti dimakan. Jadi kalau mau bikin taman tidak berkembang. Begitu juga pohon, sebab rusa jantan suka mengasah tanduknya di batang pohon, sehingga kadang banyak pohon yang luka dan tumbang. Tapi pohon jati aman di sini, mungkin karena batangnya yang lebih kuat dari pada pohon lain,” tambah Subandio, selaku staff umum di B2P3KS yang juga turut memperhatikan pemeliharaan rusa-rusa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja keberadaan rusa-rusa ini menarik masyarakat sekitar Nitipuran. Apalagi para orang tua sering mengajak anak-anaknya untuk sekedar melihat rusa sambil menyuapi, atau hanya untuk berfoto bersama rusa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masyarakat boleh melihat rusa di sini. Biasanya paling ramai jam pulang kantor antara jam 3 hingga jam 5. Biasanya ibu-ibu yang sedang mengasuh anaknya datang ke sini. Biasanya mereka juga membawakan rusa-rusa tersebut makanan,” ujar Bandi, sapaan akrab Subandio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya B2P3KS secara tidak langsung juga memberikan pelayanan pembelajaran bagi masyarakat selain sebagai tempat konservasi. Sebagai tempat konservasi, induk rusa yang bernama Bella sudah berada di Purworejo dan ditangani oleh Balai KSDA Jawa Tengah. Ah, seandainya banyak tempat publik yang digunakan untuk hal-hal bermanfaat, alangkah indahnya kota Jogja ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TKr559cRq7I/AAAAAAAAAGM/V0t3-v4ev_E/s1600/ARFIANA+KHAIRUNNISA-Rusa-rusa+di+B2P3KS+(4).JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 260px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5524502667064355762" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TKr559cRq7I/AAAAAAAAAGM/V0t3-v4ev_E/s400/ARFIANA+KHAIRUNNISA-Rusa-rusa+di+B2P3KS+(4).JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ps. Tak sulit untuk melihat rusa di kantor ini, hanya datang saja, lapor satpam, dan jangan lupa membawa umbi-umbian untuk vitamin si rusa :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*artikel ini dimuat di Radar Jogja, 5 Oktober 2010, diedit sesuai dengan blog ini&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-839535735011764751?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/839535735011764751/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/10/mengunjungi-rusa-di-halaman-kantor.html#comment-form' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/839535735011764751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/839535735011764751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/10/mengunjungi-rusa-di-halaman-kantor.html' title='Mengunjungi Rusa di Halaman Kantor B2P3KS'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TKr5o927uCI/AAAAAAAAAGE/oADZPgXpwG8/s72-c/ARFIANA+KHAIRUNNISA-Rusa-rusa+di+B2P3KS+(2).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-1577481253589958553</id><published>2010-09-21T01:15:00.005+07:00</published><updated>2011-01-29T23:15:48.974+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belitung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='beach'/><title type='text'>Surga Pantai di Pulau Belitung</title><content type='html'>&lt;div id="PictoBrowser100921010651"&gt;Get the flash player here: http://www.adobe.com/flashplayer&lt;/div&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://www.db798.com/pictobrowser/swfobject.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;var so = new SWFObject("http://www.db798.com/pictobrowser.swf", "PictoBrowser", "500", "500", "8", "#DDDDDD"); so.addParam("quality", "low"); so.addParam("scale", "noscale"); so.addParam("align", "mid"); so.addVariable("ids", "72157624997809098"); so.addVariable("names", "Belitung Island"); so.addVariable("userName", "Fian Khairunnisa"); so.addVariable("userId", "52925540@N04"); so.addVariable("source", "sets"); so.write("PictoBrowser100921010651");    &lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Belitung (Feb 2010) dari atas pesawat, tampak banyak danau kecil yang tanpa sengaja terbentuk dari bekas tambang timah, &lt;span id="lw_1285003901_0" class="yshortcuts"&gt;perkebunan kelapa sawit&lt;/span&gt; yang rapi, dan juga semenanjung pantai yang indah. Di bandara H. AS. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, saya telah disambut dengan papan neon bertuliskan ‘&lt;span style="BORDER-BOTTOM: rgb(54,99,136) 2px dotted; CURSOR: pointer" id="lw_1285003901_1" class="yshortcuts"&gt;Selamat Datang&lt;/span&gt; di Pulau Belitung: Negeri &lt;span style="BORDER-BOTTOM: rgb(54,99,136) 2px dotted; CURSOR: pointer" id="lw_1285003901_2" class="yshortcuts"&gt;Laskar Pelangi&lt;/span&gt;’. Saya tersenyum saja melihat tulisan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi mendatangkan wisatawan, pemerintah Belitung pun mengambil judul film garapan Mira Lesmana dan Riri Riza itu untuk taglinenya. Jangan skeptis dulu, pulau Belitung memang indah, sebetulnya tidak begitu perlu menggambarkannya sebagai 'negeri laskar pelangi'. Sebab keindahannya sudah terbentuk sebelum 'negeri laskar pelangi' sendiri itu lahir!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanjung Pandan, ibukota Kabupaten Belitung, tak lagi sesepi lima belas tahun yang lalu, ketika saya tinggal di kota ini. Tak bisa dielakkan, Miles Production secara tidak langsung telah mempopulerkan pulau Belitung karena syuting dilakukan di beberapa tempat di pulau ini. Wisatawan domestik maupun internasional berbondong-bondong datang ke pulau ini. Dan itu menjadikan kota ini sibuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandaranya pun sekarang sudah diperluas, tidak seperti ketika bandara ini bernama Bulu Tumbang. Pesawat dari Jakarta juga sudah tiga kali sehari. Tidak perlu repot menunggu penerbangan yang dulu hanya dua hari sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak sampai lima belas menit dari bandara, saya pun telah sampai di &lt;a href="http://mendanau-hotel.blogspot.com/"&gt;Hotel Mendanau&lt;/a&gt;, sebuah penginapan yang letaknya di pusat kota Tanjung Pandan. Saat itu jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, seharusnya bisa kurang karena pesawat yang membawa saya ke sini tertunda keberangkatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Monis, sapaan saya untuk pemilik hotel ini, dengan ramah mempersilakan saya masuk ke kamar yang telah saya pesan. Kebetulan dia kawan kecil saya yang sekarang sudah jadi bos di hotel ini. Saya pun langsung diajaknya berkeliling kota dengan &lt;span style="BORDER-BOTTOM: rgb(54,99,136) 2px dotted; CURSOR: pointer" id="lw_1285003901_3" class="yshortcuts"&gt;sepeda motor&lt;/span&gt;. Melihat-lihat kota yang sudah lima belas tahun saya tinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak berubah, pasar yang masih sama, pelabuhan yang masih sama, hanya saja ada beberapa bangunan baru dan juga bangunan yang hilang. Dan Pantai Tanjung Pendam, pantai terdekat dari pusat kota, sudah menunggu saya untuk bisa dinikmati warna langit kemerahan di senja hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Pulau Bermahkota Mercusuar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lengkap rasanya kalau sudah di Belitung tetapi tidak menjelajahi pantai-pantainya. Ada puluhan pantai di Pulau Belitung, semuanya berpasir putih dengan air laut yang jernih. Bahkan banyak pulau-pulau kecil di sekitar pantai yang sayang untuk dilewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya, saya pun langsung berangkat ke desa Tanjung Binga, salah satu perkampungan nelayan. Tujuan saya adalah Pulau Lengkuas, pulau yang memiliki mahkota sebuah mercusuar yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1882. Pulau ini terletak di utara Tanjung Binga, butuh waktu sekitar 45 menit untuk ke pulau ini menggunakan boat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lewatkan gugusan pulau-pulau lain dengan &lt;span style="BORDER-BOTTOM: rgb(54,99,136) 2px dotted; CURSOR: pointer" id="lw_1285003901_4" class="yshortcuts"&gt;batu&lt;/span&gt; granitnya ketika berada di boat menuju Pulau Lengkuas. Pulau Burung misalnya, di sana adalah tempat snorkeling yang bagus di sini. Atau Pulau Babi yang masih terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Lengkuas sangat berbeda ketika saya datang ke sini 15 tahun yang lalu. Tak ada lagi kesan seram, sebab sudah banyak wisatawan yang datang ke pulau ini. Dulu, hanya beberapa orang saja yang datang, plus tiga orang yang menetap di pulau ini, yaitu operator mercusuar. Sehingga ketika saya memasuki mercusuar, maka bulu roma pasti berdiri karena gema suara langkah kaki sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang perasaan takut itu sudah tidak ada lagi. Tampak coretan di dinding mercusuar yang menandakan banyak orang berdatangan. Delapan belas lantai pada mercusuar tak terasa sudah sampai ke puncak. Bahkan untuk dapat menikmati pemandangan dari mercusuar haruslah bergantian karena area puncak yang kecil. Ah, tapi tidak mengurangi keindahannya. Saya pun berpikir asal para wisatawan bisa menjaga pulau ini, maka tempat ini akan tetap indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berada di puncak mercusuar, yang terlihat hanyalah birunya air laut sehingga menyatu dengan langit. Laut dan langit tanpa batas, dan itu adalah keindahan yang ingin disaksikan oleh orang yang bertandang ke Pulau Lengkuas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain melihat-lihat pemandangan dari atas mercusuar, para wisatawan juga bisa berkeliling pulau yang luasnya kurang dari satu hektar ini. Bisa juga menikmati minum air kelapa muda di pinggir pantai atau snorkeling melihat pemandangan bawah lautnya. Kemudian pulang membawa gambar yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Lorong Granit Raksasa di Tanjung Tinggi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari Tanjung Binga, sekitar 45 menit sampailah di Tanjung Tinggi, pantai yang digunakan untuk tempat syuting film Laskar Pelangi. Entah siapa yang memasang, namun plang yang bertuliskan ‘Lokasi Syuting Film Laskar Pelangi’ terpasang di antara bebatuan granit yang memang khasnya pantai ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika telah menonton film Laskar Pelangi, pasti ingat dengan bebatuan granit tempat Ikal dan teman-temannya duduk-duduk di sore hari, terjun ke laut dari atas batu, atau berlari-lari di pasirnya yang putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantai ini diapit oleh dua semenanjung dengan teluk kecil yang di kanan kirinya adalah bebatuan granit raksasa. Batu-batu granit tersebut membentuk lorong-lorong yang cukup untuk dilalui. Buat para petualangan, menyusuri lorong di batu granit akan mengasikkan. Lorong ini menghubungkan teluk di sebelah pantai Tanjung Tinggi. Teluk yang berdampingan ini bisa menjadi alternatif lain ketika Tanjung Tinggi sedang dipadati wisatawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantai yang juga dikenal dengan sebutan Pantai Bilik ini memang &lt;span style="BORDER-BOTTOM: rgb(54,99,136) 2px dotted; CURSOR: pointer" id="lw_1285003901_5" class="yshortcuts"&gt;merupakan salah satu&lt;/span&gt; pantai kebanggaan Pulau Belitung. Selain panorama batu granitnya yang mempesona, di kawasan ini para wisatawan juga melakukan diving, jetski, atau memancing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit sangat disayangkan, pantainya yang putih bersih, terdapat ceceran sampah. Mungkin karena ketenarannya saat ini sehingga banyak orang berkunjung. Namun tentu saja itu tak menghilangkan panorama indah yang telah disediakan untuk memanjakan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak tempat lain yang menarik untuk dikunjungi di Pulau Belitung ini. Tanjung Kelayang misalnya, hanya 2 kilometer saja dari Tanjung Tinggi. Tempatnya tak kalah indah dari pantai ini. Niscaya keindahannya tidak akan habis sejauh mata memandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;How to get there:&lt;/span&gt; Cara terbaik ke Belitung dari Jogjakarta adalah dengan pesawat terbang. Ada dua maskapai penerbangan yang setiap hari melayani penerbangan Jogja-Tanjung Pandan (transit di Jakarta), yaitu &lt;span style="BORDER-BOTTOM: rgb(54,99,136) 2px dotted; CURSOR: pointer" id="lw_1285003901_6" class="yshortcuts"&gt;Sriwijaya Air&lt;/span&gt; dan &lt;span style="BORDER-BOTTOM: rgb(54,99,136) 2px dotted; BACKGROUND: none transparent scroll repeat 0% 0%; CURSOR: pointer" id="lw_1285003901_7" class="yshortcuts"&gt;Batavia Air&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Around Belitung:&lt;/span&gt; Kendaraan umum terbaik adalah menyewa mobil atau sepeda motor. Dari bandara di Tanjungpandan, anda harus memesan sewa mobil biasanya &lt;span style="BORDER-BOTTOM: rgb(54,99,136) 2px dotted; CURSOR: pointer" id="lw_1285003901_8" class="yshortcuts"&gt;Toyota Kijang&lt;/span&gt; van/minibus disewakan seharga Rp 450.000/hari termasuk supir, diluar bensin. Anda kira-kira memerlukan Rp 200.000 lagi untuk membeli bensin jika melakukan perjalanan selama 2 hari di daerah pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Daerah lain yang menarik:&lt;/span&gt; Manggar, Gantung, Kelapa Kampit atau Membalong. &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-1577481253589958553?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/1577481253589958553/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/09/surga-pantai-di-pulau-belitung_21.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/1577481253589958553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/1577481253589958553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/09/surga-pantai-di-pulau-belitung_21.html' title='Surga Pantai di Pulau Belitung'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-5283863579190038222</id><published>2010-09-12T23:35:00.011+07:00</published><updated>2010-12-31T12:50:22.845+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vietnam'/><title type='text'>Saigon #5-END: Saigon in a Day!</title><content type='html'>&lt;div id="PictoBrowser100913000856"&gt;Get the flash player here: http://www.adobe.com/flashplayer&lt;/div&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://www.db798.com/pictobrowser/swfobject.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;var so = new SWFObject("http://www.db798.com/pictobrowser.swf", "PictoBrowser", "500", "500", "8", "#DDDDDD"); so.addParam("quality", "low"); so.addParam("scale", "noscale"); so.addParam("align", "mid"); so.addVariable("ids", "72157624939795744"); so.addVariable("names", "Saigon at Glance"); so.addVariable("userName", "Fian Khairunnisa"); so.addVariable("userId", "52925540@N04"); so.addVariable("source", "sets"); so.write("PictoBrowser100913000856");    &lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Saigon (atau sekarang Ho Chi Minh City-HCMC) adalah tempat terakhir yang saya eksplorasi. Saya hanya punya waktu tidak lebih dari lima hari sehingga saya harus menggunakannya seefisien mungkin. Tempat yang jauh dari HCMC saya kunjungi terlebih dahulu, dan keliling kota ada di jadwal terakhir saya. Toh juga kotanya tidak terlalu besar, dengan dua orang teman Vietnam saya, Titien dan Le, saya pun keliling kota naik sepeda motor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun membonceng Titien. Wah! Kalau berkendaraan di HCMC sangat berbeda dengan di Mui Ne. Kalau di Mui Ne hanya ada satu atau dua motor yang berpapasan, maka di HCMC akan ada puluhan motor plus mobil. Saya yang berada di belakang saja takut, karena pengendara di HCMC itu nekat. Salah-salah bisa tertabrak, entah itu motor, mobil, maupun becak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://atlasobscura.com/place/war-remnants-museum"&gt;War Remnants Museum&lt;/a&gt; (Vietnam: Bao Tang Chung Tich Chien Tranh) adalah tempat yang pertama kali saya kunjungi ketika berkeliling kota HCMC. Museum itu adalah tempat wajib bagi saya, karena menurut saya di sanalah tersimpan pondasi sebuah bangsa. Dengan hanya 15.000 VND (Rp. 7500), para turis bisa melihat peninggalan perang Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Puas di War Remnants Museum yang memilukan karena banyak sekali gambar-gambar korban perang, kami pun pindah ke Independence Palace atau Reunification Palace, kantor kepresidenan yang dijadikan museum. Tiket masuk ke sini sama dengan di War Remnants Museum, 15.000 VND untuk turis, dan untuk orang lokal hanya setengahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah! Saya senang sekali harga tiket di sini murah, seperti di Indonesia (bahkan banyak yang gratis). Ketika di Singapura atau Thailand, saya urung masuk beberapa museum karena tiket masuk untuk turis yang mahal. Bagi pecinta museum, Indonesia dan Vietnam adalah surganya. Entah negara lain, teman-teman mungkin lebih berpengalaman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Independence Palace saya tak begitu terpukau. Saya masih suka melihat Vimanmek Mansion dan kompleksnya di Bangkok dengan rumah jatinya dan perabotan rajanya yang antik-antik. Atau Gedung Agung Jogjakarta yang memiliki cerita sendiri, sehingga saya pun merasa lebih kenal dengan presiden kita sendiri. Tapi saya tidak bilang tidak bagus loh ya, selera orang kan berbeda. &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;But this place is recommended if you want to know more about Uncle Ho's government. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah hari kami pun mampir untuk makan siang di belakang masjid Musulman di Jl. Dong Du 66, District 1, yang dibangun tahun 1935 oleh Muslim India. Makanan di sini jelas halal, dan sedap! Ada sup daging kambing, gulai ikan, dan masakan di sini lebih Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyang, dan tak jauh dari masjid, kami pun melanjutkan ke Katedral Notre Dame yang berseberangan dengan Kantor Pos. Bangunan peninggalan Perancis itu masih terawatt hingga kini dan banyak yang menggunakannya sebagai latar untuk berfoto. Di Notre Dame, saya juga sempat bertemu dengan kelompok bapak-bapak asal Indonesia yang asik berfoto. Tetap menyenangkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas berfoto di dua tempat ini, saatnya untuk belanja oleh-oleh di Pasar Ben Thanh. Maaf, saya tidak hobi belanja. Saya beli oleh-oleh karena mendapat titipan teman kopi Vietnam yang terkenal enak. Dan saya membeli beberapa benda yang menurut saya murah, ringan dibawa, dan bisa dibagi-bagi. Sama seperti pasar di Indonesia, harus pintar-pintar menawar, kalau tidak akan dapat harga yang mahal. Yang paling sulit, kadang mereka tidak mengerti bahasa Inggris, jadi siap-siap kalkulator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari yang cukup memuaskan di HCMC. Malam harinya, pesawat saya meninggalkan HCMC menuju Jakarta. Ah, kapan-kapan ingin ke sini lagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Total ongkos pesawat dari/ke Jogja-Jakarta-Ho Chi Minh City Rp. 1.200.000&lt;br /&gt;-Rata-rata penginapan di HCMC perhari perorang: 5 USD (kalau bisa nawar bisa dapat 4 USD)&lt;br /&gt;-Biaya lain-lain tergantung kebutuhan, semakin besar kebutuhan tentu semakin banyak pengeluaran.&lt;br /&gt;-Biaya total saya mulai dari ongkos pesawat, akomodasi, makan, jasa tur adalah 270 USD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-5283863579190038222?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/5283863579190038222/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/09/saigon-5-end-saigon-in-day.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/5283863579190038222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/5283863579190038222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/09/saigon-5-end-saigon-in-day.html' title='Saigon #5-END: Saigon in a Day!'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-3001886972906339641</id><published>2010-09-12T10:56:00.013+07:00</published><updated>2010-12-31T12:50:42.823+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jogja'/><title type='text'>Gerbong Khusus Wanita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TIxcNYvPSUI/AAAAAAAAAEk/F4LKMWfEGPI/s1600/IMG_0714.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 266px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5515885028670654786" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TIxcNYvPSUI/AAAAAAAAAEk/F4LKMWfEGPI/s400/IMG_0714.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gerbong khusus perempuan kereta pada KA komuter Prambanan Ekspres (Prameks) rute Jogja-Solo diluncurkan pada 4 September 2010 lalu, banyak perempuan-perempuan yang senang. Tak akan ada lagi berdesak-desakan dengan penumpang laki-laki, sehingga tanpa sengaja tersentuh bagian-bagian yang sensitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun tanpa sengaja naik gerbong ini pada Lebaran ke dua 2010. Maklum saya bukan orang Jogja yang ke Solo setiap hari, hanya jika ada kunjungan keluarga saja saya ke Solo. Oleh petugas kereta ini, saya langsung dipersilakan masuk ke gerbong pertama, gerbong khusus perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TIxc2B5NAwI/AAAAAAAAAE0/6ojE_yzZkJ0/s1600/IMG_0740.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 266px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5515885726913069826" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TIxc2B5NAwI/AAAAAAAAAE0/6ojE_yzZkJ0/s400/IMG_0740.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang berbeda dengan gerbong lain, hanya saja dalam gerbong ini terdapat tanda “Gerbong Khusus Wanita” dengan simbol perempuan menggunakan rok. Perempuan membawa anak-anak baik itu anak laki-laki maupun perempuan diperbolehkan di gerbong ini. Perempuan dan laki-laki dewasa tidak diperbolehkan. Apalagi laki-laki dewasa, langsung dipersilakan untuk duduk di gerbong lain.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun ketika saya berada dalam gerbong tersebut, masih ada saja laki-laki yang duduk di gerbong ini. Mungkin dia tidak bisa membaca tanda, atau mungkin karena melihat banyak perempuan dan ingin menggoda beberapa di antaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, kehadiran laki-laki di dalam gerbong ini seperti alien. Karena yang lain, tentu saja perempuan. Beberapa di antaranya kurang nyaman dengan kehadiran laki-laki di gerbong itu, tapi entah mengapa tidak ada yang menegurnya. Mungkin sudah kebacut, terlanjur, karena kereta penuh. Ah! Selalu saja peraturan itu dilanggar (saya sendiri lebih memilih memperhatikan kegiatan penumpang dan belajar memotret, alias cuek).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TIxdBd6H-iI/AAAAAAAAAE8/dWKn1p--uRU/s1600/IMG_0730+copy.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 266px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5515885923411687970" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TIxdBd6H-iI/AAAAAAAAAE8/dWKn1p--uRU/s400/IMG_0730+copy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri merasa lebih nyaman di dalam gerbong ini karena tidak harus berdesak-desakan dengan laki-laki. Apalagi kereta Prameks Jogja-Solo maupun sebaliknya pasti penuh. Saya menyambut senang kehadiran gerbong khusus perempuan ini. Apalagi perempuan yang sering bepergian bolak balik Jogja-Solo seorang diri, gerbong ini cukup membantu perempuan merasa nyaman dan aman. Mungkin akan menyusul gerbong ini di kereta lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TIxdL5VsKeI/AAAAAAAAAFE/l-1OdmUHEaU/s1600/IMG_0756.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 266px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5515886102573754850" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TIxdL5VsKeI/AAAAAAAAAFE/l-1OdmUHEaU/s400/IMG_0756.jpg" /&gt;Seandainya (Duduk di Gerbong Khusus Perempuan)&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-3001886972906339641?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/3001886972906339641/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/09/ketika-gerbong-khusus-perempuan-kereta.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/3001886972906339641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/3001886972906339641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/09/ketika-gerbong-khusus-perempuan-kereta.html' title='Gerbong Khusus Wanita'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TIxcNYvPSUI/AAAAAAAAAEk/F4LKMWfEGPI/s72-c/IMG_0714.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-8724883968055455929</id><published>2010-08-03T00:32:00.006+07:00</published><updated>2010-12-31T12:50:58.666+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jogja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='human'/><title type='text'>Upin &amp; Ipin, Budak-Budak Banda Yatim Piatu karena Deadline</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TFcCOPYmD0I/AAAAAAAAADI/4FnZVSXFCsQ/s1600/fakstn8xq9.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 307px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500867913527463746" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TFcCOPYmD0I/AAAAAAAAADI/4FnZVSXFCsQ/s400/fakstn8xq9.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mendengar Upin dan Ipin, terbayang sosok bocah kembar asal Malaysia. Kemudian kata ‘betul’ yang diucapkan berulang kali pun menjadikan kedua sosok bocah itu lebih terkenal. Animasinya cukup digemari di Indonesia, bahkan merchandise-nya telah banyak di pasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun membayangkan siapakah dia yang menciptakan animasi Upin dan Ipin itu. Saya membayangkan sosok yang pendek dan botak, seperti pula Upin dan Ipin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ada sebuah workshop internasional di Jogja, saya pun berkesempatan menginterview dengan salah seorang creator bocah-bocah itu. Namanya Muhammad Usamah Zaid selaku Creative Director Upin dan Ipin yang bernaung di bawah studio Les' Copaque. Sosoknya? Jauh dari bayangan saya sebelumnya. Bukan laki-laki pendek dan botak, tapi laki-laki dengan tinggi rata-rata dan berambut banyak, juga bergigi putih. Usianya juga masih relatif muda, kelahiran akhir 1983. Ramah dan senang bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Zaid(panggilan akrabnya)kemudian bercerita tentang awal mula bagaimana ia dan kedua temannya, Mohd Nizam Abdul Razak dan Mohd Safwan Abdul Karim menciptakan Upin dan Ipin. Mungkin saya tidak perlu lagi menuliskan bagaimana Upin dan Ipin itu menjadi animasi yang paling ditunggu saat ini, sebab sudah banyak yang menuliskan sejarahnya di media cetak, online maupun televisi. Tinggal search saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rupanya banyak yang belum saya ketahui dari media-media tersebut. Misalnya saja ketika Zaid bercerita bahwa Upin dan Ipin mulanya bukanlah karakter utama dalam animasi itu. Dia bilang kalau dia dan teman-temannya hanya ingin membuat cerita tentang ‘budak-budak banda’ (bahasa Malaysia), yang kemudian saya artikan sebagai anak-anak kampung. Maaf kalau saya salah mengartikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TFcCzVu1yDI/AAAAAAAAADQ/4fuv_SbgnTU/s1600/arfiana+khairunnisa-Zaid+2.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 134px; DISPLAY: block; HEIGHT: 200px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500868550886541362" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TFcCzVu1yDI/AAAAAAAAADQ/4fuv_SbgnTU/s200/arfiana+khairunnisa-Zaid+2.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mulanya Upin dan Ipin adalah karakter sampingan, bukan karakter utama. Waktu mau buat mini seri belum tahu karakteristiknya bagaimana. Tapi kami ingin membuat cerita tentang budak-budak banda yang ada di Kampung Durian Runtuh. Kenakalan mereka dan lain sebagainya,” begitu cerita Zaid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ide tentang budak-budak banda tersebut, Zaid dan teman-temannya pun segera menggarap cerita Upin dan Ipin, yang nama mereka muncul begitu saja di benaknya. Deadline pun semakin dekat, Upin dan Ipin harus segera selesai. Namun, Upin dan Ipin belum selesai, mereka tidak memiliki ayah dan ibu! Sehingga Zaid dan teman-temannya memutuskan agar mereka ini adalah anak yatim piatu yang tinggal bersama Opah dan Kak Ros.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, itulah sebabanya mengapa Upin dan Ipin yatim piatu, karena Zaid dan teman-temannya sudah keburu &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;deadline&lt;/span&gt;. Tapi si Zaid ini tidak kehabisan akal, sebab karena keadaan Upin dan Ipin yang yatim piatu, maka ini memberikan alasan bagi Zaid agar penonton turut prihatin dengan keadaan mereka yang tidak berayah, tidak beribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aih! Memang orang kalau sedang kepepet, muncul saja ide-ide kreatifnya. Seperti juga saya yang baru bisa menulis jika &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;deadline&lt;/span&gt; sudah dekat, he he he…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;By the way&lt;/span&gt;, Zaid, &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;thank you for the interview&lt;/span&gt;. Sukses selalu untukmu, juga Upin dan Ipin semakin dicintai penonton. Mudah-mudahan selalu ada ide kreatif yang bermanfaat untuk seluruh masyarakat. &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Betul, betul, betul?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-8724883968055455929?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/8724883968055455929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/08/upin-ipin-budak-budak-banda-yatim-piatu.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/8724883968055455929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/8724883968055455929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/08/upin-ipin-budak-budak-banda-yatim-piatu.html' title='Upin &amp; Ipin, Budak-Budak Banda Yatim Piatu karena Deadline'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TFcCOPYmD0I/AAAAAAAAADI/4FnZVSXFCsQ/s72-c/fakstn8xq9.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-5073456735982360953</id><published>2010-07-31T19:08:00.010+07:00</published><updated>2010-12-31T12:51:31.624+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='waterfall'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jogja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='river'/><title type='text'>Kali Oya, Miniatur Sungai Kuning</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TFQVwkpIr5I/AAAAAAAAACw/1ZoCwJvELjQ/s1600/arfiana+khairunnisa-pemandangan+sungai+Oya+dan+air+terjun+di+sungai+Oya+(118)+copy.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 267px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500044969140334482" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TFQVwkpIr5I/AAAAAAAAACw/1ZoCwJvELjQ/s400/arfiana+khairunnisa-pemandangan+sungai+Oya+dan+air+terjun+di+sungai+Oya+(118)+copy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunungkidul identik dengan kawasan kering. Namun, jika melihat Sungai Oya yang alirannya melewati Desa Wisata Bleberan, citra kering tersebut sama sekali tidak tampak. Persawahan nan hijau dengan hutan yang cukup rapat, ditambah dengan suara air terjun Sri Gethuk, menambah kemewahan yang telah disediakan oleh alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat senang ketika sampai di tempat ini. Sebab sudah sejak lama saya mencari air terjun, dan ternyata saya menemukannya di Gunungkidul! Ini pertama kalinya saya melihat air terjun, meski tingginya hanya 50 meter. Berlebihan jika saya katakan inilah pertama kalinya? Tidak juga, ini memang pertama kalinya, maklum, sepuluh tahun lebih saya tinggal di pesisiran jadi jarang menjumpai air terjun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai Oya sudah menanti untuk ditelusuri. Di sungai berwarna air hijau ini, terdapat air terjun Sri Gethuk yang oleh masyarakat lokal diberinama Slempret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Wilayahnya dikelilingi oleh area persawahan terasering nan hijau. Pepohonan yang cukup rapat sehingga meneduhkan para pejalan kaki. Suara air terjun pun sudah terdengar, memecah setiap keheningan di Bleberan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim SAR Gunungkidul sudah menyambut saya untuk menyusuri Sungai Oya. Dengan ramah mereka meminjamkan saya pelampung keselematan yang berwarna oranye itu dan menyilakan untuk naik ke boat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow! Begitulah, sempat tak percaya disediakan alam seperti ini di Gunungkidul. Beberapa tim SAR berenang dengan tenang di air sungai itu. Rasanya saya ingin menceburkan diri juga ke dalam sungai, namun mengingat tidak ada persiapan berbasah-basahan niat itu saya urungkan. Lalu boat pun menuju ke tempat air terjun Sri Gethuk memancarkan air yang tak ada habis-habisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya air terjun ini bisa juga dituju dengan berjalan kaki sejauh 450 meter dengan jalan naik turun yang melelahkan. Namun menyusuri Sungai Oya menggunakan boat atau gethek, lebih menarik. Bisa melihat sisi kiri kanan, dengan tebing dan juga bebatuan yang tak kalah menarik. Kamera tidak akan pernah lepas untuk memotret pemandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Gethuk sudah di depan mata, airnya berasal dari mata air di desa Bleberan. Bebatuan di bawah air terjun ini membentuk undak-undakan dengan akhir yang seperti kolam renang para putri raja. Bayangkan jika di atas undak-undakan batu itu, seorang putri raja tengah bermain air. Toh bagaimanapun, tempat ini sudah sangat seksi meski tanpa putri raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TFQVIgaVLxI/AAAAAAAAACo/nRh-dHOSjHc/s1600/IMG_0439.JPG"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 134px; FLOAT: right; HEIGHT: 200px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500044280809729810" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TFQVIgaVLxI/AAAAAAAAACo/nRh-dHOSjHc/s200/IMG_0439.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cerita, air terjun ini merupakan pusat para jin. Namun jin ini menyukai kesenian, karena pada saat-saat tertentu terdengar suara yang jika didengar dari lokasi padukuhan suaranya berasal dari air terjun ini. Namun jika didekati, suara tersebut akan hilang. Kemudian air terjun ini dinamai Slempret oleh penduduk lokal, sebab suara yang terdengar seperti suara slompret, salah satu alat musik tiup. Tetapi kadang kala, terdengar pula suara gamelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mistisme air terjun Sri Gethuk tidak akan terasa jika sudah melihat tempat yang membuat siapapun merasa sejuk ini. Tidak berlebihan jika sungai Oya dengan perpaduan air terjun Sri Gethuk yang menghiasinya merupakan sebuah miniatur Sungai Kuning di Cina. Airnya yang kehijauan, dengan tebing di sisinya, juga air terjun kecil yang mengalir di antara bebatuannya, menambah eksotisme di Desa Wisata Bleberan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TFQWf4hNB9I/AAAAAAAAADA/8ZFx2wz0CzI/s1600/arfiana+khairunnisa-pemandangan+sungai+Oya+dan+air+terjun+di+sungai+Oya+(126)+copy.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 267px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500045781929625554" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TFQWf4hNB9I/AAAAAAAAADA/8ZFx2wz0CzI/s400/arfiana+khairunnisa-pemandangan+sungai+Oya+dan+air+terjun+di+sungai+Oya+(126)+copy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Air terjun ini terletak di Desa Wisata Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Jogjakarta. Berjarak 10 kilometer dari ibukota Gunungkidul, Wonosari. Dari Jogja, waktu tempuhnya bisa mencapai 2 jam. Bisa menggunakan mobil atau motor untuk bisa sampai di desa ini. Retribusi: Rp. 3000 (Belum termasuk ongkos parkir)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-5073456735982360953?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/5073456735982360953/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/kali-oya-miniatur-sungai-kuning.html#comment-form' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/5073456735982360953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/5073456735982360953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/kali-oya-miniatur-sungai-kuning.html' title='Kali Oya, Miniatur Sungai Kuning'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TFQVwkpIr5I/AAAAAAAAACw/1ZoCwJvELjQ/s72-c/arfiana+khairunnisa-pemandangan+sungai+Oya+dan+air+terjun+di+sungai+Oya+(118)+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-7951183245432961877</id><published>2010-07-24T18:00:00.009+07:00</published><updated>2010-12-31T12:51:58.128+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mui Ne'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vietnam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sand dune'/><title type='text'>Saigon #4: Mui Ne, Eksotisme Timur Tengah di Vietnam Selatan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TErI48LcntI/AAAAAAAAACY/CAu65GDkgTU/s1600/bao-trang-the-white-sand-dunes.9051.large_slideshow.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 267px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5497427175711481554" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TErI48LcntI/AAAAAAAAACY/CAu65GDkgTU/s400/bao-trang-the-white-sand-dunes.9051.large_slideshow.jpg" /&gt;The White Sand Dunes&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Anda bisa mendapatkan pemandangan sahara di Mũi Né’’. Begitulah kalimat yang tertera pada sebuah buku panduan wisata di Vietnam Selatan. Mũi Né adalah sebuah kota kecil di Vietnam Selatan dengan eksotisme Timur Tengah yang menggoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mũi Né termasuk dalam provinsi Binh Thuan dekat dengan ibukota Phan Thiet. Kota ini sebuah kota kecil di tenggara propinsi Ho Chi Minh City (HCMC) adalah salah satu tempat yang direkomendasikan. Saya sempat ragu apakah akan mengunjungi kota yang jauhnya hampir 6 jam perjalanan dari HCMC itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari ke empat saya di Vietnam Selatan, saya pun memutuskan untuk ke Mũi Né dengan bus malam khusus untuk tidur (sleeping bus). Begitulah, perjalanan singkat, kita harus pintar memanipulasi waktu. Pukul 20.00 bus pun beranjak ke Mũi Né dan sampai di kota ini sudah dini hari. Mencari homestay tidaklah sulit di kota kecil ini. Banyak sekali pilihan tempat tinggal mulai dari yang murah hingga resort, namun semua masih terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mũi Né adalah kota kecil di pinggir pantai. Deburan ombak laut langsung terdengar dan bau laut pun langsung tercium begitu sampai kota ini. Pagi hari kota ini cenderung sepi, anak-anak pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda, dan ibu-ibu berbelanja ke pasar tradisional. Sangat berbeda dengan kota HCMC yang sangat sibuk bahkan untuk menyebrang jalan saja sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Melarikan diri ke Mũi Né dari rutinitas kesibukan di HCMC adalah cara paling tepat, bahkan bagi warga lokal sekalipun. Banyak dari mereka yang pergi ke tempat-tempat sepi, dan Mũi Né salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Mũi Né adalah kota kecil, betapa bijaknya jika berkeliling Mũi Né sendirian karena tidak takut tersesat. Di Mũi Né banyak penyewaan kendaraan untuk berkeliling, dan saya memilih sepeda motor untuk melaju di kota Mũi Né.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa didapat di Mũi Né? Tentu saja seperti yang dijanjikan di buku-buku wisata bahwa Mũi Né memiliki kekayaan alam unik bahkan masing-masing tempat dekat satu sama lain, sehingga bisa dicapai hanya dalam sehari saja berkeliling di Mũi Né.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suoi Tien atau fairy stream adalah tujuan pertama saya di Mũi Né, karena jaraknya paling dekat dengan homestay saya, hanya 10 menit. Saya pun langsung melaju ke Suoi Tien dan sempat bingung karena tidak ada tanda-tanda ada tempat tersebut. Setelah bertanya beberapa kali, sampailah saya di Suoi Tien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TErJfgsIkeI/AAAAAAAAACg/V6YAGQ48BJw/s1600/arfiana+khairunnisa-Mui+Ne+%283%29-Pemandangan+di+Suoi+Tien.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 267px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5497427838347284962" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TErJfgsIkeI/AAAAAAAAACg/V6YAGQ48BJw/s400/arfiana+khairunnisa-Mui+Ne+%283%29-Pemandangan+di+Suoi+Tien.JPG" /&gt;Sungai Suoi Tien&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan masuknya di belakang sebuah warung sederhana, yang dijanjikan adalah menyusuri sungai sepanjang 500 meter yang akan berakhir di air terjun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngong, pemandu saya adalah seorang gadis kecil berusia 10 tahun. Dengan modal bahasa Inggris patah-patah dia pun bertanya kepada saya, "Where are you come from?", saya pun menjawab, "Indonesia." Ngong pun mengangguk-angguk entah ia mengerti atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air sungai Suoi Tien hanya semata kaki, sehingga para turis bisa berjalan di tengah sungai. Cukup membantu ketika cuaca di Mũi Né sangat panas, kaki pun bisa tetap segar dengan berjalan di sungai. Kanan kiri sungai ini adalah tebing-tebing berwarna batu merah dan putih. Sangat indah dengan perpaduan warna langit yang biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang, perjalanan 500 meter dengan tebing yang indah ini hanya ditebus dengan air terjun yang hanya dua meter. Ah! Namun Ngong dengan bangganya menunjukkan air terjun itu. Saya pun berpisah dengan Ngong di situ dengan memberinya 10.000 VND.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup di Suoi Tien, saya pun beranjak ke Doi Cat Trang (White Sand Dunes) yang kali ini cukup jauh dari kota Phan Thiet, sekitar 45 menit perjalanan dengan sepeda motor.&lt;br /&gt;Sudah terbayang-bayang Doi Cat Trang di depan mata yang katanya adalah sahara luas satu-satunya di Asia Tenggara. Perjalanan ke sana pun sangat menyenangkan. Di kanan ada pantai dengan airnya yang biru, dan di sebelah kiri adalah tebing merah seperti di Suoi Tien juga hamparan tanah merah yang luas memuaskan ke mana pun mata memandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke Doi Cat Trang melewati Doi Cat Vang (Yellow Sand Dunes), itu saja sudah cukup indah meski berada lebih dekat daripada Doi Cat Trang dengan pasirnya yang benar-benar berwaran kuning. Bagaimana dengan Doi Cat Trang sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indahnya melebihi bayangan saya. Sahara berwarna putih yang disebut Doi Cat Trang ini sudah tampak dari kejauhan. Bukan hanya itu saja, hamparan luas danau di depan sahara ini memantulkan cahaya kebiru-biruan. Bonusnya adalah di dalam danau tersebut adalah kebun teratai yang sangat menyejukkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memarkir motor, saya pun segera menuju sahara tersebut. Panas terik sudah kalah dengan indahnya tempat ini, selain itu dibantu dengan hutan cemara kecil sehingga berjalan ke sahara pun jadi lebih sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini para turis biasa bermain selancar pasir. Sehingga banyak anak-anak yang menyewakan alat selancar pada para turis. Harganya, jika tega menawar maka satu papan selancar itu berkisar antara 10.000 VND.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bisa saja bersantai di atas hammock yang disediakan di warung-warung sambil menikmati kelapa muda. Tempat ini seperti surga bagi pelancong di Vietnam Selatan. Mungkin saya bisa seharian di sini, kalau saja saya tidak ingat harus pulang lagi ke HCMC pada tengah malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang unik di sahara ini, jika di Timur Tengah ada unta, tetapi di sahara ini ada penggembala sapi lengkap dengan puluhan sapinya yang sedang melenggang dengan santai di sahara melewati turis-turis yang sedang berselancar pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang Doi Cat Vang (Yellow Sand Dunes) tidak begitu menarik jika sudah ke Doi Cat Trang. Lebih banyak orang berdagang dan anak-anak menyewakan alat selancar di sini. Sehingga keindahan Doi Cat Vang pun tidak terlalu tampak. Namun dari atas sini, kota kecil Mũi Né tampak lebih indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan hari itu pun ditutup dengan kuliner tradisional di tengah pasar di Mũi Né sambil menikmati suasana kotanya. Para pedagang makanan sangat ramah meski tidak bisa berbahasa Inggris, dan tentu saja menikmati kuliner di sini setengah harga daripada harga kuliner di HCMC dengan menu yang sama. Nah, mumpung di Mũi Né...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-7951183245432961877?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/7951183245432961877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/saigon-4-mui-ne-eksotisme-timur-tengah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/7951183245432961877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/7951183245432961877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/saigon-4-mui-ne-eksotisme-timur-tengah.html' title='Saigon #4: Mui Ne, Eksotisme Timur Tengah di Vietnam Selatan'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TErI48LcntI/AAAAAAAAACY/CAu65GDkgTU/s72-c/bao-trang-the-white-sand-dunes.9051.large_slideshow.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-7082980870508512353</id><published>2010-07-20T22:30:00.011+07:00</published><updated>2010-12-31T12:52:22.969+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vietnam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='human'/><title type='text'>Saigon #3: Hi Markus!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEXF1H-wVLI/AAAAAAAAACI/9TQuL967wvU/s1600/arfiana+khairunnisa-+markus+lehtipuu+di+atas+perahu+di+sungai+mekong+(1).JPG"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 267px; FLOAT: left; HEIGHT: 400px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496016436741559474" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEXF1H-wVLI/AAAAAAAAACI/9TQuL967wvU/s400/arfiana+khairunnisa-+markus+lehtipuu+di+atas+perahu+di+sungai+mekong+(1).JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vietnam Selatan pada bulan Mei suhunya mencapai 38 derajat, tetapi tidak menyurutkan saya dan para turis lain untuk menikmati keindahan Sungai Mekong di provinsi Ben Tre dan My Tho, Ho Chi Minh, sekitar 2 jam dari pusat kota. Saya mengambil tur untuk menyusuri Sungai Mekong karena lebih praktis dan harga cukup terjangkau. Dalam tur inilah saya bertemu dengan seorang penulis guide book dan juga pemilik penerbitan Finnish Guidebooks Ltd. di Helsinki, Markus Lehtipuu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Markus tahu saya berasal dari Indonesia, dia langsung mengajak mengobrol dalam bahasa Indonesia. Sebab ia pernah hingga 15 sampai 20-an kali mengunjungi Indonesia dan tinggal di beberapa kota di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Kamu orang Indonesia? Saya pernah tinggal di Bali, dan kota-kota lain di Indonesia,’’ sapanya meski dalam bahasa Indonesia patah-patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sudah tiga bulan ini ia berkeliling di Vietnam untuk menyelesaikan pembuatan buku traveling guide bagi orang Finlandia. Dia menulis tentang tempat tinggal, makanan, kendaraan, apa yang harus dipersiapkan, apa yang harus dihindari, dan hal-hal yang menarik yang perlu direkomendasikan untuk orang Finlandia yang akan ke Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Seperti traveler lain, saya di sini untuk merasakan bagaimana travel di Vietnam. Di sini saya mengambil bus turis biasa, saya bepergian menggunakan kereta api, perahu, dan kadang-kadang mengambil tur seperti ini,’’ ujarnya sambil memotret pemandangan Sungai Mekong dari atas boat yang menuju Con Phung (Phoenix Island), salah satu pulau di Delta Mekong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai Mekong adalah sungai luas yang melalui enam negara sekaligus, Cina, Myanmar, Laos, Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Di Vietnam sendiri, beberapa provinsi dilewati oleh Sungai Mekong dan tempat-tempatnya menarik untuk dikunjungi. Sebelum melihat aktivitas orang-orang di Sungai Mekong di Ben Tre, Markus terlebih dahulu mendatangi propinsi Can Tho. Namun ia sempat kesulitan ketika ia menuju Can Tho menggunakan bus umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Biasanya saya jarang menggunakan bus umum, saya lebih memilih open-tour bus, bus untuk turis yang biasa berhenti di kota-kota. Tetapi ketika saya berada di Can Tho dan akan melanjutkan perjalanan ke My Tho, Ben Tre, saya kesulitan menemukan bus lokal, hanya ada satu bus itu pun dini hari,’’ ujar pria kelahiran 2 Juni ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun langsung merekomendasikan untuk mengambil tur daripada bepergian sendiri di Vietnam. Karena beberapa tempat di Vietnam aksesnya terbatas. Tetapi menurutnya, tetap Vietnam adalah negara yang unik, karena memiliki sejarah yang unik pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Seribu tahun dalam penjajahan China, banyak perang, warisan Perancis dan yang paling berkesan adalah perang melawan Amerika. Semuanya adalah kombinasi yang unik dengan peninggalan perang Amerika, arsitektur China dan Perancis,’’ ungkap Markus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kota yang paling menarik bagi Markus di Vietnam adalah Hue, yang dulu pernah menjadi ibukota Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Dua kota yang penuh sejarah juga di Vietnam adalah Hanoi yang menjadikan Vietnam bersatu dan Ho Chi Minh City (dulu Saigon),’’ katanya yang kemudian melanjutkan menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perahu kami pun merapat di Con Phung untuk melihat pembuatan handicraft dari pohon kelapa sekaligus menikmati makan siang dengan menu ikan gajah (elephant fish) yang khas Sungai Mekong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Markus pun bercerita pertama kali dia menjadi traveler writer. Ketika itu ia berusia 27 tahun dan sudah bepergian ke beberapa negara di Asia, Afrika, dan banyak negara di Eropa. Ia merasa jika masyarakat Finlandia butuh saran jika ingin berkeliling dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Orang-orang mulai mengumpulkan banyak uang untuk traveling, jadi saya mengumpulkan 20 siswa dan kami membuat guidebook tentang Asia, Afrika dan Amerika Latin. Setelah itu saya membuat buku pertama saya tentang Moroko, kemudian Thailand. Namun setelah satu tahun saya lepas dari penerbitan yang menerbitkan dua buku saya tersebut, sehingga saya pun membuat penerbitan buku sendiri,’’ jelasnya sambil menikmati hidangan buah-buahan tropis di atas meja makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi seorang traveler writing kadang rumit, karena harus memiliki kesabaran terhadap penerbit atau editor yang ingin membayar untuk itu. Sementara dia harus berkeliling dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Mungkin penerbitan atau editor menjadi cemburu dan berhenti membayar untuk hal itu. Sehingga ketika saya mendirikan penerbitan sendiri, saya tidak akan cemburu dengan diri saya sendiri,’’ ungkap Markus yang memiliki 10 kontributor untuk penerbitannya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini, ia telah membuat lebih dari 20 guide book. Antara lain tentang Lithuania, Romania, Thailand, Malaysia, Vietnam, Moroko, dan city guide seperti New York, Singapura, Stockholm, dan regional guides seperti Central Thailand, Phuket Krabi &amp;amp; Phang Nga, Koh Samui &amp;amp; Gulf of Siam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sangat menikmati bepergian mengunjungi negara-negara lain. Kesulitan yang dihadapinya adalah ketika mengunjungi hotel, restauran, museum, dan hal lain yang harus ia tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Di Vietnam sendiri memiliki ratusan hotel dan kota tujuan. Begitu juga dengan Bali, banyak hotel, losmen atau homestay yang unik-unik. Sehingga sangat penting untuk mengunjunginya dan melihat ruangnya,’’ ungkap lulusan Univesitas Helsinki ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi karena ia membuat buku untuk orang Finlandia, ia pun harus mencari hal-hal yang membuat orang Finlandia merasa seperti di rumah sendiri ketika berada di negara lain. Di Bangkok dan Singapura, misalnya, ia harus melihat sauna, karena di Finlandia banyak rumah yang memiliki sauna sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Hal lain yang harus dicari oleh orang Finlandia adalah alkohol, karena orang Finlandia minum banyak alkohol, tetapi saya tidak bisa menyertakannya dalam buku saya,’’ katanya yang ketika di Bali mengambil banyak foto yang menggambarkan festival di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia, menurutnya, adalah negara yang indah karena banyak tempat yang berbeda, seperti Danau Toba, Ubud, Tanah Toraja, yang memberikan suguhan alam dan kebudayaan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Saya suka orang Indonesia, bahkan saya bisa berbahasa Indonesia karena seringnya saya ke Indonesia. Saya pernah tinggal di kota besar yang bising, seperti Medan, Pekanbaru, dan Makassar,’’ kata Markus yang pernah datang dua kali ke Jogja ini untuk menikmati gamelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang pejalan, kadang ia juga merasa lelah, apalagi harus berada di negara yang suhunya tinggi, seperti Vietnam dalam bulan Mei. Tetapi jiwa petualangnya ingin melihat semua keindahan planet ini. Di sela menikmati hidangan buah-buahan tropis, disuguhi pula sajian musik tradisional khas Vietnam. Ia pun suatu saat ingin membuat buku tentang Indonesia, yang belum sempat kesampaian.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEXGG1obRyI/AAAAAAAAACQ/7j8QxMP-ByI/s1600/arfiana+khairunnisa-kegiatan+menangkap+ikan+gajah+di+sungai+mekong.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 267px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496016741053712162" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEXGG1obRyI/AAAAAAAAACQ/7j8QxMP-ByI/s400/arfiana+khairunnisa-kegiatan+menangkap+ikan+gajah+di+sungai+mekong.JPG" /&gt;salah satu kegiatan di tepian sungai mekong&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;ps. tulisan ini juga dimuat di Radar Jogja, 19 Juni 2010&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-7082980870508512353?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/7082980870508512353/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/saigon-3-ketemu-markus-lehtipuu.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/7082980870508512353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/7082980870508512353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/saigon-3-ketemu-markus-lehtipuu.html' title='Saigon #3: Hi Markus!'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEXF1H-wVLI/AAAAAAAAACI/9TQuL967wvU/s72-c/arfiana+khairunnisa-+markus+lehtipuu+di+atas+perahu+di+sungai+mekong+(1).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-4716680139236760602</id><published>2010-07-20T22:25:00.006+07:00</published><updated>2010-12-31T13:20:28.238+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tunnel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vietnam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='museum'/><title type='text'>Saigon #2: Ke Lorong Religi dan Perjuangan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEXA2a1FN5I/AAAAAAAAACA/icWhMQdV56U/s1600/chu+chi+tunnel.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 266px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496010961422989202" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEXA2a1FN5I/AAAAAAAAACA/icWhMQdV56U/s400/chu+chi+tunnel.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya anti menggunakan jasa tur, tetapi di HCMC ini saya terpaksa menggunakan jasa tour karena tempat yang ingin saya kunjungi jauh dari pusat kota HCMC. Maka saya dan Yusi sepakat untuk mengambil Sinh Tourist yang cukup terpercaya di Vietnam. Letaknya juga tidak jauh dari homestay kami, hanya 5 menit jalan kaki sudah sampai. Saya pun memberanikan diri memilih tur ini. Dalam bayangan saya, menggunakan jasa tour itu mahal dan tidak enak, apalagi jika tidak dapat tour guide yang asik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, banyak orang lokal pun mengambil jasa tur ini. Mereka bilang mengerikan naik motor ke Chu Chi Tunnel karena jauh, maklum tidak banyak orang yang punya mobil pribadi di HCMC. Apalagi, harga tur di sini tidak semahal di tempat lain, cukup fair untuk para turis dan orang lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan Yusi pun sepakat untuk mengunjungi Chu Chi Tunnel di hari kedua kami di HCMC. Kami pun mengambil paket Chu Chi Tunnel yang satu paket dengan Cao Dai Temple. Selain lebih murah, agar kami bisa menghabiskan satu hari di tempat yang jauh juga. Perjalanan ke Chu Chi Tunnel cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Harga tur ini 120.000 VND plus 75.000 VND tiket untuk masuk Chu Chi Tunnel. Untuk menghitung rate mata uang Vietnam dalam Rupiah, mata uang Rupiah dikali dua sehingga menghasilkan VND.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dengan Rp. 60.000 kami sudah mendapatkan bis ber-AC yang nyaman, perjalanan ke Chu Chi Tunnel dan Cao Dai Temple tanpa kepanasan karena cuaca di HCMC mencapai 38 derajat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum dibawa ke tempat tujuan, bis kami menuju tempat pembuatan kerajinan tangan di daerah Binh Thanh. Semua pekerja di sini adalah orang difabel. Mungkin sejak banyaknya difabel tuna daksa di Vietnam akibat perang dengan Amerika (yang menyebarkan Agent Orange) maka pemerintah Vietnam memberdayakan para difabel ini. Salut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bis kami pun menuju Cao Dai Temple yang jauhnya sekitar 2 jam dari HCMC (makanya orang Vietnam malas bawa motor sendiri). Kabarnya di Cao Dai Temple ini tempat sembahyangnya lima agama sekaligus, Buddha, Kong Hu Chu, Hindu, Kristen dan Islam. Nah loh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak begitu banyak mengorek informasi dari tour guide karena dia pun tampaknya kurang faham dengan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat jam 12 siang kami sampai di Cao Dai dan bertepatan pula dengan waktu sembahyang mereka, namun pada saat itu hanya tiga agama saja yang sembahyang bersama. Ritual mereka diawali musik khas Vietnam, plus alat musiknya juga. Tidak ada yang aneh dari ritual mereka, hanya saja mereka tampak khusyuk sekali tanpa terganggu para turis (termasuk saya) memotret mereka di dalam rumah ibadah mereka. Hebat! Bahkan rumah ibadah pun jadi tempat wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas di Cao Dai, tur kami berhenti untuk makan siang. Setelah makan siang kami pun langsung menuju Chu Chi Tunnel yang jaraknya 1,5 jam, nah saatnya tidur di dalam bis yang nyaman dan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chu Chi Tunnel, saya sudah sering lihat di televisi. Tempat ini memang wajib dikunjungi para wisatawan jika mampir ke Vietnam. Betapa orang Vietnam itu tidak mau kalah, dan selalu punya cara untuk menyerang musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chu Chi Tunnel membuat saya berdecak kagum pada para Vietchong ini. Selama bertahun-tahun mereka berlindung di bawah tanah yang sempit itu. Tak lupa saya pun mencoba menjadi Vietchong, dan uh! Betapa tidak enak berada di dalam tanah yang sempit. Ck ck ck…&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEXAec-Lw3I/AAAAAAAAAB4/ceOkMkv4-Xc/s1600/cao+dai.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 266px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496010549681177458" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEXAec-Lw3I/AAAAAAAAAB4/ceOkMkv4-Xc/s400/cao+dai.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-4716680139236760602?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/4716680139236760602/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/saigon-2-chu-chi-tunnel-dan-cao-dai.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/4716680139236760602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/4716680139236760602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/saigon-2-chu-chi-tunnel-dan-cao-dai.html' title='Saigon #2: Ke Lorong Religi dan Perjuangan'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEXA2a1FN5I/AAAAAAAAACA/icWhMQdV56U/s72-c/chu+chi+tunnel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-8739052872370478076</id><published>2010-07-20T22:14:00.004+07:00</published><updated>2010-12-31T12:53:49.383+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culinary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vietnam'/><title type='text'>Saigon #1: Ditabrak Motor dan Khô Mực</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW_nwN4EoI/AAAAAAAAABw/zt_NyX3O2yI/s1600/kho+muc.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 266px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496009609954464386" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW_nwN4EoI/AAAAAAAAABw/zt_NyX3O2yI/s400/kho+muc.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saigon itu seperti Jogja, jalannya sama banyak motor, rumah-rumahnya juga hampir sama,” kata seorang teman ketika saya berencana akan ke Ho Chi Minh City (HCMC), Vietnam Selatan. Percakapan itu sudah setahun yang lalu, dan bari Mei 2010 kemarin saya sempatkan sejenak untuk mempir di negaranya Uncle Ho ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saigon adalah kota yang ramai, bahkan sangat ramai, dengan pengendara sepeda motor yang setengah jumlah penduduknya sendiri, yaitu 5 juta orang menggunakan sepeda motor di HCMC saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taksi meluncur dari bandara malam hari itu ke homestay yang sudah saya pesan di District 1, Bui Vien Street, Pham Ngu Lao, HCMC. Dari balik jendela taksi memang sudah nampak betapa padatnya sepeda motor yang ada di kota ini, seperti yang dikatakan orang-orang yang pernah bertandang ke sini. Dan bruk! Sebuah sepeda motor pun menabrak taksi kami. Kesan pertama yang begitu mendebarkan atas jalanan kota HCMC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya punya waktu 4 hari di HCMC, semua perjalanan sudah saya siapkan sebelum sampai ke kota ini. Bahwa di hari pertama kedatangan saya yang sudah malam, saya dan seorang teman, Yusi, langsung ingin merasakan kota ini begitu selesai menaruh barang-barang di homestay yang satu malamnya 9 USD itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kawasan District 1 yang saya lihat bukan seperti Jogja. Malah lebih mirip kawasan turis di Bangkok seperti Pratunam atau Kaosan Road. Kabel-kabel listrik yang tidak beraturan di atasnya sangat tidak sama dengan Jogja. Dan tempat ini kawasan 24 jam, ada pedagang lotre, makanan, homestay, dan penawaran jasa tour. Memang kawasan turis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun langsung menyusuri jalan Bui Vien tersebut dan melihat pemandangan turis di malam hari. Yusi menunjuk salah seorang pedagang yang lewat. Saya memang penasaran sedari tadi seorang pedagang asinan cumi dengan cumi dan gurita yang ditata rapi di rak di boncengan sepedanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini namanya khô mực,” kata teman Vietnam saya, Titien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana rasanya? Asin tentu saja, karena itu memang cumi diasinkan. Dan yang pasti alot, karena cumi asin itu kemudian dimasak dengan cara dibakar. Itulah makanan pertama yang saya makan di HCMC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;catatan:&lt;br /&gt;1. Biaya perjalanan saya ke Vietnam lebih kurang 500rb dari Jakarta langsung menuju HCMC (PP). Maklum, saat ini banyak penerbangan murah jadi kenapa tidak saya ambil kesempatan itu?&lt;br /&gt;2. Untuk bepergian di HCHM, kalau dekat saya pilih jalan kaki biar irit, kalau jauh sedikit pilih naik taksi karena tetap murah, biasanya hanya 10000-15000 VND, sama dengan naik becak Vietnam yang super kecil. Tapi hati-hati pilih taksi, karena banyak yang argonya nggak bener juga. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-8739052872370478076?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/8739052872370478076/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/saigon-1-ditabrak-motor-dan-kho-muc.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/8739052872370478076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/8739052872370478076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/saigon-1-ditabrak-motor-dan-kho-muc.html' title='Saigon #1: Ditabrak Motor dan Khô Mực'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW_nwN4EoI/AAAAAAAAABw/zt_NyX3O2yI/s72-c/kho+muc.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-6284397740633772581</id><published>2010-07-20T22:08:00.004+07:00</published><updated>2010-12-31T12:54:15.468+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belitung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Simeulue'/><title type='text'>jejak masa kecil #2: Bahasa</title><content type='html'>Kamu orang mana? Kok logat Jawa kamu aneh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kata banyak teman saya. Jawa saya tidak medok, padahal saya lahir di Jogja. Saya tidak bisa berbahasa Jawa krama, karena saya tidak diajari di sekolah tentang bahasa Jawa. Jelas saya tidak diajari bahasa Jawa, karena saya dulu tidak sekolah di Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur tiga tahun, ayah saya membawa saya ke Belitung. Saat itu saya masih menggunakan bahasa Jawa. Namun setelah bergaul dengan teman-teman di TK dan di SD, maka bahasa saya pun berubah menjadi bahasa Melayu dengan logat Belitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ‘kula’ jadi ‘kamek’ yang berarti ‘saya’. Kata ‘kowe’ jadi ‘mikak’ yang berarti ‘kamu’. Dan banyak kata lain yang berubah, diusia saya yang begitu belia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas empat SD, setelah saya faseh berbahasa Melayu, saya pun pindah ke sebuah pulau di barat Aceh, yaitu pulau Simeulue. Meskipun Simeulue adalah salah satu kabupaten Nanggroe Aceh Darussalam, tetapi penduduk pulau ini tidak menggunakan bahasa Aceh menjadi bahasa sehari-harinya. Mereka punya bahasa sendiri, mirip bahasa Sumatera Barat, tetapi namanya bahasa Jamu atau Jamek. Mungkin lebih lengkapnya bisa dilihat &lt;a href="http://bahasaaceh.wordpress.com/"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Maka, logat Melayu-Belitung saya berubah menjadi bahasa Jamek, khususnya Sinabang, karena di Simeulue pun punya beberapa bahasa yang berbeda. Dan pelajaran bahasa daerah yang diajarkan adalah bahasa Aceh yang sangat jauh berbeda dengan bahasa Jamek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ‘kamek’ jadi ‘ambo’ yang berarti saya. Kata ‘mikak’ jadi ‘waang (pria)/kau (wanita)’ yang berarti ‘kamu’. Dan kata-kata lain pun berubah drastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga saya adalah anak kecil dengan multibahasa daerah; Jawa, Melayu dan Jamek. Bahasa Jamek juga bisa dipakai di Sumatera Barat meski agak berbeda tetapi banyak kata-kata yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga, bahasa Jawa saya agak kacau ketika saya beberapa Minggu di Timika. Meski tidak terlalu mendalam karena setelah itu saya kembali ke bahasa Jawa dan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau ada yang mengatakan logat Jawa saya aneh, maklum saja, saya adalah anak Jawa yang besar di Sumatera dengan berbagai bahasa. Dan bahasa saya gampang terpengaruh dengan bahasa lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah belajar bahasa Inggris, dan lulus dari fakultas Sastra Inggris, herannya, saya tidak juga lancar berbahasa Inggris. Tetapi ketika saya empat hari di Singapura, bahasa Inggris saya lancar, dan sedikit Sing-Lish.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan memang sangat mempengaruhi perkembangan kebahasaan seseorang juga logatnya. Bagaimana dengan Cinta Laura yang menggunakan bahasa Indonesia dengan logat bule? Mungkin dia keseringan berbahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia, ya jangan salahkan, sampai saat ini saya belum pernah dengar bule berbahasa Indonesia dengan logat Indonesia, pasti kebule-buleannya terbawa. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-6284397740633772581?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/6284397740633772581/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/jejak-masa-kecil-2-bahasa.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/6284397740633772581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/6284397740633772581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/jejak-masa-kecil-2-bahasa.html' title='jejak masa kecil #2: Bahasa'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-2084101544362902393</id><published>2010-07-20T22:06:00.004+07:00</published><updated>2010-12-31T12:54:30.675+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belitung'/><title type='text'>jejak masa kecil #1: Belitung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW_ZEHDvGI/AAAAAAAAABo/rtFGoLRubqc/s1600/belitung1.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; FLOAT: left; HEIGHT: 299px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496009357596540002" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW_ZEHDvGI/AAAAAAAAABo/rtFGoLRubqc/s400/belitung1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lima belas tahun yang lalu, saya meninggalkan pulau yang sekarang katanya jadi negeri Laskar Pelangi. Setelah enam tahun tinggal di sana, masa kecil saya dihabiskan di Pulau Belitung. Tepatnya di Tanjung Pandan, ketika bapak saya pertama kali ditugaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira 1989 hingga 1995 saya berada di Tanjung Pandan dan setelah lima belas tahun saya kembali ke sini untuk mengingatkan saya bahwa Belitung pernah membesarkan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali mengingat-ingat tempat-tempat yang pernah saya lalui di kota ini. Susah sekali mengingat kota ini secara untuh karena banyak sekali bangunan baru dan juga jalan baru. Jalan-jalan sudah mulai diperlebar, mobil-mobil sudah banyak yang melintas, padahal dulu cuma satu-satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Rumah saya terletak di Jalan Baru, dan sama sekali tidak berubah sehingga saya pun langsung bisa mengingatnya. TK saya agak jauh dari rumah saya sehingga hanya ingat bentuknya saja. Sedang jalan menuju SD, tempat saya dulu sering memanjat pohon seri atau talok, pasar tempat saya membeli baju Superman, saya jelas mengingatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan kota ini sangat pesat, mungkin ini juga salah satu efek dari Laskar Pelangi. Saya berterima kasih pada mereka karena bisa menaikkan pariwisata pulau ini. Secara tidak langsung Laskar Pelangi telah mempromosikan potensi yang ada di Belitung. Yah, samalah dengan Phi Phi Island di Thailand karena pernah dipakai DiCaprio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan-pembangunan tanpa henti. Dua bulan lalu bapak ke Belitung dan melihat di depan rumahnya ada tanah kosong. Ketika saya ke sini dan ke rumah bapak, di depannya sudah ada rumah hampir selesai dibangun. Begitu juga dengan tanah-tanah kosong lainnya, rumah-rumah hampir selesai dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sepuluh tahun lagi, sudah sulit menemukan padang ilalang di Belitung. Tidak ada yang salah sih dengan pembangunan, tetapi pasti akan rindu dengan alamnya yang masih banyak hutan dan pohon ilalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya saya punya banyak uang, saya mau beli pulau ini dan membiarkan pulau ini seperti apa adanya. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-2084101544362902393?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/2084101544362902393/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/jejak-masa-kecil-1-belitung.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/2084101544362902393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/2084101544362902393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/jejak-masa-kecil-1-belitung.html' title='jejak masa kecil #1: Belitung'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW_ZEHDvGI/AAAAAAAAABo/rtFGoLRubqc/s72-c/belitung1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-6229309563344824531</id><published>2010-07-20T22:01:00.003+07:00</published><updated>2011-01-29T23:02:24.990+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Macau'/><title type='text'>macau: kota yang baik untuk berjudi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW636XxPCI/AAAAAAAAABg/-DFHjK-toQU/s1600/judi+macau.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 300px; DISPLAY: block; HEIGHT: 240px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496004390000081954" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW636XxPCI/AAAAAAAAABg/-DFHjK-toQU/s400/judi+macau.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;suasana salah satu kasino di Macau&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Macau di musim dingin tampak sepi (Dec 2009). Mungkin karena banyak warganya yang bersiap untuk menyambut Natal dan tahun baru. Juga ulang tahun kota Macau. Meski di jalanan tampak sepi, namun salah satu tempat yang selalu ramai 24 jam adalah kasino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macau juga dikenal sebagai Las Vegas-nya Asia. Saudagar-saudagar dari Cina hingga seluruh dunia datang ke Macau hanya untuk berjudi! Mulai dari pertama kali datang, hingga akan pulang, saya pun selalu menyempatkan jalan-jalan di casino. Maklum, tidak ada seperti ini di Indonesia, &lt;i&gt;wong&lt;/i&gt; judi kartu saja sudah dilarang, pasti digrebek. Tapi itu tidak berlaku di Macau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berada di Grand Lisboa pada malam terakhir saya di Macau. Melihat gedungnya saja sudah berdecak kagum. Lampu warna-warni yang menarik perhatian. Lalu, bagaimana isinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu mesin judi, sekumpulan ibu-ibu sedang mencoba peruntungan. Dengan bahasa Cina (yang tentunya tidak saya mengerti), mereka menanti gambar yang paling banyak mengeluarkan poin. Saya ragu ingin mencobanya, malah nanti saya ketagihan dan tidak pulang-pulang. Kemudian salah seorang ibu-ibu itu berteriak, ternyata dia telah memenangkan 500 MOP$ dari mesin judi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di meja yang lain, sekumpulan anak muda sedang bermain baccarat. Mereka dengan serius memperhatikan tangan pemandu yang membagi-bagikan koin judi. Tidak ada suasana seram seperti di film-film Hollywood di kasino ini. Malahan, judi sebagai melepas penat atau hanya untuk sekedar hang out. Hanya beberapa meja kosong karena tidak ada pemandu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sudah hampir larut, permainan ternyata baru dimulai dengan ditandai musik yang membuat pengunjung menganggukkan kepala. Kemudian tiga perempuan dengan baju seksi keluar dari balik kain yang menutupi panggung. Mereka membentuk sebuah gerakan akrobatik yang membuat saya terpana. Kemudian muncul lagi penari lain dengan gaya dan gerak yang lain pula. Mata kemudian tertuju ke arah panggung. Uniknya, mereka semua bukan orang Cina. Wajah mereka asli Eropa, dengan rambut pirang yang bukan dibuat-buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan baru dimulai. Dan pesta kecil perpisahan saya dengan Macau pun bertempat di Grand Lisboa ini. Sayangnya, malam itu saya sangat mengantuk setelah perjalanan naik kapal dari Hongkong. Kalau tidak, saya juga mau mencoba peruntungan berjudi di sini. Siapa tahu, uangnya bisa buat saya kembali ke sini di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;winter&lt;/span&gt; tahun depan :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ps. Di Macau sendiri ada 28 kasino dengan The Venetian Macau yang terbesar untuk saat ini. Sederetan nama-nama kasino ini adalah yang paling sering dikunjungi seperti, Sands Macau, Casino Lisboa, Crown Macau, MGM Grand Macau. Banyak sekali permainan yang bisa ditemui di sini, di antaranya adalah blackjack, baccarat, roulette, boule, Sic bo, Fan-Tan, mesin judi dan lain sebagainya. Permainan yang paling banyak digemari adalah baccarat. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-6229309563344824531?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/6229309563344824531/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/macau-kota-yang-baik-untuk-berjudi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/6229309563344824531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/6229309563344824531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/macau-kota-yang-baik-untuk-berjudi.html' title='macau: kota yang baik untuk berjudi'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW636XxPCI/AAAAAAAAABg/-DFHjK-toQU/s72-c/judi+macau.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-8027557620009181535</id><published>2010-07-20T22:00:00.004+07:00</published><updated>2010-12-31T12:55:11.821+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jogja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture'/><title type='text'>the sacrifice(r)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW6MocsFBI/AAAAAAAAABY/d2BXXhPcE8w/s1600/kerbau.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 199px; FLOAT: left; HEIGHT: 298px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496003646454502418" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW6MocsFBI/AAAAAAAAABY/d2BXXhPcE8w/s400/kerbau.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ratu Boko nampak seksi dengan mendung yang bergelayut di atasnya. Saya pertama kalinya menginjakkan kaki di keraton yang menjadi benteng pertahanan Rakai Walaing saat melawan Rakai Pikatan, sang pendiri Candi Prambanan. Saya tidak akan berkisah tentang masa lalu keraton ini, karena memang bukan porsi saya untuk menjelaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ke Ratu Boko untuk melihat pengorbanan seekor kerbau albino atau kerbau bule, orang Jawa biasa menyebut. Tepat saat saya datang, ia sedang didoakan akan disembelih. Kerbau ini dikorbankan dalam prosesi meruwat negara yang ruwet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut si empunya acara ritual ini, Dewi Untari, ia harus menyembelih kerbau bule di Ratu Boko. Sudah 50 tahun Dewi menjalankan ruwatan dalam upacara Kejawen ini. Bayangkan saja berarti ia memulainya sejak kepemimpinan Soeharto, ketika negara mulai ruwet, dan hingga sekarang ini. Entah berapa banyak kerbau yang sudah dikorbankannya demi membuat bangsa menjadi lebih baik. Namun, meski sudah diruwat dan didoakan, belum juga ada perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selama lima puluh tahun itu, dalam 100 hari ia akan berziarah ke makam-makam pahlawan, seperti RA Kartini, Pangeran Diponegoro dan lain sebagainya. Dan setiap 40 hari ia mengadakan upacara ruwatan pula di Pantai Parangtritis, Jogja. Begitu seterusnya dan dia tidak akan berhenti jika negara ini belum juga pulih dari sakitnya yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat perempuan yang berusia 70 tahun namun masih tetap awet muda ini tentulah mulia. Ia hanya ingin melihat bangsanya tidak ditimpa masalah bertubi-tubi. Namun, jika dilihat sekarang ini, tidak ada perubahan yang berarti dengan kondisi bangsa, malahan tambah ruwet. Sepertinya aji-aji negara lebih ampuh ketimbang dirinya (dan mungkin banyak orang yang berniat meruwat negara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, saya bosan dengan berita semacam ini dan tidak ingin membahasnya lebih lanjut. Sudah ada kok di berita setiap hari. Namun, inilah kita, inilah bangsa kita. Mungkin, beribu kerbau bule yang dikorbankan pun tidak cukup untuk membawa berkah untuk negara ini. Mungkin banyak hewan lain yang perlu dikorbankan. Atau sekali-sekali, mbok yang dikorbankan yang bikin masalah itu loh. Baru mantap! Masa hewan terus… &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-8027557620009181535?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/8027557620009181535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/sacrificer.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/8027557620009181535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/8027557620009181535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/sacrificer.html' title='the sacrifice(r)'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW6MocsFBI/AAAAAAAAABY/d2BXXhPcE8w/s72-c/kerbau.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-5969430822859161408</id><published>2010-07-20T21:57:00.004+07:00</published><updated>2010-12-31T12:55:32.723+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='human'/><title type='text'>suriname: bangga ber-campur sari</title><content type='html'>Pernahkah Anda dengan bangga menonton video klip campur sari? Bahkan pernahkah Anda dengan bangga menyanyikan lagu campur sari? Atau paling tidak kenal dengan Didi Kempot dan kawan-kawannya? Atau paling tidak tahu lagu Stasiun Balapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang Jawa, siapa yang tidak tahu campur sari. Saya sendiri pernah berkaraoke ria di sebuah restoran Cina dengan menyanyikan lagu Didi Kempot, Stasiun Balapan, dan sangat bangga menyanyikannya. Campur sari! Lagu daerah saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan mau berkisah tentang Didi Kempot dan campur sarinya. Bulan April ini, di Jogja ada sebuah acara pameran foto Suriname. Diadakan oleh Karta Pustaka dan salah seorang mahasiswa S2 yang sedang penelitian tentang Suriname. Javasranang: Orang Jawa Suriname dalam Refleksi Kultural Kontemporer, begitulah judulnya. Yang mengejutkan bagi saya, kemajuan orang Suriname dalam bermusik adalah campur sari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bangga, orang-orang Suriname ini, bahkan yang bukan keturunan Jawa sekalipun, menjadi artis campur sari. Bernyanyi dalam bahasa Jawa, campur bahasa Belanda, campur pula bahasa Inggris. Video klip mereka tak jauh dari video klip campur sari yang ada di sini, dibuat seadanya, dengan gerakan itu-itu juga. Tetapi mereka dengan tulus bernyanyi campur sari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari seorang narasumber asal Suriname yang keturunan Magelang, saya diberitahu bahwa Didi Kempot sungguh terkenal di Suriname. Bahkan, Didi Kempot-lah yang memberikan pengaruh campur sari yang kuat pada musik-musik mereka. Sehingga mereka bisa bereksplorasi dengan campur sari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah ya, saya jadi miris melihat anak-anak muda Indonesia yang berlomba-lomba membuat band yang ngerowck!, atau yang alay eh melayu, atau yang sendu. Bosan juga melihat penampilan yang itu-itu juga, dengan gaya yang sama-sama juga. Tapi bukan berarti mereka harus banting stir ke arah campur sari. Masih banyak alternatif musik lain selain musik-musik masa kini itu. Sangat jarang anak muda kita yang merintis lagu-lagu daerah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah ya, saya masih takjub melihat orang keturunan Afrika atau India nyanyi campur sari dengan video klip yang khas campur sari. Dan sama sekali tidak takjub dengan anak muda jaman sekarang. Mau apa lagi kalau memang begitulah tuntutan pasarnya, kadang kejam juga dan tidak bisa pula disalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah ya, saya jadi ingin berkaraoke ria lagi, menyanyikan lagu campur sari dengan bangga. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-5969430822859161408?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/5969430822859161408/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/suriname-bangga-ber-campur-sari.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/5969430822859161408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/5969430822859161408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/suriname-bangga-ber-campur-sari.html' title='suriname: bangga ber-campur sari'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-7043839834703220857</id><published>2010-07-20T21:57:00.003+07:00</published><updated>2010-12-31T12:43:18.815+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jogja'/><title type='text'>perayaan perempuan yang ke-seratus</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW5yrJc4oI/AAAAAAAAABQ/fp8QKwS661g/s1600/img_8233_s-copy.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 300px; DISPLAY: block; HEIGHT: 230px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496003200502522498" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW5yrJc4oI/AAAAAAAAABQ/fp8QKwS661g/s400/img_8233_s-copy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seratus tahun perayaan perempuan internasional tepat pada tanggal 8 Maret 2010 ini. Saya ucapkan selamat pada perempuan-perempuan di dunia, congratulations! Hari ini ada untuk kalian semua (perempuan), bukan untuk para pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jogjakarta, hari perempuan internasional ini dirayakan dengan berbagai macam cara. Di sebuah tempat, para seniman, pemusik, penyair, penulis, dan lain sebagainya menggelar sebuah acara pembacaan puisi. Namun di tempat lain, perempuan-perempuan turun ke jalan untuk menggelar aksi, bahwa tuntutan mereka tentang kesetaraan selama 100 tahun terakhir belum dipenuhi. Bahwa banyak peraturan yang merugikan mereka, dsb, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terlahir sebagai perempuan. Bahkan perempuan jaman sekarang, yang bisa selalu menggunakan celana seperti laki-laki. Mendengar kisah-kisah perempuan masa lalu, misalnya saja R.A Kartini, perempuan terkungkung oleh budaya yang patriarki, budaya yang terlalu meninggikan kaum laki-laki. Lalu apakah perempuan tidak tinggi? Tentu saja saya tidak setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Derajat perempuan tetap setara dengan laki-laki, dan tentu saja pembagian kerja yang perempuan ‘dirumahkan’ itu dianggap bahwa perempuan mampu melakukan pekerjaan rumah. Itu tidak mudah dan itu membutuhkan tenaga ekstra! Tetapi sekarang perempuan menuntut lebih, mereka juga ingin bekerja di publik, tetapi bagaimana pekerjaan mereka di rumah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang saya alami sekarang ini. Mungkin saya terlalu sombong untuk melakukan pekerjaan rumah, seperti mengepel, menyapu, cuci piring, mencuci dan lain sebagainya. Justru sebaliknya, saya berusaha mati-matian untuk mencari pekerjaan di publik. Lalu, apakah itu memuaskan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saya rindu berada di rumah, mengurus kamar saya yang berantakan. Karena saya sudah tidak punya waktu lagi berada di rumah karena harus turun ke jalan, harus bekerja di publik. Banyak pekerjaan rumah saya yang terbengkalai dan rumah saya jadi acak-acakan (hal ini tidak akan terjadi bagi perempuan sukses dan punya banyak pembantu rumah tangga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah perempuan sekarang terlalu sombong juga ya untuk bekerja di rumah, sehingga mereka menuntut pekerjaan di luar rumah? (termasuk juga saya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri masih bingung tentang poin yang akan saya utarakan dalam tulisan saya ini. Terlalu banyak pemintaan, tapi tidak pernah konsekuen (itu juga terjadi dalam diri saya). Misalnya saya masih suka marah-marah ketika saya disuruh memindahkan meja, dan sebaliknya, saya sangat senang jika saya tidak disuruh mengangkat yang berat-berat. Saya kan perempuan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, selamat seratus tahun hari perempuan internasional. Berteriaklah selagi bisa, tetapi saya pilih melakukan pekerjaan yang saya senangi dan berjuang dengan cara sendiri. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-7043839834703220857?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/7043839834703220857/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/perayaan-perempuan-yang-ke-seratus.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/7043839834703220857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/7043839834703220857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/perayaan-perempuan-yang-ke-seratus.html' title='perayaan perempuan yang ke-seratus'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW5yrJc4oI/AAAAAAAAABQ/fp8QKwS661g/s72-c/img_8233_s-copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-1534092806665946076</id><published>2010-07-20T21:55:00.005+07:00</published><updated>2011-01-01T18:18:32.309+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Timur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='human'/><title type='text'>sartono, si pahlawan tanpa tanda jasa</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW5Dk-_kmI/AAAAAAAAABI/yLU6Ksts6Ak/s1600/senyum-pak-tono.jpg"&gt;&lt;img style="text-align: center; margin: 0px auto 10px; width: 300px; display: block; height: 200px;" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496002391394194018" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW5Dk-_kmI/AAAAAAAAABI/yLU6Ksts6Ak/s400/senyum-pak-tono.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mendadak, Mas Yus menelepon saya dan mengajak saya untuk bertemu dengan pencipta lagu hymne guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Saya sendiri belum memiliki bayangan sebelumnya, bahkan namanya saja saya tidak tahu. Sudah tiga puluh tahun ini lagunya diperdengarkan di sekolah-sekolah, dan dinyanyikan pada saat upacara. Tetapi, tahu tidak siapa yang menciptakan lagu hymne guru tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialah Sartono. Sartono namanya, tinggal di Madiun. Saya mengiyakan saja ketika diajak Mas Yus untuk bertemu dengan beliau, langsung paginya meluncur ke Madiun dari Jogja. Membayangkan apa saja yang mau saya tanyakan pada beliau. Lalu, apa kabar pak Sartono?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Pak Tono, sapaannya, berada di jantung kota Madiun, Jl. Halmahera tepatnya. Ketika sampai di rumahnya, Pak Tono sudah menyambut kami dengan ramah. Berusia 74 tahun, fisik Pak Tono bisa dibilang masih fit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan beberapa kawan reporter lain, langsung saja menyusun kata-kata untuk bertanya tentang proses penciptaan lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang ia ciptakan tahun 1980 itu. Lagu tersebut diciptakannya untuk mengikuti lomba yang diadakan Departemen Pendidikan Nasional, kala itu menterinya Daud Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pak Tono, bisa diajak berkomunikasi. Dia bisa mendengar dengan baik, bahkan dia bercerita dengan antusias dan penuh semangat. Tak lupa tertawanya yang membuat kami semua merasa diterima. Tetapi sejak tahun 2005, Pak Tono menderita Alzheimer atau pikun. Sehingga ketika ditanya inspirasi lagu hymne guru tersebut, ia pasti menjawabnya dengan hal lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan pun harus diulang lagi. Namun, ia menjawab dengan hal lain lagi. Begitu seterusnya, sampai kami harus bertanya pada adik istri Pak Tono, Bu Tiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal-hal yang dilupakan Pak Tono, apalagi tentang lagu-lagu yang pernah diciptakannya. Pak Tono dulunya adalah seorang guru musik di SMP Bernadus Surabaya, sehingga menciptakan lagu baginya cukup mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Bu Tiwi, diketahui bahwa lagu hymne guru terinspirasi dari teman istri Pak Tono yang seorang guru SD. Nasib guru pada saat itu memang tidak diperhatikan pemerintah, maka teman istri Pak Tono itu harus ngamen untuk tambah biaya keluarganya, ditambah lagi dengan istrinya yang stress berat karena masalah ekonomi. Dari situlah inspirasi lagu hymne guru tercipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang dulu guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Meskipun telah mencerdaskan banyak anak-anak, namun kehidupannya sangat menderita. Bagaimana Pak Tono sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Tono bahkan tidak pernah diangkat jadi PNS. Entah siapa yang salah di sini. Selama masa pensiunnya ini, kehidupannya ditopang oleh istrinya yang seorang guru SD. Tetapi pada beberapa waktu lagi, istrinya juga akan purna tugas. Hanya tinggal menikmati masa pensiun berdua dari uang pensiun, berdua saja, karena Pak Tono tidak memiliki keturunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak yang bisa saya korek dari Pak Tono, karena keadaannya tersebut. Jadi teringat seorang teman yang minta di-euthanasia jika ia menderita Alzheimer. Hanya ingat saja, tidak ada hubungannya dengan Pak Tono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubungan dengan keadaannya ini. Pada tahun 2007 lalu, rupanya pemerintah sudah melihat bahwa kalimat ‘pahlawan bangsa tanpa tanda jasa’ sudah tidak relevan lagi, karena saat ini nasib guru mulai diperhatikan dan makin banyak guru yang kreatif. Jadi pemerintah pun menggantinya dengan kalimat ‘pahlawan bangsa pembangun insan cendekia’. Karena Pak Tono pun sudah lupa dengan liriknya dan tanpa banyak komplain, maka ia dengan senang hati menandatangi persetujuan penggantian lirik.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ps. Saya jadi mengerti kenapa teman saya ingin euthanasia saja daripada menderita Alzheimer. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-1534092806665946076?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/1534092806665946076/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/sartono-si-pahlawan-tanpa-tanda-jasa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/1534092806665946076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/1534092806665946076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/sartono-si-pahlawan-tanpa-tanda-jasa.html' title='sartono, si pahlawan tanpa tanda jasa'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW5Dk-_kmI/AAAAAAAAABI/yLU6Ksts6Ak/s72-c/senyum-pak-tono.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-5353699649397878137</id><published>2010-07-20T21:50:00.001+07:00</published><updated>2010-12-31T12:56:00.592+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='human'/><title type='text'>Trio ALT: Terjebak UU Pornografi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW4cwYD2tI/AAAAAAAAABA/6KlunuWkBnE/s1600/trio+alt.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 203px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496001724437224146" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW4cwYD2tI/AAAAAAAAABA/6KlunuWkBnE/s400/trio+alt.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus video porno mirip trio ALT (Ariel-Luna-Tari), mau tidak mau membuat saya berkomentar juga. Gembar-gembor kasus ini di media benar-benar hebat. Apalagi jumlah media yang ada saat ini bertambah, makin serulah kasus trio ALT itu. Bahkan kita sampai lupa bahwa di Papua ada gempa dan mereka sangat membutuhkan uluran tangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, jika ditilik ke belakang dan jika kita membuka mata, video porno yang diproduksi oleh orang Indonesia itu banyak sekali (akhirnya saya membuka situs porno). ingin berkomentar juga. Beberapa minggu ini di bulan Juni, kasus ini begitu digembar-Apesnya, trio ALT ini adalah publik figur yang notabene harus memberi contoh yang baik bagi masyarakat. Bah! Mereka juga manusia dan masyarakat sudah bisa baik meski tanpa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apesnya lagi, video ini tersebar di kala UU Pornografi sudah disahkan. Saya baru mengerti kenapa banyak orang menolak UU Pornografi. Pertama, dunia esek-esek adalah hal paling mendasar manusia (katanya), tanya deh sama orang yang sudah nikah, tahan nggak jika tidak esek-esek? Itu artinya UU Pornografi telah melanggar hak asasi manusia untuk melakukan esek-esek. UU Pornografi pun mencoba untuk mengatur dengan siapa kita mau esek-esek. Nanti PSK nggak laku, bang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kedua, UU Pornografi mau mengatur moralitas kita untuk masalah esek-esek. Memangnya ngaruh? Kayaknya sampai sekarang masih banyak yang pada selingkuh, tanya aja tuh sama bapak-bapak DPR. Banyak yang ngomong di depan doang, tapi nggak ngaca. Tidak ada bedanya dengan sebelum dan sesudah UU Pornografi disahkan. Daripada bikin UU Pornografi, mending sekalian bikin negara Islam biar hukumannya lebih mantap! (Tapi Indonesia multi-agama, bung! Bisa pelanggaran HAM berlipat ganda kalau jadi negara Islam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, UU Pornografi tampaknya ingin mempermalukan orang di depan umum. Lihat saja Trio ALT yang dihujat habis-habisan, sampai rumah orang tua mereka didatangi orang. Munafik. Begitulah yang saya pikirkan tentang orang yang menghujat itu. Berdasarkan pengalaman saya ketika masih jadi penjaga warnet, teman saya sempat memergoki insan Islami dengan jilbab bercadar dan celana semata kaki, sedang esek-esek di bilik warnet! Saya sendiri pernah mendapati laki-laki sedang masturbasi, setelah itu dia tanya di mana mushola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, UU Pornografi membuat para pelaku esek-esek ilegal semakin mawas diri. Pada pasal-pasalnya banyak yang mengingatkan jika sedang esek-esek sebaiknya jangan direkam, kemajuan teknologi gitu loh! Handphone saja sekarang ada televisinya. Jadi kalau mau esek-esek ya esek-esek saja, memangnya enak gitu esek-esek sambil rekaman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tidak membenarkan perbuatan Trio ALT, tapi saya juga tidak bisa menyalahkan mereka. Memangnya saya Tuhan? Tetapi sepertinya orang Indonesia senang sekali berlagak sebagai Tuhan, dengan menjudge salah dan benar. Oh kasihan sekali Trio ALT ini tinggal di Indonesia, Paris Hilton yang kedapatan video pornonya saja malah naik pamor tuh di Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang apes nasib Trio ALT. Dari saksi jadi tersangka, gara-gara masalah birahi pula. Sekarang si Luna malah cafenya nggak laku. Kok pada anti? Padahal menunya enak loh, sama sekali nggak ada unsur esek-eseknya. Kok dipandang sebelah mata sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang repot ketika masalah asusila dan perselingkuhan ini menjadi masalah negara. Kayak nggak ada masalah yang lebih penting saja. Bahkan presiden kita pun ikut angkat bicara. Duh! Itu kan masalah esek-esek rumah tangga orang, Pak? Ngapain ikut-ikutan sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik pemerintah mengkaji ulang UU Pornografi, atau sebaiknya dihapuskan saja. Karena kasus yang diangkat ke publik adalah masalah yang mendasar manusia dan menurut saya itu tidak penting. Apalagi konsumen publik bukan hanya manusia dewasa, tetapi juga anak-anak. Kalau tidak dibatasi pemberitaan di media, bisa jadi anak-anak malah penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pemerintah perlu mengatur UU Penggunaan Internet. Karena dari sinilah video-video itu disebarluaskan (bukannya sudah diblok ya situs-situs porno? kok nggak ngaruh ya?). Apalagi internet tidak terbatas, penggunanya juga tidak terbatas. Tetapi jangan hanya datang, rapat, dan terima uang saja. Jangan cuma asal buat juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar ya Mbak Luna, Mas Ariel dan Mbak Tari. Memang susah hidup di Indonesia, ya memang begini ini negara kita. Banyak orang-orang munafik sehingga tidak sadar bahwa moral mereka pun tidak lebih baik dari kalian. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-5353699649397878137?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/5353699649397878137/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/trio-alt-terjebak-uu-pornografi.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/5353699649397878137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/5353699649397878137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/trio-alt-terjebak-uu-pornografi.html' title='Trio ALT: Terjebak UU Pornografi'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW4cwYD2tI/AAAAAAAAABA/6KlunuWkBnE/s72-c/trio+alt.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-2779191724222248136</id><published>2010-07-20T21:49:00.001+07:00</published><updated>2010-12-31T12:57:57.627+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='human'/><title type='text'>saya dan sebuah band #2</title><content type='html'>Melanjutkan tulisan saya sebelumnya, yaitu baru-baru ini saya menginterview sebuah band Indonesia yang sedang naik daun. Band ini datang ke Jogja dalam rangka promosi album ke dua mereka (album pertamanya saja saya nggak tahu!). Begini hasil wawancara itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fian (F): Kenapa nama band kalian adalah band #%^%?&lt;br /&gt;Band S (BS): Ya, biar kami membawa kesejukan jika ada yang mendengar lagu kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F: Loh bukannya malah bikin beku ya, mas?&lt;br /&gt;BS: Ha ha ha (ketawa, tanpa memberi jawaban)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F: Apa aliran musik kalian?&lt;br /&gt;BS: Kami berempat sepakat untuk mengangkat pop melayu sebagai musik kami, yang sangat kami. Kalau untuk penilaian ya tergantung penggemar kami saja. Kebetulan kami punya musik yang easy listening, ringan, mudah dicerna, melankolik, sehingga optimis bahwa album ini bisa diterima, seperti album sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F: Bagaimana dengan liriknya? Kenapa masih mengangkat soal cinta? Apa yang menarik?&lt;br /&gt;BS: Karena cinta itu universal, tema cinta itu tidak akan habis untuk dibahas. Lagi pula itu hadir dalam keseharian kita. Lirik-lirik lagu kami berkisar tentang cinta, sakit hari, rindu. Pengen juga sih bikin tema sahabat atau sosial.&lt;br /&gt;F: (Halo, tema sosial atau sahabat itu juga udah sering dipakai kali! Masa baru mau bikin di album setelah ini? Wah!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;F: Mengomentari aliran musik yang monoton saat ini, apa yang membuat band kalian beda?&lt;br /&gt;BS: Ya, nggak ada bedanya sih, he he he. Yang pasti kami hanya ingin meramaikan industri musik Indonesia saja.&lt;br /&gt;F: (Thanks God, they were honest!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F: Bagaimana dengan orisinalitas lagu kalian? Karena kan banyak yang bertema dan musik sama…&lt;br /&gt;BS: Kebetulan Si H itu jujur dalam menciptakan lagu, tidak pernah terpengaruh dengan musik manapun. Kayaknya ngalir aja gitu kalau bikin lagu, dan yang pasti sangat band kami.&lt;br /&gt;F: Kan banyak tuh kasus band ini niru musik mana..&lt;br /&gt;BS: Bukannya niru sih menurut kami, tetapi pengen bisa ngebuat yang seperti itu, sehingga memasukkan unsur-unsur musik yang mempengaruhinya. Untungnya yang nyiptain lagu jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F: Kalau misal tiba-tiba selera musik masyarakat Indonesia berubah, misalnya jadi disko, apa yang kalian lakukan?&lt;br /&gt;BS 1: Ya kami tetap membuat musik yang kami banget. Kami nggak mau maksain juga.&lt;br /&gt;BS 2: Ya mungkin musiknya ditambah disko juga.&lt;br /&gt;F: (Wah!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F: Menurut kalian apa arti kreatifitas?&lt;br /&gt;BS 1: Wah pertanyaan ini saya sulit menjawab.&lt;br /&gt;BS 2: Orang yang menciptakan sesuatu yang baru. Mengerjakannya dengan ketulusan hati, karya orisinal.&lt;br /&gt;BS 3: He he he…&lt;br /&gt;BS 4: Yang pasti bisa membuat orang-orang senang.&lt;br /&gt;F: (Oh…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F: Menurut kalian, karya yang berhasil patokannya apa?&lt;br /&gt;BS: Karya kami banyak yang suka, kalau manggung banyak yang nonton dan banyak yang tahu lagu kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F: (Pertanyaan template saya) Apa harapan kalian tentang album kalian yang baru ini?&lt;br /&gt;BS 1: Ya mudah-mudahan lebih bisa diterima oleh masyarakat dari album sebelumnya, banyak yang seneng dan ngedengerin kami.&lt;br /&gt;BS 2: Mudah-mudahan RBTnya juga nambah, he he he..&lt;br /&gt;BS 1: Intinya kami ingin yang terbaik untuk masyarakat.&lt;br /&gt;BS 2: Kami juga akan fokus ngeband, karena rejeki kami mungkin di sini. Mudah-mudahan bisa semakin sukses!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ps. setelah wawancara ini, saya mengadakan photosession. tapi yang terjadi adalah kamera saya tiba-tiba error #99! wah! sial bener, jadi lupa deh mau foto bareng, ha ha ha :D &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-2779191724222248136?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/2779191724222248136/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/saya-dan-sebuah-band-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/2779191724222248136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/2779191724222248136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/saya-dan-sebuah-band-2.html' title='saya dan sebuah band #2'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-2006319469205996428</id><published>2010-07-20T21:47:00.001+07:00</published><updated>2010-12-31T12:58:15.738+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='human'/><title type='text'>saya dan sebuah band #1</title><content type='html'>Band-band di Indonesia muncul kayak musim durian. Baunya menyengat di mana-mana, tapi bikin pekak telinga. Band-band masa kini lebih horor ketimbang suara setan sekalipun, mereka mengintimidasi untuk memaksa kita mendengarkan lagu mereka di mal maupun di kafe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya anti, tapi memang begitu kenyataannya. Saya bosan dengan band-band yang sepertinya monoton, musik yang sama, formasi yang sama, tema lirik sama, dan gaya sok ngartis yang sama. Mungkin ini juga sudah sering dibahas di berbagai media, tetapi kok masih nggak tahu diri juga ya? Tetap saja banyak yang bikin sampah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini, saya mewawancarai sebuah band yang sedang naik daun, meski belum begitu terkenal, tetapi mereka ini sudah punya fanbase di mana-mana. Yang jelas, lama kelamaan band ini akan menjadi band saingan band-band sebelumnya, yang punya lagu pop melayu menye-menye. Dan tipically, band-band yang pernah saya wawancara memiliki jawaban yang serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya pernah membaca sebuah artikel seorang mbak-mbak yang menyatakan bahwa reporter musik punya template pertanyaan setiap kali mewawancarai seorang musisi. Kebetulan mbak-mbak ini juga musisi. Nah, menurut saya, musisi juga punya template jawaban, karena kalau dia beda menjawab pasti akan lain hasil tulisannya, dan tidak valid dong. Yang salah, ya dua-duanya nggak kreatif! Termasuk juga saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pasti selalu bertanya: “Apa harapan kamu/kalian dengan karya kalian yang terbaru ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pasti dijawab: “Ya, harapan kami supaya karya kami ini bisa diterima di masyarakat, bla bla bla.” (Yang jawabannya saya sudah pernah dengar sebelumnya dari band/musisi yang berbeda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa penasaran dengan pertanyaan saya ini, karena jawaban yang saya dapatkan adalah sama, hampir semua band/musisi yang saya temui menjawab dengan hal yang sama. Eh, pernah satu kali wawancara artis indie Jogja, jawabannya cukup kreatif, paling tidak saya bersyukur mereka tidak menjawab hal yang demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jawaban yang monoton dengan pertanyaan yang monoton itu pula, menunjukkan bahwa industri musik Indonesia memang monoton. Saya sih bisa saja ganti pertanyaan, tidak menanyakan harapan, menanyakan hal-hal lain. Masa lain band tetapi jawabannya sama? Tapi apakah mereka juga bisa ganti jawaban ketika saya menanyakan hal yang sama? Saya tidak yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ps. kalau ada anak band, musisi yang baca tulisan ini, siap-siap menjawab dengan hal-hal yang kreatif, sebab reporter juga punya template pertanyaan, agar jawabannya nggak seragam. kalau mau bukti, bandingkan saja artikel-artikel di media yang mengulas soal musik yang dibawakan oleh anak band, terutama. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-2006319469205996428?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/2006319469205996428/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/saya-dan-sebuah-band-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/2006319469205996428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/2006319469205996428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/saya-dan-sebuah-band-1.html' title='saya dan sebuah band #1'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-5566113067917350731</id><published>2010-07-20T21:46:00.001+07:00</published><updated>2010-12-31T12:58:34.751+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='human'/><title type='text'>yang meraba yang harmonis</title><content type='html'>Rabu (3/2) lalu saya mengunjungi sebuah acara di salah satu lembaga bahasa di Jogja. Saya tidak tahu kalau itu adalah sebuah acara difabel dari NGO dan universitas di Jogja. Sepertinya menarik, karena saya memang belum pernah hadir dan bertemu langsung dengan anak-anak difabel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya duduk manis di dalam auditorium dan menunggu acara dimulai. Seorang tuna netra dan temannya yang bermata awas menjadi MC pada malam hari itu. Dengan semangat dia mulai berceloteh tentang ketidakmampuannya yang sama sekali tidak menghalanginya untuk melanjutkan kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, satu persatu acara pun digelar. Acara yang pertama merupakan band dengan 4 personel yang kesemuanya tuna netra. Bahkan saya sendiri tidak bisa main musik! Sebuah lagu dari sebuah band Indonesia, melantun harmonis dari petikan gitar Fikri, keyboard Tri, bass Arif dan sang vokalis Fuad, begitulah sapaan band ini. Kaku tapi apik. Meraba tapi harmonis. Terus terang saja saya terharu, apalagi mereka tidak mengeluh dengan ketidakmampuan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai mereka pentas di panggung sederhana itu, saya sempat menemui beberapa orang dari mereka, Tri dan Fikri. Sekadar menyapa dan mengobrol saja. Mereka bercerita keseharian mereka yang seperti tanpa beban. Sesekali mereka bercerita tentang hal-hal yang lucu dan membuat mereka tertawa. Bahkan seringkali mereka menertawakan kebutaan mereka ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Wong yo ira iso ndelok kok,” begitulah kata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awalnya sakit juga banyak orang yang menganggap kita beda. Banyak yang mau tanya tapi takut nyinggung, jadi kalau ketemu kita itu diam saja, justru ketika mereka diam, kita yang merasa tersinggung, he he he,” kata Tri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga tidak pernah merasa kesulitan meskipun setiap hari bolak-balik asrama ke kampus dengan menggunakan bus umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, nggak perlu nyetop, bisnya kan bisa berhenti sendiri,” kelakar Fikri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Tri pun menunjukkan caranya bagaimana mengoperasikan handphonenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nama programnya Jaws, jadi kayak ada yang bacain,” kata Tri yang mencontohkan program ini tetapi dengan suara orang yang berbicara cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah kecepatan ya? Saya lambatin dulu,” kata Tri sehingga suara yang keluar dari handphonenya pun normal dan bisa didengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Tri selalu mendengarkan secepat itu ya? Sepertinya begitu, karena kalau mendengar dalam suara normal, hanya akan membuang waktu saja. Berarti ia punya telinga yang terlatih untuk mendengar secara cepat. Program ini Tri gunakan untuk ‘membaca’ SMS dan melihat siapa yang meneleponnya. Ia juga menggunakannya untuk membaca bacaan kuliahnya di komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, nama band mereka adalah RAMY 17 (Pitulas), yang merupakan kependekan dari Reglet and Music Youngsters. Mungkin orang awam asing mendengar kata ‘reglet’. Reglet merupakan salah satu alat bantu untuk menulis huruf Braille. Alat ini berfungsi untuk meletakkan kertas yang akan ditulisi dan diciptakan untuk memenuhi kebutuhan tulis tuna netra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ps. sukses selalu untuk mereka yang mau berusaha! &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-5566113067917350731?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/5566113067917350731/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/yang-meraba-yang-harmonis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/5566113067917350731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/5566113067917350731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/yang-meraba-yang-harmonis.html' title='yang meraba yang harmonis'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-8071511560417738146</id><published>2010-07-20T21:43:00.001+07:00</published><updated>2010-12-31T12:58:52.223+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>rumah dara: enaknya daging manusia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW2liWFa5I/AAAAAAAAAA4/s2BcE4x7biU/s1600/dara.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 266px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495999676266408850" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW2liWFa5I/AAAAAAAAAA4/s2BcE4x7biU/s400/dara.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berenam, dengan satu bayi dalam kandungan, dan mereka cocok untuk dijadikan sajian yang lezat untuk makan malam. Mungkin begitu pikiran Dara (Shareefa Daanish) pada malam hari yang mencekam itu. Kemudian ia menitahkan anaknya, Maya (Imelda Therine) untuk pura-pura dirampok di tengah jalan. Maka, kelompok ini langsung mengantarkan Maya ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah dia rumah Dara. Perempuan anggun dengan logat yang sedikit aneh namun terkesan misterius. Sebagai rasa terima kasih Dara telah mengantarkan anaknya pulang, para tamu itu pun dipersilakan untuk makan malam. Di situlah semua tokoh tampak, ada keluarga Dara yang terdiri dari Maya, Adam (Arifin Putra), dan Arman (Ruli Lubis). Para tamu tersebut adalah Ladya (Julie Estelle), Alam (Michael Lucock), Jimmy (Daniel Mananta), dan Eko (Dendi Subangil). Adjie (Ario Bayu) dan Astrid (Sigi Wimala) kebetulan tidak ikut di meja makan itu, mereka memilih ke kamar tamu karena lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perkenalan tokoh cukup sampai di meja makan itu. Dengan sengaja Dara memberi minuman yang membuat mereka tak sadarkan diri. Ladya, Alam dan Eko ketika sadarkan diri mereka telah berada di sebuah ruang yang bersebelahan dengan ruang jagal. Di situlah pertama kali Ladya melihat Alam dijagal dengan menggunakan gergaji mesin oleh Arman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tidak stress melihat teman mereka dijagal, diambil jeroannya, dan dibuang ke tempat sampah. Apalagi mereka dalam keadaan terikat dan menunggu giliran untuk dijagal pula. Ketika tiba giliran Ladya, ia pun dengan susah payah membuka ikatannya dan menggigit lidah Arman. Mulai dari situ, adegan darah dan kejar-kejaran tidak berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain tempat, Adjie dan Astrid tengah diburu oleh Dara dan Adam. Yang pada akhirnya Asrtid yang ketika itu sedang hamil tua melahirkan. Dara ingin mengambil anak Astrid, namun tidak dijelaskan untuk apa. Sedang Adjie dalam keadaan terikat dan tidak bisa menyelamatkan anaknya yang dibawa Dara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada harapan. Bahkan polisi pun datang hanya untuk setor nyawa. Ladya yang memiliki tingkat pertahanan hidup yang sangat tinggi satu-satunya yang tersisa. Ia berhasil melarikan diri bersama bayi Adjie dan Astrid, yang tidak lain adalah keponakannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, film ini tidak menjelaskan lebih lanjut kenapa Dara dan ketiga anaknya gemar membunuh orang. Hanya sekali jeroan manusia itu dijemput oleh mobil, seolah-olah jeroan manusia itu telah ada yang membutuhkan. Tetapi tampaknya Dara tidak begitu membutuhkan uang jika itu alasannya. Dara sendiri berusia lebih dari 100 tahun dan dia tetap awet muda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang masih menjadi pertanyaan dalam film ini. Namun, film ini sungguh menyajikan darah dan adegan potong memotong yang membuat ngilu hingga akhir. Mungkin bagi yang takut menonton film bergenre ini, akan meninggalkan bangku bioskop setelah setengah jam film diputar. Tapi tentunya tidak bisa melihat bagaimana Dara menikmati memotong tubuh manusia dan berkata, “Enak, kan?” dengan logatnya yang aneh itu. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-8071511560417738146?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/8071511560417738146/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/rumah-dara-enaknya-daging-manusia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/8071511560417738146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/8071511560417738146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/rumah-dara-enaknya-daging-manusia.html' title='rumah dara: enaknya daging manusia'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEW2liWFa5I/AAAAAAAAAA4/s2BcE4x7biU/s72-c/dara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-8741241399066420870</id><published>2010-07-20T21:41:00.001+07:00</published><updated>2010-12-31T12:59:08.372+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='human'/><title type='text'>sang puteri tidak bisa “buang air kecil”</title><content type='html'>Bertemu dengan publik figur memang tugas saya sekarang ini. Ini adalah kedua kalinya saya bertemu dengan sang puteri, setelah dia juga sempat ke Jogja ketika mendampingi puteri lainnya. Kali ini dia datang untuk jualan produk terbaru di Jogja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali bertemu sang puteri, dia tidak segemuk sekarang. Bukan apa-apa, kenapa dia tidak tahu diri ya? Sudah jadi puteri kok ya tetap subur aja? Badannya malah tampak seperti bass betot, bukan lagi gitar listrik (padahal model badan kayak gitar listrik dia juga belum pernah tuh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Padahal dia mengaku kalau dia fitnes dua kali seminggu, tetapi lemak di lengannya tidak hilang juga. Menggelambir seperti bendera ketika ia melambaikan tangan. I just wanted to say: jangan dadah doooongg, lengannya, mbaaaakkk. Diperhatikan lagi, lemaknya tidak hanya di lengan, ada juga yang bertambah di seputar pantat dan perut. Tetapi bukan ini sih yang sebenarnya saya ingin utarakan. Karena badan toh bisa dibentuk, tetapi behaviour dan brain (mungkin) adalah bawaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, si puteri ini bisa dibilang masih remaja. Mungkin dia juga belum lulus di kelas public speakingnya. Jadi harap maklum jika ngomongnya saja belepotan dan tidak nyambung. Waduh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi singkatnya, dia ini ditanya tentang resep kesehatannya selama ini oleh salah satu peserta dalam acara yang sedang ia hadiri. Karena kan jadwalnya padat setelah jadi puteri. Dia jawab, “Karena tubuh selalu mengeluarkan air, seperti keringat, pipis,… jadi saya rajin minum air putih,” ups! Ternyata sang puteri belum lulus pelajaran eufimisme!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, bagi sebagian orang (anak kecil), kata ‘pipis’ itu adalah bahasa yang halus. Tapi kalau di khalayak ramai? Saya kira kalimat ‘buang air kecil’ itu cukup sopan. Kenapa dia tidak bisa mengucapkan kalimat itu saja? Atau di pikirannya cuma ada pipis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bahasa, sang puteri ini juga krisis kepercayaan diri. Ketika berkesempatan bertemu secara langsung dengan para jurnalis, sang puteri sudah siap dengan bahasa tubuhnya yang tegap. Ternyata, dia ini sudah diatur baik gerak tubuh maupun jawaban-jawabannya. Ketika teman saya asik mewawancarai, saya malah melirik ke arah samping, seseorang menjadi pemandu gerak tubuh dan jawaban sang puteri! Jadi, ketika menjawab pertanyaan dari wartawan dia bisa menjawab dengan benar, tepat dan anggun. Namun, karena saya bergantian melirik ke arah sang puteri dan pemandunya itu, jadi seolah-olah jawaban tersebut tidak mengalir dari otak sang puteri. Kayaknya sang puteri grogi deh ditanyain sama kita-kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu, apakah puteri lainnya juga seperti itu. Tapi kejadian ini bukan pertama kali, karena saya pernah bertemu dengan puteri yang sebelumnya, dan omongannya juga nggak kalah ngawur, ehehehe. By the way, tidak semua kok! Saya juga pernah ketemu puteri yang tidak hanya berotak, tetapi juga cantik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ps. mungkin saya sedang iri ketika menulis ini, karena saya sering kalah sebelum mendaftar ajang putri-putrian. sehingga saya iri karena saya merasa saya lebih pintar dan badan saya lebih kurus (meski tidak tinggi) tapi tidak diterima, hahaha. jadi maaf jika ada yang tersinggung atau marah, just kidding kok! hehehe… &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-8741241399066420870?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/8741241399066420870/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/sang-puteri-tidak-bisa-buang-air-kecil.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/8741241399066420870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/8741241399066420870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/sang-puteri-tidak-bisa-buang-air-kecil.html' title='sang puteri tidak bisa “buang air kecil”'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-3131239253589920944</id><published>2010-07-20T21:32:00.002+07:00</published><updated>2010-12-31T12:59:28.229+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='human'/><title type='text'>Jamming Ala Butet Kertaradjasa</title><content type='html'>“Tolong liput Butet kena serangan jantung ya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh no! Begitu saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah liputan pertama saya tentang orang sakit. Hari Senin (25/1) Om Butet dikabarkan masuk rumah sakit. Saya tidak tahu itu. Baru hari Rabunya (27/1) saya ditugaskan untuk meliput beliau karena beliau dipindahkan dari rumah sakit sebelumnya ke rumah sakit yang lebih lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ini wartawan hiburan. Meliput hal-hal yang sifatnya menghibur saja. Maklum, halaman saya adalah Show and Selebritis, dan tentu saja segala macam tentang publik figur pasti menjadi bagian saya. Ya, Om Butet tentu saja publik figur, dan dia sedang sakit, dan tentu saja saya harus meliputnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Akhirnya saya ke rumah sakit yang dituju dengan berbagai macam perasaan. Nggak tega, tapi ini tuntutan pekerjaan. Maksud saya adalah, kalau pun saya ke rumah sakit, saya hanya ingin melihat keadaan aktor monolog ini. Bukan untuk mengorek berita yang macam-macam. Jadilah saya ketemu Om Butet saat terbaring di UGD sebelum pemasangan ring di pembuluh darah jantungnya. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cuma tanya, “Gimana rasanya, Om?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia cuma jawab, “Rasanya jamming, bung!” (ini adalah tagline Biennale Jogja X “Jogja Jamming”, kebetulan ia juga direkturnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, begitulah Om Butet, selalu bergurau dengan siapa saja dan dalam keadaan apapun. Natural born to be a comedian! Saya pun tidak mengeluarkan buku kecil dan pena yang selalu saya bawa ke mana-mana. Niat saya hanya ingin menjenguk Om Butet, jadi apa saja yang diucapkannya saya catat di kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru berani mengeluarkan buku kecil dan pena saat wawancara dengan anaknya, Giras. Karena dia ngomong panjang, kalau saya nggak nyatet lupa semua deh! Om Butet akan dipasang cincin di pembuluh darah jantungnya, karena mengalami penyempitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini saya terima sms lagi: tolong liput Butet pasca operasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yak! Dengan hati tidak tega, tapi mau tidak mau karena ini tuntutan pekerjaan, saya berjuang mencari teman untuk menjenguk eh meliput Om Butet. Duh! Kalau ada yang mau gantiin, saya bersedia. Mending saya liputan artis jaman sekarang yang kalau ditanya jawabannya hampir sama semua itu deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ps: untuk Om Butet, cepat sembuh dan guyonan teruuussss :) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-3131239253589920944?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/3131239253589920944/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/jamming-ala-butet-kertaradjasa_20.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/3131239253589920944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/3131239253589920944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/jamming-ala-butet-kertaradjasa_20.html' title='Jamming Ala Butet Kertaradjasa'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4676642895658595959.post-1387072458216144167</id><published>2010-07-16T17:43:00.001+07:00</published><updated>2010-12-31T12:59:47.249+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>the adventures of sharkboy and lavagirl: mimpilah yang baik, maka terjadilah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA4nS66HDI/AAAAAAAAAAw/auIvIaSBhIQ/s1600/sharkboy_lavagirl.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 304px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5494453793136974898" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA4nS66HDI/AAAAAAAAAAw/auIvIaSBhIQ/s400/sharkboy_lavagirl.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak sengaja menonton film ini. Waktu itu sedang nganggur di rumah dan tidak melakukan apa-apa. Maka menonton TV adalah satu-satunya pekerjaan saya. Dan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;The Adventures of Sharkboy and Lavagirl&lt;/span&gt; pun satu-satunya film yang ingin saya tonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya agak aneh melihat scenenya yang jadul dan sangat tidak masuk akal. Kalau Tarzan diasuh gorilla kemudian dia jadi hobi manjat pohon, nah si Sharkboy ini diasuh sama hiu ketika kapal yang dia tumpangi karam. Sharkboy jadi punya sirip, bisa bernapas di dalam air, dan punya gigi seperti hiu (yang tajam, namun kalau di wajah manusia jadi agak tonggos).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ini bukan film dengan imajinasi yang keterlaluan. Namanya juga film, &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;everything is possible&lt;/span&gt;. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang anak yang percaya bahwa Sharkboy (Taylor Lautner) dan Lavagirl (Taylor Dooley) adalah nyata, meski dalam imajinasinya. Nama anak itu Max (Cayden Boyd). Max adalah anak yang suka bermimpi dengan membuat dua tokoh itu dalam bukunya. Dunia impian Max adalah dunia yang khas anak-anak, banyak mainan dan juga makanan manis. Itu adalah dunia yang sempurna bagi Max, dia menamainya Planet Drool.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja bukunya tersebut mendapat cercaan dari teman kelasnya. Mana ada anak hiu dan anak lava? Siapa yang mau percaya kalau mereka eksis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mimpi Max yang ia tulis dalam bukunya tersebut begitu kuat sehingga Planet Drool itu nyata dan Lavagirl dan Sharkboy itu juga nyata. Namun, Planet Drool kedatangan tamu yang ingin menguasainya sendirian. Dan mereka harus melawan musuh mereka tersebut, agar impian Max kembali indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah ya, saya suka sekali penggambaran dalam Planet Drool, khas anak-anak. Kalau banyak hal-hal kejam itu justru salah. Dalam bayangan Max, Planet Drool itu sangat indah, bukan indah pemandangan, tetapi planet yang diciptakan untuk bermain dan makan sepuasnya. Ada mainan yang asik di sana, ada es krim raksasa juga di sana. Tetapi Max tidak bisa bermimpi yang indah jika ia tidak tidur. Maka perlawanan ini unik, sementara Lavagirl dan Sharkboy adu aksi, Max justru tidur karena dia harus mimpi yang indah agar Planet Drool kembali indah. Jadi apa yang diimpikan Max, pasti terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu berawal dari mimpi. Itulah yang bisa saya ambil dalam film ini dan itu menohok saya. Karena saya sering bermimpi, tapi tidak sekuat Max sehingga impian saya tidak ada yang terwujud. Max punya keinginan dan impian yang kuat, maka mimpinya terwujud. Saya? Mungkin saya kebanyakan mimpi! Tapi kurang usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin impian saya itu terlalu tinggi sehingga saya tidak punya tangga untuk meraihnya. Sebentar saya ingin bermimpi dulu, dan mudah-mudahan mimpi saya kali ini bisa terwujud. Doakan saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ps. "so dream a better dream, then work to make it real," adalah kata-kata Max yang saya ingat dan sampai sekarang masih saya jadikan tagline untuk saya sendiri. :) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4676642895658595959-1387072458216144167?l=safaribumi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://safaribumi.blogspot.com/feeds/1387072458216144167/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/adventures-of-sharkboy-and-lavagirl.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/1387072458216144167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4676642895658595959/posts/default/1387072458216144167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://safaribumi.blogspot.com/2010/07/adventures-of-sharkboy-and-lavagirl.html' title='the adventures of sharkboy and lavagirl: mimpilah yang baik, maka terjadilah'/><author><name>Fian Khairunnisa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11612449376487791070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA28336KjI/AAAAAAAAAAM/AVZ6aU0La3U/S220/7633_1206482053071_1559267655_531817_4691873_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U2J49bapobg/TEA4nS66HDI/AAAAAAAAAAw/auIvIaSBhIQ/s72-c/sharkboy_lavagirl.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
